Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
GPH 77


Lolita mengerjapkan mata dan ia terkejut karena saat ini sudah berada di rumah sakit. Padahal tadi dirinya masih berada di rumah. Lolita pun berusaha untuk bangun, tetapi langsung ditahan oleh Akmal yang sejak tadi duduk di sampingnya. 


"Mas," panggil Lolita lirih karena masih lemas. 


"Tidur saja. Kamu harus banyak istirahat." Akmal berbicara sangat lembut, bahkan wajahnya terlihat sangat semringah membuat Lolita sendikit merasa heran. 


"Kenapa aku di sini? Di mana Gavi?" tanya Lolita heran. 


"Ya, aku sangat cemas. Jadi, lebih baik aku langsung membawamu ke rumah sakit. Lagi pula, kamu pasti tidak mau kalau tidak dipaksa. Gavi sudah pulang dan nanti Nazura berjanji akan ke sini lagi," jelas Akmal. 


Lolita pun hanya mengangguk lemah lalu memejamkan mata karena kepalanya kembali pusing. Namun, ia terdiam sesaat ketika merasakan sebuah ciuman mendarat di keningnya. Lolita pun membuka mata dan langsung berhadapan dengan Akmal yang sejak tadi terus tersenyum bahagia. Bahkan, wajah mereka hampir saling menempel. 


"Ma—"


"Selamat, Sayang." 


Kening Lolita mengerut dalam ketika Akmal mengatakan selamat. Karena ia tidak tahu hal apa yang patut mendapat ucapan selamat. 


"Selamat untuk apa?" tanya Lolita bingung. 


"Selamat, sebentar lagi kita akan menjadi orang tua. Ada benih yang sedang tumbuh di rahimmu." Akmal tersenyum senang sambil mengusap perut Lolita dengan sangat lembut. 


Wajah Lolita menegang sesaat sebelum akhirnya air mata mengalir dari kedua sudutnya. Akmal dengan segera membantu menghapus air mata wanita itu. 


"Jangan menangis," ujar Akmal. Senyuman bahagia masih tampak memenuhi wajahnya. 


"Kamu tidak bercanda, Mas?" tanya Lolita memastikan. Ia tidak ingin jika semua ini hanyalah mimpi dan takut nanti hatinya akan merasa sakit jika menyadari kenyataan yang menyakitkan. 


"Tentu saja." Akmal mencium pipi Lolita karena merasa gemas dengan wanita itu. 


Tidak disangka, Lolita justru menangis tergugu dan Akmal dengan segera memeluk wanita itu. Ya, inilah yang ditunggu oleh mereka. Saking terharunya, Akmal pun ikut menitikkan air mata. Antara bahagia karena sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, ia juga merasa bahagia karena Lolita sudah tidak akan sedih lagi setelah ini.  


"Aku akan berjanji menjaga kalian dengan sepenuh hati," ucap Akmal penuh bahagia. 


***


"Mas! Mas!" 


Teriakan Nazura mengejutkan Roger yang saat itu sedang duduk bersama orang tuanya di ruang keluarga. Bahkan, Roger sampai bangkit berdiri karena cemas terjadi apa-apa dengan istrinya. 


"Hati-hati, Na." Roger mengembuskan napas lega saat melihat Nazura sampai di lantai bawah. 


"Mas!" teriak Nazura lagi seperti anak kecil yang sedang kegirangan. 


"Kenapa, hm? Katakan padaku ada apa?" tanya Roger. Terus menatap istrinya yang sedang berusaha mengatur napas. 


"Lolita." 


"Lolita kenapa? Bukankah kita akan ke sana sekarang ini?" Roger mulai sedikit cemas. Walaupun dulu ia tidak menyukai wanita itu, tetapi ia tetap akan menaruh simpati jika terjadi apa-apa kepada Lolita karena Nazura menyayangi wanita tersebut.


"Lolita hamil!" pekik Nazura. Langsung memeluk Roger sangat erat. 


"Syukurlah. Kupikir ada apa-apa tadi." Roger mencium puncak kepala Nazura penuh sayang. 


