
"Awas Bram!!
Delia teriak saat ada mobil yang hampir saja menabraknya. Dia mengumpat si pengendra mobil itu dengan sumpah serapahnya. Delia berjalan menghampiri Bram yang terjatuh karena menghindar.
Pengendara mobil tetap melajukan mobilnya, dia tak menghiraukan siapa yang hampir saja menabrak Bram kekasihnya.
"Wajah itu ngga asing buatku, tapi tidak mungkin dia berkeliaran di negara orang. Apa ini cuma perasaanku saja karena sudah menyakitinya." Delia membantu Bram untuk bangun.
"Kamu tidak apa-apa Bram?" tanya Delia penuh khawatir.
"Ngga apa-apa sayang..."
Keduanya lalu pergi meninggalkan pusat perbelanjaan. Delia mengajak Bram pulang ke apartemennya. Mereka bak kekasih yang sedang dimabuk cinta, Delia lupa akan statusnya sebagai istri orang. Mereka terlihat menikmati hari-hari penuh kebahagiaan. Delia dan Bagas dulunya memang sepasang kekasih yang tak bisa terpisahkan.
Sesampainya di apartemen Delia membuka pintu dan masuk. Bram mengikutinya dari belakang, Delia mengambil minuman untuk menemani mereka di ruang tengah.
"Prok-prok...prok-prok...bagus, begini rupanya kuliah kamu...jauh-jauh ke Luar Negeri untuk menimba ilmu, meninggalkan suami yang baru saja menikahinya." Bagas keluar dari kamar Delia.
Suara yang sangat Delia kenal tiba-tiba memecahkan ruangan itu, dan belum sempat mereka menoleh ke arah sumber suara, tiba-tiba Bagas mendaratkan pukulan di wajah Bram, dengan reflek Bram menangkis pukulan dari Bagas, namun Bagas melancarkan lagi beberapa pukulan mengenai pelipis dan bibir Bram hingga mengeluarkan darah.
"Bugh-bugh...braaakk...braaaakkk!"
Suara benda berjatuhan dari meja dan lemari kecil yang ada di ruang tamu. Delia berusaha melerai keduanya, tetapi Bagas terus menyerang dengan membabi-buta."
"Hentikan!!!" seketika teriakan Delia menghentikan mereka yang sedang baku hantam di ruang tengah. Bagas masih berdiri di depan Bram yang jatuh terduduk di lantai.
"Dasar perempuan murahan!! Istri macam apa, perempuan ******!" umpat Bagas yang berjalan mendekati Delia.
"Plaakkk...plaaakkk!!" suara tamparan terdengar sangat keras, hingga Bram yang penuh luka berusaha bangkit untuk menghentikan tamparan Bagas yang mengenai pipi Delia.
Bagas kembali mendorong tubuh Bram hingga jatuh tersungkur." Ini bukan urusanmu, ini urusan rumah tanggaku...setelah ini ambil dia untukmu, aku tak butuh istri seperti dia."
Kembali Bagas menarik krah baju Delia," Dengar, ya...setelah ini kamu bukan lagi istriku! Silahkan kamu ikuti kemana pacar kamu itu pergi, camkan itu! Jangan pernah kembali ke rumahku, kamu aku talak saar ini juga!!."
Kedua pipi Delia membekas merah bekas tamparan Bagas. Laki-laki yang pernah menemani lama sebagai kekasih, bahkan beberapa bulan ini status mereka adalah suami istri. Delia telah menyalahi, tidak seharusnya dia bermain hati dengan pria yang juga pernah mengisi hari-harinya lama sebelum Bagas menghuni relung hatinya.
Nasi sudah menjadi bubur, entah salah siapa. Bagas telah menikah tanpa sepengetahuan Delia, itu di karenakan dia merasa kesepian setelah baru beberapa bulan menikah ditinggal pergi oleh Delia untuk melanjutkan kuliahnya di negeri orang. Ternyata bukannyya pendidikan yang ia kejar, tapi cinta pertama yang ia kejar yang kini kembali bersemayam.
"Sekarang juga kamu berkemas dan pergi dari apartemenku, cepat!!!" Bagas yang masih emosi langsung membukakan pintu dan mempersilahkan Delia pergi beesama Bram.
Bram yang masih terhuyung perlahan beranjak keluar, Delia masuk ke dalam kamar untuk berkemas. Setelah selesai berkemas Delia keluar kamar menghampiri Bagas yang masih mematung di depan pintu.
Darah Bagas mendidih saat mendengar bahwa diringa hangalah pelampiasan Delia di saat ia putus dengan Bram. Cintanya sudah terlanjur dia berikan kepada Delia, tapi ini balasan Delia.
