
Tak mengerti maksud dari suaminya, Gadis pun bersikap seperti biasa. Bagas yang sudah selesai mandi pun duduk di sofa, melirik ke arah Gadis yang sedang asyik menonton televisi. Emosinya mulai terpancing saat keinginannya tak juga di pahami oleh istrinya. Bukan salah Gadis, dia memang tidak tahu maksud kepulangan Bagas yang lebih awal dari biasanya.
Tidak mungkin seorang Bagas merengek minta jatah bathin dari Gadis. "Ngga mungkin banget kalau aku pulang karena kepengin, tapi kalau aku minta sama dia gengsi lah." ucapnya dalam hati.
Bagas berdehem dan berjalan mendekati Gadis yang berada di tempat tidur." He-em, tolong pijitin kaki sama badanku," ucapnya setengah memerintah.
"Ba-baik, Tuan.." Gadis mematikan televisi yang sedang ia tonton. Dia menggeser tubuhnya saat Bagas naik ke tempat tidur. Lingerie yang ia pakai tersingkap dan memperlihatkan kulit tubuhnya yang mulus. Pakaian yang Bagas siapkan di almarinya memang banyak lingerie ketimbang pakaian untuk bepergian.
Bagas merebahkan tubuhnya pelan di tempat tidur, dia berusaha untuk menghapus apa yang barusan dilihatnya. Dia berusaha menahan dulu keinginannya untuk segera melancarkan aksinya.
"Bagian kaki kamu pijit dulu, yang enak, habis itu naik ke atas!" titahnya.
"Iya, Tuan." Gadis mulai memijit perlahan kaki suaminya, dengan agak gemetar karena takut. Sesekali dia melirik ke arah Bagas, ingin tahu apa yang sedang suaminya lakukan.
"Apa kamu lihat-lihat, kagum lihat orang ganteng sepertiku! Tugas kamu melayaniku dari pagi hingga malam sampai aku tertidur," bentak Bagas.
"Iya, Tuan...saya mengerti, saya akan melayani apa yang Tuan perintahkan dan inginkan," sahut Gadis dengan kepala menunduk.
"Ya, sudah kamu layani aja keinginanku, ngga usah larak-lirik," balasnya lagi.
"Dasar! Laki-laki egois, penginnya menang sendiri, kalau dia ngga sedang memperhatikanku ngga mungkin dia tahu kalau aku meliriknya, munafik banget jadi orang." umpatnya sambil terus memijit kaki suaminya.
Bagas memejamkan mata menikmati setiap sentuhan tangan Gadis yang terasa enak. Gadis patuh dengan apa yang suaminya perintahkan, dia sadar kalau dirinya hanyalah istri penebus hutang. Setelah beberapa menit pijitannya terdengar suara dengkuran Bagas yang semakin keras.
"Dia tidur, ternyata dia memang kecapean...padahal hari sudah sore, giman kalau tidurnya sampai malam nanti," Gadis mengernyitkan dahi.
Keinginan Bagas pulang lebih awal untuk melampiaskan syahwatnya pun luntur saat menikmati pijitan jemari milik Gadis. Seperti tersihir, Bagas tertidur sangat lelap. Gadis beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas masuk ke kamar mandi.
Selesai mandi, Gadis keluar dan segera mengambil baju di almari. Dia menyelinap keluar takut suaminya bangun dari tidurnya. Ternyata prediksi Gadis salah, Bagas terbangun saat mencium aroma tubuhnya sehabis mandi.
"Sialan! Aroma tubuhnya mampu membangunkan aku, bahkan juniorku mendadak tegang begini. Aku ngga mau seolah butuh dia banget, tapi gimana caraku meminta..." Bagas berfikir sejenak untuk mencari cara.
"Kamu tahu tugas seorang istri?" tanya Bagas.
"Iya, Tuan....saya harus melayani apa yang suami inginkan." jawab Gadis tak berani menatap suaminya.
"Naik ke tempat tidur, layani aku!"
Gadis segera memakai baju yang ia pilih, aktfitasnya mendadak berhenti saat Bagas mengulangi perintahnya.
"Naik ke tempat tidur, dan layani aku, kenapa kamu malah memakai baju, hmm." Bagas mulai geram dengan respon dari Gadis.