"Ayo, Mas." Nazura menarik-narik kaos yang dikenakan oleh Roger hingga lelaki itu mendengkus kesal. 


"Ke mana?" Roger benar-benar tidak menyangka kalau istrinya akan bertingkah seperti anak kecil. 


"Ke rumah sakit. Saya mau menjenguk Lolita." Nazura tidak sabar sendiri. "Eh, astaga aku sampai lupa pada Gavi dan Mikayla." 


"Ya ampun, Na. Kamu ini." Rosa sampai ikut geleng-geleng melihat anak menantunya. "Kalian ke rumah sakit saja dulu, nanti mama dan papa akan menyusul." 


Roger pun mengiyakan dan bergegas ke rumah sakit atas perintah istrinya. Selama dalam perjalanan, Nazura terus saja berdendang. Membuat Roger ikut tersenyum dengan tingkah istrinya itu. 


Sesampainya di rumah sakit, Nazura langsung menuju ke ruangan di mana Lolita dirawat. Ternyata, Bima dan Nety pun ada di sana. 


"Lolita! Aku turut senang atas kehamilanmu." Nazura mencium pipi Lolita saking senangnya. 


"Makasih banyak, Na. Ini semua juga berkat doa darimu," balas Lolita. 


Kedua wanita itu pun mengobrol banyak hal. Bahkan, Nazura menceritakan pengalaman yang dialami ketika sedang hamil Gavi dan Mikayla. Mereka terlihat sangat dekat dan antusias berbagi cerita. 


Suasana di ruangan itu pun terasa hidup karena Bima pun ikut mengobrol dan bercanda. Ruangan itu makin meriah ketika Rosa dan Bryan sudah datang. Mereka menitipkan kedua cucunya di rumah bersama pelayan. 


Bahkan, Nazura sampai menelepon Devi untuk mengatakan kabar bahagia ini. Devi pun ikut merasa senang dan berjanji akan datang ke kota dalam waktu dekat. Menunggu bayinya bisa diajak berpergian jauh. 


"Aku senang sekali, pada akhirnya kita semua bisa menemukan kebahagiaan," ujar Nazura. Menitikkan air mata haru. 


"Jangan menangis. Kamu tidak malu dengan anakmu, sudah sebesar ini masih saja menangis," kata Roger. Mengusap air mata istrinya sambil tersenyum senang. 


Hatinya pun merasa bahagia. 


"Ish! Tidak ada Gavi maupun Mikayla. Jadi, saya tidak perlu malu lagi, Mas." Nazura mengusap air mata itu sampai benar-benar kering lalu tersenyum bahagia menatap mereka satu persatu. 


"Aku sudah memiliki dua anak, Devi satu anak, Lolita pun akhirnya bisa hamil. Sungguh, ini sangat luar biasa," kata Nazura antusias. 


"Eh, satu lagi, Na. Doakan mama juga sebentar lagi menyusul kalian," ucap Rosa. Membuat semua orang menatap kepadanya. Terutama Roger yang sudah memasang wajah kesal. 


"Menyusul apa, Ma? Jangan bilang menyusul punya anak juga," protes Roger. "Ingat, aku tidak mau punya adik lagi!"


Rosa pun tergelak keras apalagi ketika melihat wajah Roger yang tampak kesal. "Mama juga sudah tidak, tapi kita tidak akan tahu takdir seperti apa yang akan terjadi. Ya 'kan? Kalau sudah diberi mana mungkin bisa menolak."  


"Ma!" Roger setengah membentak. Rosa pun makin tergelak keras. 


"Maaf, Sayang. Mama hanya bercanda. Lagi pula, mama ini sudah steril, jadi tidak akan mungkin punya anak lagi," jelas Rosa. 


"Syukurlah." Roger mengembuskan napas lega. 


Setiap manusia pasti akan menemukan kebahagiaan masing-masing. Walaupun kita sudah memiliki rencana hidup sendiri, tetapi skenario Tuhanlah yang bekerja. Meskipun terkadang jalan yang harus dilalui tidaklah mudah, tetapi percayalah kalau semua akan berakhir indah. 


•TAMAT•