Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
GPH 58


"Ma-Maaf." Bryan kembali duduk tegak dan menatap ke depan. Mengembuskan napas lega itulah hal yang dilakukan ketika menyadari dirinya dan Rosa baik-baik saja. Bryan tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya kecelakaan tadi benar-benar terjadi. 


"Tidak apa, Mas." Rosa pun masih terlihat gugup. Bukan karena hampir kecelakaan, tetapi gerakan Bryan yang reflek melindungi dirinya. Hal itu mampu menciptakan sebuah gelayar aneh yang tidak pernah dirasakan sejak dulu. 


Setelah melihat Rosa terlihat tenang, ia pun kembali melajukan mobilnya dengan hati-hati. Bahkan, sangat lamban kalau menurut Rosa. Hingga hampir tiga puluh menit, mobil itu baru saja sampai di rumah Rosa. 


"Masuk dulu, Mas," tawar Rosa. Namun, Bryan menggeleng cepat. 


"Lain kali saja. Aku masih ada urusan," tolak Bryan lembut. Hanya ditanggapi anggukan lemah oleh Rosa karena sebenarnya wanita tersebut juga tidak benar-benar mengajak masuk. Hanya sebatas basa-basi saja. 


"Kalau begitu aku turun dulu." Rosa hendak membuka pintu, tetapi langsung ditahan oleh Bryan. Wanita itu pun menoleh dan menatap heran ketika melihat keraguan tampak memenuhi wajah Bryan. Bahkan, lelaki itu hanya diam saja untuk waktu yang cukup lama. "Ada apa, Mas?" 


Bryan tergagap ketika mendengar pertanyaan Rosa karena ia justru melamun tadi. 


"Em, Ros. Maafkan aku selama ini karena tidak bisa bersikap baik kepadamu bahkan aku meninggalkanmu dan mengkhianati pernikahan kita." Suara Bryan terdengar lirih dan penuh sesal. 


"Sudahlah, Mas. Aku tidak mau membahas hal yang sudah menjadi masa lalu. Aku tidak ingin kembali terluka. Sudah cukup selama ini aku selalu memikirkan semuanya sendiri," ucap Rosa lirih. Ia kembali duduk bersandar dan sengaja menghindari pandangan Bryan. 


"Ya. Ternyata aku dibodohi oleh pemikiranku sendiri. Kupikir jika aku pergi kamu akan mengejar lelaki yang kamu cintai. Menikah dengannya dan membiarkan Roger tinggal bersama pelayan, tapi ternyata aku salah sangka," tukas Bryan. 


Rosa mengembuskan napas kasar untuk sekadar mengurangi rasa sesak dalam dada. "Hah! Tentu saja tidak. Aku memang menelantarkan Roger, tetapi aku tidak berniat menikah lagi karena status kita masih sah sebagai suami-istri meskipun kamu meninggalkanku dalam waktu yang lama." 


Mata wanita itu terpejam dan berusaha menghalau agar cairan bening tidak mengalir dari setiap sudut matanya. "Sekarang aku sudah sangat menyesal, Mas. Kenapa dulu aku selalu menyiakan putra kita dan bertingkah seperti orang yang depresi berat. Sekarang aku akan memperbaiki semuanya. Menata kehidupanku yang baru dan berusaha melimpahi kasih sayang penuh kepada putraku dan anak menantuku, tentunya." 


"Dan apa kamu mengizinkan jika aku mencoba memperbaiki semuanya? Memberikan aku kesempatan lagi. Kita akan sama-sama melewati sisa hidup bersama," pinta Bryan. 


Rosa sontak membuka kedua mata dan menoleh ke arah Bryan yang sedang menatapnya lekat. "Mas, bukankah kamu baru sebulan ditinggal istrimu. Jika kamu kembali, bukankah itu artinya kamu mengkhianatinya secara tidak langsung. Bahkan, kuburan wanita itu masih basah bukan." 


"Tidak masalah. Aku tidak mencintainya. Aku menikah dengannya hanya sebatas status. Ya, meskipun aku menyadari enam bulan pernikahan kami, mampu membuat hatiku mulai tertarik kepadanya, tetapi semua sekarang percuma," kata Bryan. Ia tidak menyadari jika wajah Rosa sudah tampak murung. 


"Kenapa kamu malah melamun, Ros?" Bryan sedikit menyenggol pundak Rosa hingga membuat wanita itu terjengkit dan segala lamunannya buyar. 


"Ti-tidak, Mas. Kalau begitu aku turun dulu. Terima kasih atas tumpangannya, Mas." Rosa pun membuka pintu dan bergegas turun dari mobil. Bahkan, ia berjalan dengan cepat masuk ke rumah tanpa menoleh lagi. Ia ingin menghindar dari Bryan. 


Ia hanya mengintip dari balik tirai, melihat mobil Bryan yang masih berhenti sejenak sebelum akhirnya pergi dari rumah tersebut. Ketika mobil itu lenyap dari pandangan, barulah Rosa mengembuskan napas lega. 


"Ya Tuhan. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini," gumamnya. 


***


"Untuk apa kamu ke sana, Na. Ingat, mereka sudah menyia-nyiakanmu." Suara Roger terdengar cukup keras di ruangan. Padahal mereka sudah bersiap untuk pulang setelah seharian Nazura menemani Roger bekerja. 


"Mas, saya hanya ingin menjenguk Lolita karena dia baru pulang dari rumah sakit. Bagaimana juga, mereka adalah keluarga saya. Keluarga yang saya punya setelah orang tua saya meninggal," timpal Nazura. 


Roger berdecak kesal lalu mengurungkan langkah kakinya dan justru menghempaskan tubuhnya ke kursi. 


"Tapi aku tidak mau kamu berhubungan dengan mereka lagi. Walaupun karena mereka akhirnya aku menikah denganmu, tapi mengetahui bagaimana sikap mereka selama ini kepadamu membuat aku muak!" kata Roger tegas. "Aku tidak mau harga dirimu diinjak-injak oleh mereka," imbuhnya. 


"Mas, mereka tidak akan berani menginjak saya lagi karena sekarang saya sudah memiliki backingan yang sangat kuat." Nazura masih bersikukuh. 


Roger mendengkus kasar sambil melirik tajam ke arah istrinya. "Kamu benar-benar menyebalkan, Na. Baiklah, tapi hanya sebentar saja kita di sana. Aku tidak mau menunggu lama." 


Senyum Nazura tampak semringah saat melihat Roger sudah beranjak bangun dan berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Nazura pun mengikuti langkahnya. Lalu mereka masuk ke mobil dan bergegas pergi. 


Ketika mobil Roger berhenti di depan rumah Bima, Nety yang kala itu baru pulang berbelanja pun merasa heran. Menatap takjub ke arah mobil mewah yang berhenti di pelataran rumah. Namun, wajahnya mendadak tak bersahabat ketika melihat Nazura keluar dari mobil tersebut. 


"Dasar wanita sialan!"