
Suasana di ruangan tempat Rosa dirawat, terasa hening. Roger duduk tenang di sofa, terlihat sibuk dengan ponselnya, sedangkan Nazura duduk di tepi brankar. Menemani Rosa yang sejak tadi hanya diam. Tidak berani berbicara keras apalagi membentak Nazura karena ada Roger di sana. Ia tidak ingin putranya makin membenci dirinya karena Rosa yakin jika Nazura adalah wanita yang berharga untuk Roger. Walaupun penikahan mereka bukan atas dasar cinta sebelumya.
Sejak tadi, pandangan Rosa tidak pernah terlepas dari gerak-gerik Nazura yang sedang mengupas jeruk. Ketika melihat Nazura yang serius dan telaten seperti itu, membuat Rosa merasa sedikit tersentuh.
Sepertinya Nazura tidak seburuk yang ia kira. Wanita itu seperti seorang anak yang dengan merawat ibunya. Begitulah batin Rosa.
"Ini, Nyonya. Silakan dimakan," suruh Nazura. Memberikan buah jeruk yang sudah bersih dikupasnya. Bahkan, Nazura membantu Rosa untuk duduk agar lebih mudah saat memakannya.
"Jangan sok manis. Aku tahu kamu hanya sandiwara bukan?" Lagi-lagi Rosa menuduhnya dengan setengah berbisik Karan tidak ingin terdengar oleh Roger. Namun, Nazura justru masih tetap bisa tersenyum tulus.
"Tidak ada sandiwara, Nyonya. Saya memang tulus karena saat melihat Anda, tiba-tiba menjadi teringat dengan ibu saya," ucap Nazura. Dia menyodorkan jeruk tersebut kepada Rosa. Walaupun ragu, tetapi Rosa tetap menerima dan memakan buah segar itu.
"Memangnya ke mana ibumu?" tanya Rosa mulai penasaran. Nada bicaranya pun tidak setinggi kemarin-kemarin.
"Sudah meninggal, Nyonya," sahut Nazura lirih. Ia masih bisa tersenyum dan itu justru membuat Rosa mulai menaruh simpati kepadanya. "Ibu saya itu seumuran Nyonya sepertinya. Beliau pekerja keras dan sangat sayang kepada anak meskipun kita hanya hidup berkecukupan."
"Wah, ibumu sangat luar biasa kalau seperti itu." Rosa menghentikan ucapannya saat melihat Roger bangkit berdiri.
Lelaki itu berpamitan pergi karena tidak ingin mendengar pembicaraan kedua wanita itu. Pembicaraan yang sepertinya akan sensitif untuknya. Nazura pun hanya mengiyakan.
"Nyonya, apa saya boleh bertanya satu hal?" tanya Nazura ragu. Khawatir akan menyinggung perasaan Rosa.
"Tanyakan saja. Aku akan menjawab kalau mau." Rosa menatap Nazura yang juga sedang menatapnya.
"Nyonya, saya melihat kalau hubungan Anda dengan Mas Roger tidak terlalu baik. Maaf kalau sebelumnya saya terlalu ikut campur, tapi apakah saya boleh mengetahui sebenarnya apa permasalahan yang terjadi di antara kalian?" Nazura pun melontarkan pertanyaan itu karena tak kuasa menahan rasa penasaran.
Awalnya Rosa tidak ingin bercerita, tetapi sekarang Nazura bukan orang lain untuknya. Selain dirinya yang akan berusaha baik kepada Nazura, Rosa juga ingin sedikit berbagi keluh kesahnya. Ia pun menceritakan awal mula dan kenapa hubungannya dengan Roger tidak terlalu baik.
"Begitulah. Tapi sekarang aku menyesal dan ingin memperbaiki hubungan dengan Roger. Tapi, sepertinya itu tidak mungkin karena Roger sangat tidak peduli denganku. Bahkan, sebatas mengobrol saja dia tidak mau meski setiap hari selalu menjenguk ke sini," keluh Rosa. Mengembuskan napas secara kasar untuk sedikit mengurangi rasa sesak di dada.
"Apa Anda yakin sudah menyesali semuanya, Nyonya?"
"Tentu saja. Selama ini aku tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk Roger dan aku selalu berdoa semoga masih diberi kesempatan untuk mengganti semua waktu yang pernah terbuang sia-sia." Rosa mengusap sudut mata saat merasakan ada cairan bening yang mengalir di sana.
