Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
GPH 54


"Papa! Tunggu aku, Pa!" 


Teriakan Roger berhasil menghentikan langkah pria paruh baya tersebut. Ia berbalik dan tersentak saat melihat keberadaan Roger di sana. 


"Ro-Roger." Suara lelaki itu terdengar bergetar. "Ini beneran kamu, Nak?" 


Roger mengangguk lemah. Setelahnya, Bryan segera memeluk Roger sangat erat. Begitu pun Roger membalas pelukan lelaki tersebut. Bertahun-tahun terpisah membuat kedua orang itu saling melepas kerinduan meskipun hubungan mereka tidak terlalu dekat. 


"Apa yang Papa lakukan di sini? Bukankah Papa di luar negeri?" tanya Roger penasaran ketika pelukan itu baru saja terlepas. 


"Papa sudah sebulan di kampung. Papa baru saja kehilangan istri muda papa." Bryan menjawab lirih. 


"Jadi, kamu menikah lagi, Mas?" 


Suara Rosa berhasil membuat Bryan terperanjat kaget. Ia tidak menyangka jika ada Rosa di sana. 


"Ro-Rosa?" Suara Bryan terbata. Bahkan, lidahnya mendadak kelu begitu saja. 


"Mas, bukankah kita belum resmi bercerai dan kamu diam-diam menikah dengan wanita lain? Seharusnya kamu menceraikan aku dulu, Mas," kata Rosa. Setiap kalimat yang terucap menyiratkan kekecewaan yang teramat dalam.


Walaupun mereka tidak saling mencintai, tetapi Rosa tetap merasa kecewa atas apa yang dilakukan Bryan. 


"Kenapa? Kupikir kamu juga sudah menikah lagi karena kita berpisah cukup lama. Apa kamu tidak menikah dengan lelaki yang kamu cintai itu?" tanya Bryan. Ia pun terlihat sama kecewanya. 


"Tidak. Aku tidak pernah dekat dengan lelaki lain karena kita belum resmi bercerai, tapi aku tidak menyangka kalau kamu justru menikah lagi dan mengkhianati pernikahan kita," ucap Rosa. 


"Ros, seharusnya kamu sudah bisa berpikir sejak awal kalau hubungan kita tidaklah baik. Istriku baru saja meninggal satu bulan lalu dan aku masih mengurus semuanya yang belum selesai. Jadi, jangan menambah beban hidupku dengan sikapmu yang selalu menyalahkanku," kata Bryan tegas dan tidak mau kalah. 


"Pa, kenapa sekarang Papa tidak mencoba untuk memperbaiki hubungan dengan mama. Memperbaiki semuanya dan siapa tahu kalian memang masih berjodoh," cetus Roger. 


"Roger, papa tidak mungkin melakukan itu. Kami adalah dua hal yang tidak mungkin bisa disatukan seperti apa pun keadaannya. Lebih baik sekarang papa pamit dulu. Urusan papa belum selesai. Kamu jaga diri baik-baik." Bryan memeluk Roger sesaat sebelum akhirnya pergi dari sana. Meninggalkan mereka tanpa menoleh lagi. 


"Kamu mau ke mana, Na?" tanya Roger saat melihat Nazura hendak berlari mengejar Bryan. 


"Aku pergi sebentar, Mas. Kamu tunggu di sini saja dan kuharap kamu tidak menyusulku. Aku janji hanya sebentar." Nazura pun meninggalkan suaminya dan Rosa. Ia beralih mengejar Bryan yang sedang menuju ke toilet. 


"Tuan, tunggu!" teriak Nazura menghentikan langkah Bryan. Lelaki itu berbalik dan mengerutkan kening ketika melihat Nazura. 


"Kamu siapa?" tanya Bryan bingung. 


"Mas Roger? Memang kamu siapanya putraku? Kenapa panggilanmu terlihat mesra untuknya." Bryan makin penasaran. 


