Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
Part 6


Matahari menyeruak masuk menembus tirai kamar Gadis. Tubuhnya menggeliat terkena terpaan sinar matahari. Gadis tidur di kamarnya sendiri, begitu juga dengan Bagas, mereka tidur di kamar masing-masing. Tidak ada aktifitas malam, karena kemarin sore mereka sudah melakukannya.


Gadis masih terlihat malas untuk bangun, kembali selimutnya ditarik hingga menutupi semua tubuhnya. Gadis tidak sadar kalau Bagas sudah siap ke kantor. Setelah siap Bagas keluar kamar menuju ruang makan, tak ada orang di sana. Bagas menatap kamar Gadis yang masih terkunci rapat, ditaruhnya tas kerja di sofa dan beranjak naik.


"Tumben jam segini belum bangun, apa dia sakit?" batinnya. Bagas perlahan menarik knop pintu kamar Gadis.


Diraihnya selimut yang membalut tubuh mungil milik Gadis, jantungnya berdesir aneh saat melihat tubuh mulus berbalut lingerie yang ia koleksi di almari kamarnya. Bagas menelan salivanya dengan susah payah. Dia bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air, setelah kembali dicipratkannya air itu ke wajah Gadis.


"Ciaat...ciaaatt..." teriak Gadis tanpa sadar.


"Bangun! Jangan kebanyakan nonton film laga makanya, bukannya nyiapin keperluan suami malah masih enak molor. bangun, mandi dan temani aku sarapan," titah Bagas.


"I-iya Tuan." Dengan cepat Gadis bangun lalu menuju kamar mandi." Gobloknya aku, untung air segelas ngga di siramin semua, sudahlah ini salahku, udah bangun malah tidur lagi."


Dengan cepat Gadis mandi, lalu memakai baju dan bergegas turun ke ruang makan. Di sana Bagas masih duduk menunggu Gadis untuk mengambilkan nasi dan lauknya. Gadis merasa gugup saat Bagas terus memperhatikannya.


"Kenapa? Takut?" tanya Bagas dengan nada mencibir.


Gadis menggeleng." Takut sama kamu yang mirip hantu." umpatnya dalam hati.


"Temenin aku sampai selesai makan, baru kamu makan. Kamu tahu kan tugas kamu seperti apa."


"Iya, Tuan...melayani Tuan dari pagi sampai malam menjelang tidur."


"Siipp, udah paham kan?!"


"Iya, Tuan." jawab Gadis sambil menunduk. " Dasar sontoloyo, kenapa ngga cari pembantu aja biar kamu dilayani dari pagi sampai pagi, masa istri dijadikan pembantu suruh ngawasi orang makan sama ora kerja tiap malam. Brengsek kamu Bagas, sabar Gadis enam bulan tidaklah lama, aku bakal kabur dan menghilang dari kehidupanmu, jauh dan jauuuhh." Gadis berusaha menenangkan dirinya sendiri.


Selesai sarapan pagi, Bagas keluar menuju pintu utama. Seperti biasa Gadis membereskan meja makan yang berantakan. Dia harus buru-buru keluar mengantar suaminya sampai naik mobil.


"Cuci piringnya nanti aja, takut Bagas ngamuk." Gadis keluar sembari mengambil tas kerja yang Bagas letakan di sofa.


"Gadis!! Mana tas kerjaku, cepat antar kesini...tahu ngga sih kalau ini udah siang."


"I-iya, sebentar..." sahut Gadis sambil berjalan setengah berlari.


"Apa susahnya sih keluar sambil bawa tas kerja, apa-apa harus aku, mentang-mentang aku udah dibeli semua aku yang ngurusin," ucap Gadis dengan kesal.


"Kenapa kamu, ngga mau ambilin tas? Terpaksa melakukannya?" Bagas merebut tas kerja yang masih berada di tangan Gadis.


"Ngga kok, ikhlas banget bawa tasnya, maaf terlambat Tuan." Gadis membungkukan badan.


Mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah menuju kantor. Dengan gembira Gadis berlarian bebas masuk ke dalam. Setelah membereskan perabot dapur, Gadis pun menyempatkan waktu untuk olahraga ringan di sekitaran rumah.


"Non Gadis, itu ada Nyonya besar kesini..." seru bi Ipah yang memanggilnya dari kejauhan.


"Nyonya besar? Oh, iya bi...sebentar." jawab Gadis sembari berjalan menuju tempat yang bi Ipah tunjukan.


"Tumben Mami main kesini, ada apa ya..." Gadis terus melangkah keluar.


