Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
GPH 39


Tubuh Nazura gemetar hebat ketika melihat sorot mata Rosa yang menajam kepadanya. Walaupun wanita itu masih terbaring lemah di ranjang, nyatanya masih mampu membuat nyali Nazura menciut. Tidak ingin bertatapan dengan Rosa, dengan segera Nazura berjongkok dan memunguti pecahan gelas yang masih berserakan di lantai. 


"Katakan padaku, untuk apa kamu datang ke sini? Apa kamu ingin membunuhku?" tukas Rosa. 


"Tidak, Nyonya. Saya hanya ingin menemani Anda," sahut Nazura tanpa menghentikan kegiatannya. 


"Cih! Kamu pikir aku percaya dengan sandiwaramu? Tidak akan!" Napas Rosa tersengal. 


Wanita itu merasakan sesak di dada karena marah-marah, sedangkan tubuhnya belum sembuh total. Nazura pun berhenti memunguti pecahan tersebut dan segera menekan tombol nurse untuk memanggil perawat. Selang beberapa saat, seorang dokter masuk bersama perawat dan juga dua pelayan yang bertugas menjaga Rosa. 


Kedua pelayan itu ketakutan ketika melihat dokter yang masuk dengan tergesa. Khawatir terjadi apa-apa dengan majikannya. 


"Lebih baik Anda banyak beristirahat, Nyonya. Jangan terlalu banyak pikiran." Dokter itu baru saja selesai memeriksa Rosa. 


"Usir wanita itu, Dok. Dia mau berbuat jahat padaku," perintah Rosa. Semua yang berada di sana pun segera mengalihkan pandangan ke arah Nazura yang sedang menunduk dalam. 


"Maaf, saya hanya ingin menemani Nyonya Rosa. Tidak ada sedikit pun niat untuk mencelakainya, kalau kalian tidak percaya, kalian bisa memantau saya dari CCTV," ucap Nazura memberanikan diri. 


"Kamu yakin ucapanmu bisa dipegang?" tanya Dokter menyelidik. Nazura mengangguk cepat lalu menyerahkan KTP untuk ditahan dan baru akan dikembalikan setelah Rosa bisa keluar dari rumah sakit. 


"Sudah puas kamu bisa berada di sini? Pintar sekali kamu bersandiwara sampai mendapatkan simpati," ujar Rosa kesal. Walaupun ia tidak setuju, tetapi masih menerima Nazura yang untuk tetap berada di sana. 


Bukannya membalas dengan ketus, Nazura justru tersenyum simpul dan membenarkan selimut sampai menutup dada. 


"Istirahatlah, Nyonya. Hari sudah malam. Semoga mimpi indah," ucap Nazura disertai senyuman yang begitu tulus. Membuat Rosa merasakan sebuah keanehan. Ia seperti luluh kepada wanita itu. 


"Pulanglah! Aku tidak mau kamu ada di sini," usir Rosa lagi. 


"Baiklah, kalau begitu saya mau pulang terlebih dahulu. Besok saya akan datang menjenguk lagi, Nyonya." Nazura sedikit membungkuk hormat lalu pergi dari sana. Meninggalkan Rosa bersama dua orang pelayan yang sedang duduk di sofa. 


Setelah Nazura pergi dari ruangan itu, selang beberapa saat Roger justru masuk. Lagi dan lagi, lelaki itu tidak bertemu dengan istrinya. Senyum Rosa tampak mengembang ketika melihat Roger sudah berdiri di sampingnya. 


"Syukurlah kamu datang ke sini. Mama pikir kamu tidak akan mau datang," kata Rosa semringah. 


"Aku hanya ingin melihat saja." Roger berpindah duduk ke sofa, sedangkan dua pelayan tadi langsung berdiri saat tuannya duduk di sana. 


"Tuan, barusan ada wanita yang datang ke sini," adu pelayan itu. 


"Biarkan saja, selama dia tidak menyakiti wanita itu maka aku tidak akan peduli," ujar Roger ketus.


"Tapi bagaimana kalau ternyata dia mau menyakiti mama karena mama pernah berbicara kasar kepadanya setelah mama tahu kalau dia adalah istrimu?" tanya Rosa. 


Roger justru tersentak ketika mendengar pertanyaan Rosa. "Istriku? Maksudnya?" 