Nazura tersenyum simpul. "Saya istri Mas Roger." 


"Jadi, kamu anak menantuku?" Bryan menatap Nazura tidak percaya. Nazura pun mengangguk dengan cepat. 


"Kenapa Roger tidak memberitahuku kalau sudah menikah? Jahat sekali dia tidak mau mengundang papanya untuk menghadiri acara pernikahannya," ucap Bryan kecewa. 


"Karena pernikahan kami bukanlah pernikahan yang megah dan diharapkan pada awalnya, Tuan," timpal Nazura. 


Bryan menoleh dan menatap bingung ke arah Nazura. "Maksudnya?" 


Nazura menghirup napas dalam terlebih dahulu. "Tuan, Mas Roger menikahi saya karena saya dijadikan penebus hutang oleh paman saya yang berhutang kepada Mas Roger. Bahkan, ketika awal menikah kami tidaklah saling kenal."


"Apa hubungan kalian masih baik sampai saat ini?" tanya Bryan mulai ingin tahu karena sepertinya kisah mereka hampir sama. Sama-sama menikah bukan atas dasar cinta.  


"Masih, Tuan. Justru semakin membaik karena saya dan Mas Roger berusaha untuk saling membuka hati. Saling mengerti satu sama lain." 


"Apa semudah itu kalian melakukannya?" 


"Tidak, Tuan. Semua tidak semudah yang dibayangkan. Saya bahkan sempat terpisah dan hampir bercerai. Namun, ternyata kami masih berjodoh dan justru hubungan kami sangat baik sekarang." Nazura menjeda ucapannya. Berusaha tetap tersenyum di depan Bryan. "Saya yakin kalau Anda dan Nyonya Rosa pun bisa melakukan itu." 


"Tahu apa kamu tentang hubunganku dengan wanita itu. Jangan jadi manusia yang sok tahu!" Bryan mulai kesal karena merasa Nazura mulai ikut campur. Padahal mereka belum saling kenal sebelumnya. 


"Maaf, Tuan. Bukan maksud saya ingin menggurui atau apa pun itu. Seandainya masih bisa diperbaiki maka apa salahnya mencoba memperbaiki semuanya. Saya yakin Mas Roger akan merasa sangat senang jika memiliki keluarga yang utuh dan saling mencintai. Bukankah itu adalah hal yang selalu diidamkan oleh semua anak?" Nazura tetap tenang. Percayalah kalau ia hanya sedang berusaha membuat suaminya mendapatkan kebahagiaan yang selama ini selalu diimpikan. 


"Aku tidak yakin bisa melakukannya. Apalagi aku baru saja kehilangan istri mudaku. Itu menjadi pukulan terberat untukku," timpal Bryan. Beberapa kali lelaki itu mendes*hkan napasnya kasar ke udara. Bayangan istri mudanya tidak pernah lenyap dari pikiran. 


"Saya tahu itu, Tuan. Saya pun pernah merasakan apa yang Anda rasakan. Saya kehilangan kedua orang tua saya. Padahal hanya mereka harta berharga yang saya punya. Saya sama seperti Anda, begitu terpukul. Tapi, life must go on. Hidup harus terus berjalan sesakit apa pun itu. Biarlah waktu yang menentukan semuanya, karena bahagia akan indah pada waktunya."


Bryan tersenyum ketika mendengar apa yang dikatakan Nazura. Ucapan wanita itu memang ada benarnya juga. Namun, Bryan pun tidak semudah itu ketika menjalankannya. 


"Maaf, Tuan. Sepertinya saya sudah terlalu banyak berbicara. Kalau begitu, saya pamit sebelum Mas Roger mencari saya." Nazura menangkup kedua tangan di depan dada, sedikit membungkuk hormat lalu bergegas pergi dari sana. 


Bryan hanya diam dan menatap punggung Nazura yang perlahan menjauh dari pandangan mata. "Sepertinya Roger tidak salah memilih istri," gumamnya.