Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
GPH 48


Langkah Nazura merasa ragu ketika hendak memasuki rumah yang sangat megah. Bahkan, rumah peninggalan kedua orang tuanya hanya seperti garasi di rumah mewah itu dan itu di mana lagi kalau bukan di rumah Rosa. 


Sebenarnya Nazura sejak awal tidak ingin ikut mengantar Rosa, tetapi Roger terus memaksa bahkan mengancam tidak akan ke rumah tersebut jika Nazura tidak ikut. Dengan terpaksa, Nazura pun ikut ke sana setelah Rosa mengiyakan. 


"Ini kamar kamu, Mas?" Tanya Nazura menatap kagum ketika memasuki sebuah kamar yang sangat luas dengan dekorasi yang elegan. Roger hanya mengangguk lalu berpamitan membersihkan diri, sedangkan Nazura duduk di sofa karena takut ketika hendak naik ke ranjang king size itu sendirian. 


Tanpa sadar Nazura ketiduran karena tubuhnya sangat lelah. Ia baru dipindah ke ranjang ketika Roger selesai membersihkan diri. Lalu Roger pun tidur di samping Nazura dan memeluk wanita itu dengan sangat erat. 


Sebenarnya Roger tidak ingin tidur di kamar itu lagi, kamar yang telah ditinggalkan beberapa tahun lalu. Namun, ia terpaksa. Semua demi Nazura agar wanita itu bisa tenang jika dirinya mulai berhubungan baik dengan Rosa. 


Keesokan paginya, Roger berangkat bekerja, sedangkan Nazura izin satu hari untuk menjaga Rosa. Ia merasa tidak tega jika harus meninggalkan Rosa sendirian dan hanya bersama pelayan. 


Namun, sepertinya keputusan Nazura adalah salah. Ia justru mendapat tatapan sengit dari Rosa yang terlihat sekali seperti tidak menerima keberadaannya. 


"Bukankah sudah kubilang. Kamu jangan pernah tinggal di sini. Aku tidak sudi!" omel Rosa. Menatap Nazura penuh kebencian, tetapi Nazura tetap mengulas senyumnya. 


"Maafkan saya, Nyonya. Semua agar Mas Roger mau menginap di sini. Saya janji setelah ini saya akan keluar dari rumah ini," Nazura berbicara sopan. 


"Baguslah. Aku tidak mau rumahku diinjak oleh wanita kampungan dan miskin sepertimu," cemooh Rosa tanpa perasaan. 


Namun, sekali lagi Nazura tidak terlihat marah. Ia justru mengembangkan senyumannya hingga membuat Rosa merasa makin kesal. 


"Lebih baik sekarang kamu pergi!" usir Rosa. 


"Baik, Nyonya. Semoga lekas sembuh." Nazura menunduk hormat dan berjalan pergi meninggalkan rumah mewah tersebut. 


Ia menghela napas panjang dan mengembuskan secara kasar ketika merasakan dadanya begitu sesak. Di depan Rosa ia tidak mau terlihat terluka apalagi lemah, tetapi ketika di belakang, hanya air mata Nazura yang bisa menjelaskan segalanya. 


"Na!" Nazura terkejut ketika menerima telepon dan langsung disambut dengan suara Devi yang melengking seperti hendak memecahkan gendang telinga.


"Astaga, Dev. Kamu yang benar saja. Jangan teriak-teriak, aku belum budek." Nazura menjawab kesal. Ia pun makin merasa  dongkol ketika mendengar suara tawa Devi yang seolah sedang mengejeknya. 


"Maafkan aku, Na. Em, aku mau mengajak kamu jalan-jalan ke Jogja, mau tidak?" 


"Hari ini. Nanti jam sebelas berangkat. Kita nanti sekitar seminggu di sana," ucap Devi membuat Nazura mengerutkan keningnya. 


"Pengen si, tapi lama sekali, Dev. Aku belum bilang Mas Roger." 


"Tidak usah bilang. Aku yakin pasti kamu akan dilarang kalau sampai bilang," suruh Devi mengompori. 


"Kamu yang benar saja. Aku tidak mau kena marah. Lagi pula, aku pun masih bekerja. Memangnya ada acara apa, sih?" tanya Nazura penasaran. 


"Nenekku masuk rumah sakit dan aku disuruh pulang. Tapi, entahlah aku tidak berani pulang sendirian. Jadi, maukah kamu menemaniku. Pliss." Devi begitu memohon. 


"Em, gimana ya, Dev." 


"Kalau kamu tidak bisa, tidak apa, Na. Aku—"


"Baiklah. Aku beberes dulu. Kebetulan aku butuh waktu untuk refreshing. Nanti aku izin libur lagi alias cuti." Nazura tergelak keras. 


"Terima kasih, Na. Kamu memang sahabat terbaikku. Setelah ini aku akan menjemputmu di depan apartemen." 


"Oke." 


Panggilan itu pun terputus. Nazura menatap layar ponsel disertai helaan napas panjang. 


Ia tahu jika pergi tanpa izin dari suaminya adalah sebuah kesalahan. Namun, Nazura juga butuh waktu untuk menyendiri dan membiarkan Roger agar bisa dekat dengan Rosa. Ia tidak mau menjadi pengganggu di antara mereka. 


Nazura pun bergegas masuk ke apartemen dan memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas sebelum akhirnya turun dan pergi bersama Devi. 


Maafkan aku, Mas. Aku tidak meminta izin kepadamu terlebih dahulu, tapi aku janji akan mengabarimu saat hampir sampai nanti. 


Nazura mendes*hkan napas secara kasar ke udara untuk sekadar mengurangi kegelisahan hatinya. Ia benar-benar tidak tenang, tetapi ia pun tidak ingin Roger curiga jika Rosa melarang dirinya tinggal di rumah mewah itu.