Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
GPH 45


Langkah Nazura memasuki area pemakaman dengan santai. Membawa dua bungkus bunga yang ia beli dari tepi jalan tadi. Lalu, Nazura menghentikan langkahnya tepat di samping dua batu nisan di mana ada nama ayah dan ibunya tertera di sana. 


Dengan perlahan, Nazura menabur bunga di atas kedua Nisa tersebut. Lalu beberapa kali mendes*hkan napas ke udara secara kasar. 


Ia sangat merindukan mereka dan ingin sekali merasakan hangat pelukan kedua orang tuanya. 


Namun, kini hanya untaian doa yang bisa dipanjatkan sebagai pelepas rindu. Rasa ingin memeluk, tetapi itu hanyalah sebatas asa yang tidak akan mungkin bisa menjadi nyata. 


"Ayah, ibu, aku yakin kalau kalian pasti sudah bahagia di surga. Menjalani kisah cinta sehidup semati yang membuatku iri." Kedua tangan Nazura mengusap kedua nisan tersebut. "Hah! Doakanlah aku tetap semangat menjalani hidup tanpa kalian. Walaupun kepergian kalian sudah sangat lama, tetapi kenangannya sangat terpatri kuat di hatiku. Maaf, aku tidak bisa menjaga rumah peninggalan kalian sebagai kenangan terakhir yang kupunya." 


Tidak ada air mata. Nazura tidak menangis bukan karena ia tidak kehilangan kedua orang itu. Akan tetapi, air matanya sudah habis menangisi kepergian mereka sejak lama. Jangan bilang tidak ada rasa kehilangan, wanita itu hanya sedang berusaha keras menghadapi kenyataan yang terkadang menyakitkan. 


"Hallo, ibu dan ayah mertuaku."


Nazura terkejut saat mendengar suara Roger. Ia pun berbalik dan melihat lelaki itu sedang berdiri sambil tersenyum simpul dan kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. 


"Ma-Mas," panggil Nazura terbata. 


Roger berpindah jongkok di samping Nazura. 


"Kenapa kamu ada di sini, Mas?" tanya Nazura masih belum percaya dengan kedatangan suaminya. 


"Bukankah sudah kubilang kalau aku ingin bertemu dengan mertuaku? Biarkan aku memberi salam perkenalan untuk mereka." 


Roger sama sekali tidak menyurutkan senyumnya. Lalu mengucapkan banyak kata yang membuat Nazura merasa terharu. Di mana Roger berbicara jika lelaki itu berjanji akan menjaga istrinya dengan penuh kasih sayang. Akan menjadi suami terbaik dan Nazura merasa bahagia karenanya. 


"Kamu tidak capek?" tanya Roger saat mereka baru saja keluar dari area pemakaman. 


"Tidak." Nazura menjawab singkat. 


Kemudian, mereka masuk ke mobil dan Roger melajukannya ke sebuah restoran. Untuk malam ini, ia tidak akan menyuruh istrinya untuk memasak. Khawatir wanita itu akan kelelahan. 


Namun, ketika sedang asyik makan malam, mereka dikejutkan dengan kedatangan Lolita yang entah dari mana. Lolita terlihat melayangkan tatapan penuh kebencian kepada Nazura. 


"Lolita, kamu dari mana?" tanya Nazura berusaha lembut meskipun dalam hati sudah berdecak kesal. Jika bertemu sepupunya sudah pasti Nazura akan dibuat emosi olehnya. 


Ah, dia sangat tampan. Kenapa juga Nazura berduaan dengan lelaki ini padahal katanya mereka sudah berpisah. Lolita ngegrundel dalam hati. 


"Silakan." Nazura mempersilakan, ia melihat raut ketidaksukaan dari wajah Roger. Namun, Nazura pun tidak mungkin menolak permintaan Lolita. 


"Na, aku mau pesan banyak makanan sekaligus untuk papa dan mama. Nanti kamu yang bayar, ya." Lolita berbicara tanpa rasa malu sedikit pun. 


"Baiklah. Kebetulan aku baru saja gajian. Lama sekali aku tidak bertemu mereka," ucap Nazura sembari sibuk mengunyah lagi.


"Kamu, sih. Sekarang jadi sombong. Mentang-mentang menikah dengan orang kaya, jadi tidak mau ke rumah lagi," sindir Lolita. 


Roger merem*s sendok dengan kuat saat mendengar ucapan wanita itu. Jika bukan sedang di muka umum, sudah pasti Roger akan menampar Lolita karena sudah menghina istrinya.


"Maaf, aku sibuk akhir-akhir ini." 


"Na, lebih baik habiskan makananmu dan kita harus segera pulang untuk beristirahat. Bukankah besok kamu bekerja?" suruh Roger. Ia tidak peduli dengan Lolita yang marah melihat perhatiannya untuk Nazura. 


"I-iya, Mas. Saya mau ke toilet dulu sebentar." Nazura bangkit berdiri dan meninggalkan Roger hanya berdua bersama Lolita. 


Senyum licik di bibir Roger terlihat mengembang sempurna saat melihat Lolita yang sedang berusaha mencari perhatiannya. 


"Tuan, saya tidak menyangka kalau Nazura adalah wanita yang sangat plin-plan," ucap Lolita mulai memanasi.


"Jaga bicaramu. Jangan pernah menghina istriku atau aku tidak akan segan-segan merobek mulutmu!" hardik Roger. Meletakkan sendok secara kasar hingga terdengar dentingan yang cukup keras. Namun, Lolita masih tetap berani. 


"Saya tidak menghina, Tuan. Apa yang saya bilang memang kenyataannya. Dia bilang tidak ingin dekat dengan Anda lagi dan sudah melepaskan. Bahkan, dia sudah merelakan jika saya mendekati Anda. Lalu, kenapa sekarang kalian justru jalan berdua lagi?" Lolita berbicara apa adanya tanpa rasa malu sedikit pun. 


"Asal kamu tahu, aku tidak akan pernah melepaskan istriku!" Roger memilih bangkit dan meninggalkan meja tersebut. Menyusul Nazura menuju ke toilet. 


Roger tidak ingin jika dekat wanita ular seperti Lolita. Lebih baik menghindar sebelum ia terkena bisa-nya. 


Melihat suaminya yang sedang berdiri di depan toilet seketika membuat Nazura terheran. Belum juga Nazura bertanya, Roger sudah menarik tangannya dan mengajak ke luar dari restoran itu tanpa berpamitan kepada Lolita yang masih menunggu pesanannya datang. 


Nazura sudah memohon untuk berpamitan, tetapi Roger tetap memaksa untuk pulang dan biarkan Lolita mendapatkan pelajaran. Karena setelah ini, Roger pun akan memberi hukuman untuk istrinya.