"Tidak usah banyak cing-cong, cepat kamu pergi dari sini, aku sudah muak melihat kalian berdua. Masih beruntung tidak aku laporkan dan aku viralkan."
Setelah Bram dan Delia pergi, Bagas menutup pintu dan menguncinya kembali.
Semuanya telah berakhir, status suami istri hanya disandangnya beberapa bulan saja. Bagas terduduk lesu di balik pintu, sungguh tak pernah ada dalam pikirannya kalau Delia akan berbuat seperti ini. Ternyata feeling seorang ibu tak pernah salah, Delia yang Bagas kira mampu membahagiakan orangtuanya ternyata berakhir seperti ini.
"Aku malu sama mami, apa yang dia ucapkan benar adanya, maafkan aku mam, huu huu..." Bagas meratap pilu.
Angga tidak mau menjelekkan Delia di depan adik dan ibunya, dia mengajak langsung supaya tahu apa yang Delia lakukan di Paris. Kini apa yang diucapkannya terbukti, bahwa Delia telah mengkhianati.
Dari awal pernikahannya, Angga sama Nurlita tidak percaya kalau Delia akan menemani hari tua Nurlita. Sejak dia ijin untuk melanjutkan kuliahnya di Paris Nurlita semakin tidak yakin bahwa suatu saat nanti dia akan mau tinggal bersamannya. Kini semua ucapan mereka benar-benar bukan menerka tapi sudah terbukti.
Bagas masuk ke dalam kamarnya, dia meraih ponsel yang berada di atas nakas. Telihat dia menghubungi nama yang ada di kontak ponselnya.
Beberapa detik kemudian, "Tuutt...tuuuttt...tuuutt..."
"Kemana dia, apa sedang tidur jam segini...atau jangan-jangan dia sedang bersama laki-laki lain di rumahku. Tidak, itu tidak boleh terjadi...aku tidak ingin ini menimpaku kedua kali, Gadis adalah menantu yang mami harapkan. Aku akan berusaha untuk mencintainya. Mungkin benar apa kata mami, kalau Gadis bisa jadi istri yang baik, dan ibu yang baik buat anak-anakku kelak."
Bagas kembali menghubungi nomer telepon Gadis, berulang kali dia berusaha menelpon istrinya, namun tak pernah sekalipun diangkatnya. Bagas jadi gelisah, akhirnya dia berinisiatif untuk menghubungi Nurlita maminya, siapa tahu saja mereka berdua saling memberi kabar.
"Tuuutt...tuuuttt...tuutt..."
Tidak ada jawaban, Bagas semakin gusar. Tidak seperti biasanya mereka susah dihubungi. Dia teringat pesannya terhadap Gadis sebelum pergi."Jangan kemana-mana, matikan saja ponselmu. Tidak usah menghubungi aku atau siapapun."
"Tapi ponselnya aktif, jangan-jangan benar dugaanku, dia sedang asyik di rumah bersama laki-laki lain."
Bagas bergegas keluar kamar, dia bersiap untuk ke apartemen Angga. Setelah selesai berkemas dia langsung keluar dari apartemennya menuju tempat parkir. Mobil pun melaju cepat, pikirannya sedang kacau, bukan lagi Delia yang ia pikirkan tapi Gadis yang kini sedang menari dalam pikirannya.
Sesampainya Bagas di apartemen Angga, dia langsung masuk kebetulan dia tahu kode pintunya. Setelah masuk dia kembali harus kecewa lantaran Angga tidak ada di apartemennya. Seharusnya dia menelpon memberi kabar kalau mau ke apartemen. Akhirnya Bagas hanya menulis pesan lewat whatsapp nya, kalau dia mau pulang sekarang juga. Tak ada alasan kenapa dia pulang begitu cepat.
Di Paris pernikahan Bagas harus berakhir, sakit pasti, karena orang yang sangat ia cintai telah berkhianat.
Bagas menikahi Gadis bukan kemauannya, orangtuanya lah yang memaksa untuk menikahinya, dan pada saat yang sama Delia telah pergi meninggalkan Bagas untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Sebagai laki-laki normal dia pasti sangat merindukan seorang istri, dan Gadis datang pada waktu yang tepat. Tidak mau berzina dia pun akhirnya menikahi Gadis biarpun tanpa cinta di antara mereka. Apa ini yang di namakan karma, Bagas menikahi Gadis sementara Delia istrinya juga mengkhiantinya. Tapi Bagas tidak pernah mencintai Gadis, cintanya hanya untuk Delia. Lain halnya dengan Delia, dia sangat mencintai Bram mantan kekasihnya.
*****
Bersambung...