Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
GPH 47


"Maaf kalau ucapan saya nantinya akan terkesan lancang, tapi saya tidak ingin jika kamu menyesal di kemudian hari. Seburuk apa pun Nyonya Rosa, beliau tetaplah ibumu. Wanita yang rela mengorbankan nyawanya hanya demi melahirkanmu ke dunia," ujar Nazura. 


Sungguh, Roger tidak bisa berkata apa pun. 


"Saya tahu kalau semua tidak akan semudah seperti apa yang diucapkan." Nazura menoleh dan dengan lembut mengusap rahang kokoh milik Roger. "Tapi saya yakin kalau kamu memiliki hati yang luas. Jika Tuhan saja Maha Pemaaf, lantas kita sebagai manusia biasa yang penuh dosa masa iya tidak mau memaafkan." 


"Aku rasa itu akan sulit. Kamu bisa berbicara demikian karena memiliki orang tua yang penuh perhatian dan melimpahimu dengan kasih sayang. Sementara aku? Bahkan dulu aku selalu merasa menyesal kenapa harus dilahirkan ke dunia. Hidupku tidak seindah yang orang lain bayangkan," ucap Roger disertai helaan napas panjang berkali-kali. 


Nazura pun beralih memeluk tubuh lelaki itu dan merebahkan kepalanya di atas dada bidang suaminya. 


"Kamu belum mencobanya. Bagaimana kalau kamu mencoba dan saya akan menemanimu, Mas. Jika memang kamu tidak sanggup maka kamu boleh menyerah. Karena yang saya lihat, kamu sayang kepada Nyonya Rosa."


"Tidak! Aku bahkan tidak ingin melihat wanita itu," bantah Roger. Nazura pun terkekeh hingga membuat Roger mengerutkan kening karena heran. "Apakah ada yang lucu?" Roger mulai menunjukkan raut kekesalan. 


"Em, sepertinya tidak. Hanya saja saya merasa heran. Kamu bilang tidak sayang bahkan tidak ingin melihat wanita itu, tapi saat Nyonya Rosa berada di rumah sakit, kamu setiap hari datang mengunjungi. Walaupun kamu tidak mengajak mengobrol, tapi hatimu merasa tenang jika sudah melihat Nyonya Rosa. Benar begitu bukan?" ujar Nazura setengah menyindir. 


"Itu karena—"


"Karena dia adalah ibumu. Mau sebenci apa pun, kalian tetaplah terikat dalam satu ikatan yang kuat melebihi apa pun. Bahkan, batin kalian pun saling terikat. Mas ...." Nazura menghentikan ucapannya untuk mengambil napas dalam. 


"Saya mohon, belajarlah membuka hatimu untuk memaafkan ibumu. Sebelum ia pergi jauh. Karena saya sudah merasakan bagaimana sakitnya ditinggal selamanya oleh kedua orang tua. Walaupun saya memiliki orang tua yang melimpahi kasih sayang, tetapi semua terasa hampa ketika mereka telah tiada. Ingin melampiaskan rasa rindu saja tidak bisa, sedangkan kamu masih bisa melihat ibumu."  


Roger menghirup napas dalam. Batinnya serasa sesak mendengar ucapan Nazura. Apa yang dikatakan wanita itu memang ada benarnya juga. Tiba-tiba Roger merasa khawatir jika Rosa benar-benar meninggalkan dirinya selamanya. Roger memang membenci mamanya, tetapi ia pun tidak ingin jika harus kehilangannya. 


"Baiklah. Aku akan mencoba untuk memaafkannya," kata Roger pada akhirnya. 


"Jangan menggodaku atau aku akan membuatmu tidak tidur malam ini," ancam Roger. Membuat Nazura menelan ludahnya kasar ketika melihat sorot mata suaminya yang penuh napsu. 


***


"Selamat Nyonya, akhirnya Anda bisa pulang juga." Nazura tersenyum lebar ketika menjemput Rosa karena sudah diperbolehkan pulang. Wanita itu hanya tinggal menjalani masa pemulihan. 


"Ya." Rosa masih terlihat ketus meskipun tidak menatap penuh benci seperti kemarin-kemarin. "Di mana Roger?" 


"Mas Roger sedang dalam perjalanan ke sini, Nyonya. Mungkin lima menit lagi akan sampai," sahut Nazura tanpa memudarkan senyumnya. 


"Baiklah. Ada yang ingin aku sampaikan sebelum Roger tiba di sini." Raut wajah Rosa mendadak serius. Membuat jantung Nazura berdegup kencang karena merasa khawatir Rosa akan berbicara yang tidak-tidak. Ia hanya takut hatinya menjadi tidak baik-baik saja. 


"Silakan, Nyonya." 


"Jadi gini ... setelah aku pulang ke rumah nanti. Aku ingin Roger tinggal bersamaku di rumah utama. Aku tidak mau jauh darinya lagi, tapi aku tidak mau jika kamu ikut. Terserah kamu mau tinggal di apartemen atau di mana pun terserah, asal bukan di rumahku. Apa kamu bersedia?" 


Bibir Nazura terkatup rapat saat mendengar permintaan Rosa yang cukup membuat hatinya terasa nyeri. Cukup sakit seperti dicubit jika dirasa. 


"Kuharap kamu ...." 


"Saya bersedia, Nyonya. Saya mungkin akan kembali ke kosan kalau memang Mas Roger tidak mengizinkan saya untuk tinggal di apartemen. Yang terpenting adalah hubungan kalian membaik," sahut Nazura lirih. Percayalah kalau ia sedang menahan rasa yang bergejolak di dalam dada. 


"Kamu yakin dengan keputusanmu? Apa kamu tidak menyesal jika jauh dari Roger? Sebenarnya aku hanya berjaga-jaga, jangan sampai kamu mengambil alih hartaku," ucap Rosa tanpa rasa kasihan sedikit pun. Padahal senyum Nazura sudah surut sejak tadi.