Di lihatnya Nurlita Mami Bagas yang sedang duduk di teras rumah. Gadis mendekati ibu mertuanya dan mencium kedua tangannya.


"Ngga usah di sini aja, habis ngapain kamu, olahraga?"


"Iya, Mam...tadi habis nata bunga di samping, lanjut olahraga Mam. Aku bikinin minum dulu ya, Mami mau minum apa?"


"Apa aja deh, terserah kamu."


Gadis bergegas masuk ke dalam, Nurlita menatap kepergian sang menantu masuk. Perlahan dia menarik nafas panjang, menantu seperti Gadis lah yang ia inginkan. Tetapi Bagas sangat mencintai Delia, dia mengikuti apa yang jadi keputusan putranya.


Gadis hanyalah menantu sementara, Nurlita tidak ingin jatuh hati kepada sang menantu, takut sakit saat ditinggal pergi nanti. Gadis keluar dengan membawa nampan berisi minuman. Dia menarik kursi duduk di samping ibu mertuanya, dia memegang tangan ibunya untuk menenangkan. Gadis tahu kalau ibu mertuanya sedan gelisah, hanya saja dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.


"Gadis...kamu anak yang baik, anak yang berbakti...tapi nasib baik belum berpihak kepadamu, Nak...yang sabar ya, semoga akan ada bahagia setelah ini. Mami ngga tahu, kalau rumah tangga Bagas akan seperti ini. Apa dia sering berbuat kasar sama kamu?" Nurlita mengusap rambut Gadis dengan tatapan sayu.


"Mami...kenapa tanya seperti itu, Mas Bagas baik kok, dia tidak pernah berbuat kasar, dia sayang kok sama Gadis, suer," Gadis mengangkat kedua jarinya.


"Benarkah? Syukurlah kalau Bagas sayang sama kamu..." Nurlita menatap Gadis bahagia, kumudian memeluknya erat. Keduanya pun saling berpelukan.


Ini bukanlah drama, Gadis hanya ingin membuat Nurlita bahagia. Dia tidak mungkin mengatakan sebenarnya, karena Gadis tahu jawaban apa yang ingin Nurlita dengar. Gadis tidak mau menjelekkan Bagas di mata maminya, dia ingin melihat maminya bahagia.


"Mami udh makan? Kalau belum nanti aku masakin dan kita makan siang bersama, gimana?" Gadis mengerlingkan matanya dan beranjak bangun dari tempat duduknya.


"Boleh, emang kamu bisa masak?"


"Bisa dong, Mam...masa anak perempuan ngga bisa masak." Gadis mengajak Nurlita untuk masuk ke dalam.


Keduanya langsung menuju dapur, dan mengeluarkan bahan-bahannya dari dalam kulkas. Mereka kompak untuk memasak menu makan siang bersama. Nurlita merasakan kedekatan yang berbeda dengan Delia, Gadis seperti anaknya sendiri, tidak ada canggung di antara mereka. Nurlita terlihat bahagia memasak di dapur bersama menantunya.


"Akhirnya selesai juga masakannya, ayo Mam kita bawa ke meja makan, kita makan siang bersama hari ini. Mami mau nginap di sini?"


"Ngga, lah...rumah kamu kecil, Mami pulang aja nanti sore."


"Kan masih ada kamar satu lagi yang masih kosong, sekali-kali Mami tidur di sini, kita bisa nonton televisi bareng, baca majalah bareng atau ngobrol tentang rumah tangga kan bisa. Ajarin Gadis supaya bisa jadi istri dan menantu yang baik, Mam..."


Nurlita hanya tersenyum mendengarnya. Mereka pun menikmati makan siang bersama. Hari ini Nurlita terlihat beda dari biasanya, dia terlihat bahagia. Suara mobil berhenti di halaman rumah Gadis, nampak Bagas keluar dari dalam mobil dan bergegas masuk.


"Kapan Mami kesini, kok ngga kabar-kabar dulu, atau paling tidak minta diantar jangan nyetir sendiri Mam, bahaya." Bagas memberi peringatan kepada Nurlita karena khawatir.


"Ngga papa, itung-itung olahraga, tadi Mami masak bareng sama Gadis, ternyata dia pinter masak ya...Mami bakaln sering main kesini nanti."


Ucapan Nurlita membuat Gadis tersipu. Bagas menatap keduanya bergantian. Dia melihat pancaran kebahagiaan dari Nurlita yang jarang sekali Bagas dapatkan.


"Gadis mampu membuat mata Mami berbinar bahagia, apa yang telah mereka lakukan di rumah ini."


Bagas terdiam, dia mencoba mencari tahu kenapa Nurlita terlihat sebahagia ini.


******


Bersambung...