
"Praangg!!" Gadis melempar sesuatu hingga pecah. Dia menangis pilu di dalam kamarnya. Dia tak bisa berfikir jernih bagaimana kalau Bagas tahu apa yang dia lakukan di kamar. Dengan tubuh lemah dia menjatuhkan badannya ke tempat tidur.
"Aku sadar, aku hanyalah istri sementara, setelah enam bulan nanti hutang ayahku dianggap lunas dan aku bebas dari cengkraman laki-laki itu. Aku tak menyangka mahkota yang aku jaga hanya dinikmati oleh laki-laki jahat seperti Bagas." Gadis menangis merutuki masibnya.
Setelah perlakuan Bagas semalem, membuat tubuh Gadis terasa pegal, apalagi di bagian bawahnya, buat jalan aja susah.
"Br***sek!! Permainan Bagas sungguh gila, aku yang baru merasakan ini semalam jadi ikutan gila, aneh...kenapa aku jadi mengikuti dan menikmati permainannya. Tidak!! Lain kali aku harus bisa mengendalikan diri, tugasku hanya melayani, aku jangan sampai terbuai oleh permainan konyol dia."
Tok tok tok...
Suara pintu diketuk dari luar, Gadis beranjak membukakan pintu kamarnya.
"Ada apa, Bi...apa Tuan menyuruh sesuatu yang harus aku kerjakan?" tanya Gadis yang masih berdiri di ambang pintu.
"Ngga, Non...kata Tuan, Non Gadis harus makan yang banyak biar sehat, itu di bawah udah siap sarapan paginya, susu nya harus di minum habis, dan Tuan akan pulang nanti sore seperti biasa," jelas Bi Ipah.
"Oh, ya sudah, nanti aku turun ke bawah...makasih ya Bi..."
"Sial**n si Bagas ini...emangnya aku binatang dikasih makan banyak dan bergizi tapi malemnya digenjot terus, kasar lagi permainannya. Dulu aku membayangkan menghabiskan malam pertama bersama suami tercinta dengan permainan yang lembut dan romantis, huuft...nasib berkata lain, dia bak singa yang setiap saat akan menerkamku di tempat tidur."
Gadis menyisir rambutnya di depan cermin, dia mandang tubuhnya dalam cermin.
"Kini kamu sudah tak ada artinya, kesucianmu telah direbut paksa oleh suami sementara, sedih takkan menyelesaikan masalahmu, kamu hanya menunggu waktu sampai usia pernikahan kamu enam bulan saja, Dis..." ucapnya menenangkan dirinya sendiri.
"Glek..." Gadis membuka pintu kamar dan turun dari kamarnya menuju ruang makan, di mana meja telah penuh dengan beberapa menu terhidang di sana."
"G*l*!! Aku suruh makan sebanyak ini?! Suami macam apa itu, mau bunuh aku karena kekenyangan, hahh!!" gerutu Gadis sambil menarik kursi untuk duduk.
Biarpun dalam hatinya menggerutu tapi Gadis makan lahap sekali, mungkin karena cape semalaman.
"Alhamdulillah...akhirnya kenyang juga, kata Bagas aku ngga boleh keluar rumah, lantas aku ngapain di rumah, bosan juga kalau harus di rumah terus. Aku pengin kuliah kaya teman-teman, ayah...kenapa ayah sampai terlilit hutang sama rentenir hanya untuk berjudi." kenangnya sedih.
Gadis menyeka air matanya, dia berusaha untuk kuat menjalani hari-harinya. Berharap ada secercah kebahagiaan setelah pernikahannya berakhir nanti.
Hampir seharian Gadis hanya bermain di rumah, dia merasa seperti anak kecil yang dikurung tidak boleh keluar rumah oleh ibunya. Kegiatannya hanya makan, tidur dan buka ponsel melihat informasi.
*****
Di Kantor.
"Hallo, sayang...lagi ngapain di sana? Udah makan belum, awas jangan sampai telat makan ntar, nanti kesehatan kamu menurun lho..." sapa Bagaskara yang sedang telepon Delia istrinya.
"Hmm, sayang...aku kangen nih..." sahut Delia dari sebrang sana.