"Kamu tidak mengenali istrimu sendiri yang dulu dijadikan penebus hutang kepadamu? Atau kalian sudah bercerai?" tanya Rosa semringah. 


Roger tidak peduli dan fokus pada ponselnya. Lalu menunjukkan foto Nazura kepada dua pelayan itu, dan setelah mereka mengangguk mengiyakan bahwa orang tersebut adalah Nazura, dengan gegas Roger pergi dari ruangan itu, tidak peduli meskipun Rosa memintanya untuk tetap tinggal. 


"Sialan!" umpat Roger kesal. Ia segera berlari ke pangkalan ojek yang terletak di seberang jalan lalu memintanya untuk mengikuti Nazura. 


Ternyata, motor tersebut berhenti di depan kosan Nazura. Roger pun mengamati dari jauh. Untuk melihat siapa lelaki yang mengantar Nazura barusan. Namun, ia sama sekali tidak mengenali lelaki itu. 


Dengan terburu Roger mendekat sebelum Nazura masuk karena orang tadi sudah pergi dari sana. Mendengar ada yang memanggil, Nazura pun berbalik, tapi ia tersentak ketika mengetahui ternyata Roger yang memanggilnya. Nazura hendak berlari masuk, tetapi Roger lebih cepat. Ia menarik tangan Nazura lalu memasukkan wanita tersebut ke dalam dekap eratnya. 


"Tu-Tuan," panggil Nazura terbata. 


"Izinkan aku memelukmu sebentar saja," ucap Roger lirih. Membuat Nazura yang barusan sedang berontak pun kini mulai diam. 


Nazura tidak tahu kenapa hatinya justru merasa tenang ketika Roger memeluknya seperti saat ini. Bahkan, rasanya ia ingin menangis. Namun, sekali lagi, ia tidak mau jika Roger mengetahui dirinya yang cengeng. 


"Kamu ke mana saja?" tanya Roger lembut. Ia menangkup wajah Nazura dan mengusap pipi wanita itu dengan penuh kelembutan hingga membuat Nazura terbuai. 


Akan tetapi, sepersekian detik selanjutnya, Nazura menepis tangan Roger dan memalingkan wajah untuk menghindari tatapan lelaki itu. 


"Pulanglah, Tuan!" suruh Nazura setengah membentak. 


"Kamu berani mengusirku?" Roger mulai terlihat kesal. Ia berusaha menyentuh wajah Nazura lagi, tetapi wanita itu justru menepis dengan cepat. 


"Tuan, biarkan saya hidup tenang tanpa kehadiran Anda. Kita sudah tidak terikat apa pun, bukan?" Nazura sama sekali belum berani menatap Roger. 


"Jangan lupa, Na. Kamu masih sah sebagai istriku," timpal Roger. Tidak mau kalah. 


"Tapi, Tuan ...." 


"Bukankah aku sudah mengatakan padamu bahwa sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikanmu. Ingat itu, Na! Aku tidak akan membiarkan kamu pergi dariku mulai sekarang." Suara Roger mulai meninggi. Sementara Nazura masih menunduk dalam. 


"Tuan, saya mohon dengan sangat. Tolong, ceraikan saya karena saya tidak ingin menyakiti siapa pun. Ada orang yang lebih berhak mendapatkan Anda," ucap Nazura lirih. Suaranya pun mulai bergetar karena menahan tangis. 


"Siapa? Katakan siapa yang lebih berhak? Jika kamu menjawab Soraya maka kamu salah besar! Dia bahkan sudah pergi ke luar negeri dan menyuruhku untuk mendapatkan cintamu," jelas Roger. 


Nazura mendongak. Menatap Roger yang juga sedang menatap ke arahnya. Nazura berusaha mencari kesungguhan dari sorot mata lelaki itu.


"Tuan ...." 


Ucapan Nazura tercekat di tenggorokan saat Roger tiba-tiba menarik dirinya, mendekapnya erat lalu mengecup bibir Nazura sekilas. Nazura tidak lagi berontak karena dirinya merasa luluh hanya dengan tatapan lelaki itu. 


"Na ... sekarang aku tidak mau gengsi lagi. Aku menyadari kalau ternyata sudah sejak lama aku ...." Roger menghentikan ucapannya sesaat untuk menghirup napas dalam. "Mencintaimu." 


"Ehem!"


Seseorang telah menganggu keromantisan itu.