Nazura benar-benar tidak tega ketika melihat wanita itu. Terlihat sekali penyesalan dari raut wajahnya meskipun Rosa berusaha menutupi. Dalam hati Nazura berencana akan membuat hubungan kedua orang itu menjadi lebih baik dan semoga ia bisa melakukan itu.
***
"Istirahat. Besok kita harus bekerja lagi, tapi kalau kamu mau berhenti maka aku akan menerima keputusanmu dengan senang hati," ujar Roger saat mereka baru saja masuk ke kamar yang berada di apartemen.
Nazura tidak berbicara apa pun, hanya merebahkan tubuhnya lalu mendes*hkan napas ke udara secara kasar. Memecah sesaat keheningan di kamar tersebut.
"Jangan membahas wanita itu. Aku tidak mau suasana hatiku mendadak buruk jika mendengar nama wanita itu disebut." Roger ikut merebahkan diri di samping istrinya.
"Mas, jangan seperti itu. Bagaimana kalau kamu memberi kesempatan untuk Nyonya Rosa memperbaiki semuanya? Beliau sudah menceritakan semuanya dan saya bisa melihat penyesalan darinya," ujar Nazura memberanikan diri.
"Sudah. Aku bilang jangan membahas wanita itu. Kamu tidak akan pernah tahu kenyataan yang sebenarnya. Kamu juga tidak pernah merasakan bagaimana buruknya masa kecilku. Jadi, kuharap kamu jangan ikut campur." Roger memberi ultimatum.
Nazura pun lebih memilih untuk diam karena ia tidak ingin jika hal itu akan menimbulkan pertengkaran antara dirinya dengan Roger. Apalagi hubungan mereka baru saja membaik kemarin.
Malam ini tidak ada percintaan panas apalagi ciuman karena Roger justru tidur membelakangi Nazura. Bukan karena ia membenci wanita itu karena sudah menganggapnya terlalu ikut campur, tetapi Roger hanya sedang berusaha menahan diri agar tidak dikuasai emosi.
Sudah cukup satu kali ia kehilangan Nazura, dan jangan sampai ada kedua kali apalagi ketiga kalinya. Ia ingin menjaga wanita itu agar selalu di sisinya.
Keesokan paginya, Nazura tampak sibuk menyiapkan sarapan untuk Roger sebelum berangkat bekerja. Walaupun hubungannya dengan Roger sudah membaik, tetapi Nazura tidak ingin menjadi benalu untuk lelaki itu. Ia akan tetap bekerja seperti biasa.
"Mas, nanti sore saya sepertinya akan pulang terlambat, tapi saya akan berusaha tetap bisa menyiapkan makan malam untukmu," ujar Nazura. Menghentikan gerakan Roger yang sedang mengunyah makanan.
"Memangnya kamu mau ke mana?" tanya Roger penasaran.
"Saya mau ke pemakaman. Sudah lama sekali tidak menjenguk kedua orang tua saya," sahut Nazura.
"Baiklah. Kalau begitu, tunggu aku pulang. Aku pun akan ikut menjenguk mertuaku."
"Jangan," tolak Nazura cepat. "Saya ingin sendiri saja." Raut wajah Nazura tampak memohon.
Roger pun pada akhirnya hanya bisa mengiyakan saja dan menuruti keinginan sang istri. Ia tidak ingin membuat wanita tersebut merasa terkekang jika ia terlalu banyak melarang.
Setelahnya, Roger pun mengantar Nazura sampai ke toko sebelum akhirnya ia menuju ke kantor karena kebetulan mereka satu arah.
***
Selama di kantor, Roger merasa tidak tenang saat teringat Nazura. Ia ingin sekali ikut, tetapi Nazura sudah melarang. Namun, bukan Roger namanya jika ia tidak nekat melakukan apa pun yang dimau. Ia berencana akan mengikuti Nazura secara diam-diam.
Teringat sesuatu hal, Roger pun mengambil ponsel dan segera menghubungi seseorang.
"Pokoknya siapkan semuanya. Aku mau dalam waktu satu bulan ini semua sudah beres. Jangan sampai ada kesalahan sedikit pun atau aku tidak akan segan-segan memotong gaji kalian jika ada kesalahan."
Roger mematikan panggilan tersebut lalu menaruh ponselnya di atas meja. "Tunggu kejutan dariku, Na." Senyum Roger terlihat mengembang sempurna.