"Ma-maksud Tuan saya harus melayani Tuan seperti semalam?" Jawab Gadis terbata.
"Ya, iyalah masa di tempat tidur minta dilayani makan," sahutnya ketus. "Dasar gadis bodoh," lanjutnya dalam hati.
Gadis merangkak naik ke tempat tidur dengan tubuh polos tanpa kain menutupi tubuh mulusnya. Gadis berusaha menutupi aset penting yang dia miliki dengan tangan menyilang di deooan dadanya. Bagas memperhatikanya, dengan susah payah dia menelan salivanya karena tak kuasa menyaksikan tubuh mulus milik Gadis.
"Kenapa setiap aku menatap tubuhnya jadi ke bayang permainanya semalam, padahal aku main tanpa perasaan apapun." pikir Bagas dalam hati.
Tak mampu menahan gejolak yang sudah mendera dari dia di kantor, Bagas pun menyergap bibir ranum yang ada di hadapannya. Gadis pasrah tak mampu melawan suaminya, karena ini memang kewajibannya untuk melayani suaminya. Gadis juga tidak mau melibatkan hati saat melayani suaminya, dia hanya berfikir ini adalah tugasnya selama jadi istri Bagas.
Bagas menikmati permainannya sendiri walaupun istrinya tidak begitu merespon permainannya.
Setelah Bagas mengakhiri permainannya dia berbaring membelakangi tubuh istrinya. Dia terlihat lebih rilex setelah menyalurkan hasratnya. Gadis menarik selimut tebal yang ada di ranjang king size itu untuk menutupi tubuhnya.
"Inikah yang di namakan sebuah pernikahan? Tak pernah terlintas dalam pikiranku, kalau nasibku akan seperti ini. Yang ku bayangkan, menikah dengan seseorang yang aku cintai dan menikmati malam pertama dengan romantis." Gadis menyeka air matanya yang meluncur dari sudut netranya. Tanpa isak tangid, dis menahannya sekuat mungkin supaya usak tangisnya tak keluar.
Bagas beranjak dari tempat tidur," Kamu ngga laper? Hari udah menjelang malam, turun dan makan dulu sana," ucap Bagas sembari berjalan menuju kamar mandi.
Gadis hanya menjawab dengan gumaman." Hmmm..."
Beberapa menit kemudian Bagas keluar dengan rambut yang masih basah, ganteng memang tapi tak ada niat Gadis untuk merebut dan mengharap hati suaminya. Dia tahu posisinya, hanya sebatas istri simpanan penebus hutang orangtuanya.
Setelah memakai baju, Bagas bergegas keluar dari kamarnya. Gadis pun beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah pergulatannya beberapa menit lalu dengan suaminya.
Tidak lama kemudian, Gadis menyusul keluar turun menuruni anak tangga menuju ruang makan. Di sana sudah ada Bagas yang sedang lahap menikmati menu yang tersaji di meja makan. Gadis mendekat dan menarik kursi untuk duduk, dia mengambil nasi dan beberapa lauk lalu menikmatinya. Perutnya yang terasa lapar pun meminta segera di isi. Tak ada kalimat apapun keluar dari mulut mereka, hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring.
Ritual makan pun selesai, Gadis segera membereskan meja makan dan mencuci perabot yang kotor. Bagas bergegas keluar menuju ruang tengah.
"Mau kemana kamu?" tanya Bagas yang melihat tubuh mungil Gadis menyelinap hendak menaiki tangga.
"Mau ke kamar, Tuan..."jawabnya menunduk.
"Duduk sini!" titah Bagas.
Gadis berjalan mendekati sofa yang di maksud oleh Bagas.
"Kamu sudah minum pil yang aku belikan waktu itu kan, aku ngga mau kamu hamil. Kamu harus meminumnya dengan rutin jangan sampai lupa, ingat itu!" ucap Bagas dengan nada mengancam.
"I-iya, Tuan...saya meminumnya seperti yang Tuan perintahkan tempo dulu," jawab Gadis yang tak berani menatap wajah suaminya.
"Bagus! Sekarang kamu boleh naik ke kamarmu, aku mau tidur di kamarku."
Bagas bergegas menuju kamarnya dan Gadis pun menaiki anak tangga menuju kamarnya yang terletak di lantai dua rumahnya.
*****
Bersambung...
Ditunggu kritik dan sarannya...π