Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
40


Dengan gerakan cepat Nazura mendorong tubuh Roger hingga berjarak cukup jauh darinya. Setelahnya, Nazura menunduk dalam saat mendengar langkah kaki mendekat. Tidak perlu menoleh, Nazura sudah paham suara siapa itu. Sementara Roger justru tetap terlihat santai. 


"Kamu ini baru ngekos di sini beberapa hari saja sudah berani berzina! Bukankah kamu tahu kalau dilarang berpelukan di area ini," ucap seorang wanita bertubuh gembul. Ia adalah pemilik kosan tersebut. 


"Maaf, Bu." Hanya itu kalimat yang terlontar dari bibir Nazura. 


"Kemasi barangmu dan ikut aku pulang," perintah Roger. Tidak peduli kepada si pemilik kos hingga membuat wanita itu meradang karena merasa tidak diacuhkan. 


"Heh! Dasar anak muda tidak tahu sopan santun! Sudah tahu salah, bukannya meminta maaf malah mau kabur," omelnya. Roger mendengkus kasar lalu mendecakkan lidahnya. 


"Memangnya kenapa? Apakah salah kalau aku mengajak istriku pulang?" tanya Roger santai. Disertai seringai tipis yang membuat pemilik kos itu mendelik tajam. 


"Istri? Jangan bercanda!" 


"Na, katakan pada wanita ini kalau kamu memang istriku," suruh Roger. Namun, Nazura justru hanya menutup rapat mulutnya. Roger pun menjadi gemas sendiri. 


"Dasar penipu! Bilang saja kalau kamu ini mau menodai anak perawan." Pemilik kos itu memasang kuda-kuda dan hendak mengajak Roger berkelahi. 


Dengan kesal, Roger mengambil ponsel dan menunjukkan foto pernikahannya bersama Nazura. Wanita itu pun mengambil ponsel Roger untuk mengamati lebih dekat. 


"Ini serius kalian sudah menikah?" tanya wanita itu memastikan. 


"Tentu saja. Bukankah matamu masih bisa melihat dengan jelas," ucap Roger ketus. Ia tidak sadar kalau ucapannya justru membuat wanita itu kembali meradang. 


"Berani sekali kamu kurang ajar kepada orang tua." Wanita itu memukuli punggung Roger tidak peduli meski Roger sudah mengaduh dan berusaha untuk menghindar, sedangkan Nazura melipat bibir untuk menahan tawa. 


"Ya Tuhan, Na. Kamu tidak ingin menolong suamimu dari amukan gajah," teriak Roger. Namun, Nazura justru menggeleng cepat lalu terkekeh setelahnya. 


"Kurang ajar! Berani sekali kamu mengataiku gajah!" Wanita itu terus saja memukuli Roger. 


"Oh, Ya Tuhan. Semoga nyawaku masih ada setelah ini," gumam Roger. 


Nazura benar-benar terhibur saat melihat pemandangan itu. Baru kali ini ia melihat Roger yang kalah dari seorang emak-emak. 


Memperbaiki hubungan yang tidak baik sebelumnya bukanlah hal yang salah. Berusaha menerima kembali meski pernah terluka. Membuka kesempatan lagi untuk belajar sama-sama mengerti dan saling mencintai. 


Seperti Nazura dan Roger. 


Walaupun Nazura awalnya memilih untuk pergi dari kehidupan Roger. Berniat membuka lembaran baru tanpa lelaki itu, tetapi sekarang wanita itu justru hidup kembali bersama Roger. Tinggal di apartemen yang dulu mereka tinggali. 


Semua itu bukan karena Nazura terlalu lemah dan mudah luluh, tetapi ia hanya ingin memperbaiki hubungan itu. Apalagi, Soraya sudah memberi restu membuat Nazura semakin yakin untuk membuka kesempatan bagi dirinya dan Roger. Karena sesungguhnya, Nazura sangat membenci perceraian. 


"Ya Tuhan, Na. Aku sudah sangat merindukan masakanmu," ujar Roger. Duduk di sofa tepat di samping istrinya yang sedang sibuk menonton televisi. 


"Mulai besok pagi saya akan memasak untuk Anda terus, Tuan." Nazura tersenyum. 


Roger terpikat pada senyuman itu hingga tanpa sadar ia mendaratkan sebuah kecupan di pipi sang istri. 


"Jangan memanggilku, Tuan. Aku bukan tuanmu, tapi aku ini suamimu," kata Roger. Merangkul pundak Nazura dan menyandarkan kepala wanita itu di dadanya. Nazura pun hanya menurut saja. 


"Lalu saya harus memanggil apa?"


"Terserah, mau memanggil suamiku, pangeranku, rajaku, ahhh ... sakit." Roger mengaduh saat Nazura sudah memukul pahanya cukup kencang. "Berani kamu memukulku." 


"Maaf, saya hanya gemas. Kenapa panggilannya sangat alay semua," keluh Nazura. "Saya memanggil Mas saja. Sepertinya itu lebih umum," lanjutnya. 


"Emm ... boleh juga." Roger mengangguk berkali-kali. "Tidak terlalu buruk juga panggilan itu. Coba kamu panggil aku," suruhnya. 


Nazura justru diam karena ia masih merasa malu. Belum terbiasa dengan panggilan itu, tetapi Roger terus saja mendesaknya. 


"Ayolah. Atau kamu mau aku menelanjangimu di sini," ancam Roger tidak sabar sendiri. 


"Jangan lakukan itu. Baiklah, saya akan memanggil ...." Nazura terdiam karena masih merasa ragu. "Mas Roger."