"Kapan kamu pulang? Aku juga udah kangen sama cumbuanmu, kangen sama harum tubuhmu, sayang..."
Setelah mereka saling melepas kangen, panggilan telepon pun mereka akhiri. Bagas kembali melanjutkan pekerjaannya, perbincangan dengan Delia istrinya membuat Bagas tidak fokus bekerja, dia ingin segera melampiaskan hasratnya sama Gadis.
"Baru jam satu siang, masa jam segini pulang, malu juga sama Gadis, nanti dia kira aku begitu membutuhkannya, padahal...emang iya sih," ucapnya lirih.
"Masa bodo, yang penting hasratku tersalurkan, toh dia sudah aku beli, buat apa kalau cuma dianggurin begitu saja, emang dia lukisan hanya buat pajangan dalam rumah, enak banget dia."
Bagas menyambar jas yang ia simpan di belakang kursi kebesarannya. Bagas menarik knop pintu dan segera membukanya.
"Reihan, aku pulang dulu, ada urusan penting di rumah...tolong kamu handle dulu ya, kalau ada yang mendesak hubungi aku!" titah Bagas.
"Baik, pak...siap laksanakan!" Reihan menjawab dengan tegas atas apa yang diperintahkn oleh bosnya. Bagas bergegas keluar menuju lift yang ada di samping ruangannya.
"Tumben si Bos pulang lebih awal, biasanya sampai malam, sedang ada urusan apa di rumah ya, padahal istri ngga ada di rumah," celetuk Eti, salah satu karyawan yang hobbynya bikin gosip.
"Husst! Kamu ngga boleh bicara kaya gitu, gimana kalau dia denger bisa mampus Lo..." tukas Reihan.
"Ya, emang bener kan, En...emang aku salah ngomong." Eti mencebikkan bibirnya. Mario pun terdiam, karena apa yang dikatakan Eti barusan benar adanya.
"Udah, udah...jangan ngegosip terus, nanti pak bos marah kalau denger, bahkan bisa dipecat, kaya ngga tahu bos kita aja."
Eti melirik ke arah Eni memberikan kode, Eni pun tahu apa maksud temennya itu. Jarang sekali Bagas pulang di tengah jam kerjanya dan itu membuat beberapa karuwannya tanda tanya besar.
"Ah, sudahlah...ngapain juga ngurusi bos kutub itu, buang waktu aja...yang penting kan kita kerja dapet gaji," ucap Eti lirih.
Suara deru mobil berhenti di halaman rumah Gadis, Bagas segera keluar dan membuka pintu utama. "Ngapain ini orang pulang, padahal belum waktunya pulang kan..." ucap Gadis dalam hati yang kebetulan berada di ruang tengah.
"Ngapain bengong, suami pulang bukannya disambut malah dipelototin gitu, istri aneh! Kamu di sini bukan pajangan, jadi harus nglayani aku dari bangun tidur sampai aku tidur, katanya udah paham tapi masih bengong, nih bawa masuk!" Bagas melempar tas kerjanya ke arah Gadis. Gadis menangkap tas yang suaminya lempar barusan.
"I-iya...saya tahu, Tuan...maafkan saya atas keterlambatan saya dalam menyambut kepulangan Tuan." jawab Gadis sambil menundukan kepala.
Tabiat Bagas yang kasar, pasti membuat Gadis tidak akan merasa nyaman tinggal di situ. Nasib baik memang belum berpihak kepadanya.
"Dasar bodoh, masih ngga paham juga dengan apa kemauanku," batin Bagas."
"Apa Tuan mau makan siang, di rumah? tanya Gadis tak berani menatap suaminya yang masih duduk di ruang tengah.
"Ngga! Aku mau ke kamar, mau mandi cape badanku pegel. Siapkan perlengkapannya sekarang." titah Bagas sambil menaiki anak tangga, Gadis mengekor di belakangnya.
Setelah mereka berada di dalam kamar, Gadis segera ke kamar mandi untuk menyiapkan bathub, karena suaminya ingin maandi berendam. Dia juga menyiapkan baju dan yang lainnya.
Menikah muda dengan seseorang yang tidak ia cintai, bagai mimpi buruk saja. Dia hanya berharap semoga mimpi ini segera berakhir.
Barsambung...