Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
GPH 52


Roger sudah berniat akan datang ke Jogja untuk menyusul istrinya. Dengan modal alamat nenek Devi yang ia dapatkan dari toko tempat di mana wanita itu bekerja, Roger sangat tidak sabar ingin segera bertemu dengan Nazura. 


Namun, ketika hendak masuk ke mobil, Roger terkejut ketika melihat kedatangan Rosa bersama dengan dua orang pelayan. Wanita itu belum sepenuhnya pulih, tetapi dengan tertatih datang menemui putranya. Akan tetapi, rasa kecewa yang Roger rasakan membuatnya tidak peduli kepada wanita tersebut dan lebih memilih untuk tetap masuk ke mobil dan duduk tenang di kursi sopir. 


"Tunggu, Roger." 


Roger yang hendak menginjak pedal gas pun mengurungkan niatnya ketika melihat Rosa sudah berdiri di depan mobilnya. Wanita itu merentangkan tangan dan berusaha untuk menghalangi. 


"Untuk apa wanita tua itu di sana," gumam Roger mendengkus kasar. Ia sama sekali tidak turun dari mobil. Hanya mengamati gerak-gerik Rosa yang berjalan mendekat dan mengetuk jendela mobil berkali-kali. 


"Kamu mau ke mana?" tanya Rosa saat Roger baru membuka kaca jendela tersebut. 


"Bukan urusanmu aku mau ke mana." Nada bicara Roger terdengar sangat ketus. Bahkan, ia sama sekali tidak menatap Rosa. Menghindari pandangan dari wanita itu. 


"Kalau kamu mau menyusul Nazura maka izinkan mama ikut, Nak," pinta Rosa memelas. 


"Untuk apa? Untuk menghinanya lagi? Tentu saja aku tidak akan mengizinkannya. Kalau kamu mau menghina istriku maka kamu harus melewatiku dulu. Aku tidak akan membiarkan kamu melakukannya lagi." Suara Roger terdengar tegas dan penuh penekanan. 


"Tidak akan. Mama janji tidak akan menghina istrimu. Mama hanya ingin minta maaf kepadanya," pinta Rosa memelas. 


Sungguh, itu adalah sebuah kejujuran. Setelah semalaman memikirkan semuanya, Rosa menyadari kalau ia telah salah selama ini. Tidak seharusnya ia bersikap seperti itu kepada Nazura. 


"Kamu pikir akan semudah itu aku percaya padamu?" Roger menoleh, menatap Rosa disertai senyuman miring. "Aku bukanlah anak yang mudah kamu bodohi seperti dulu." 


"Mama bersumpah, Nak. Mama sangat menyesal dan izinkan mama untuk memperbaiki semuanya. Mama mohon, Nak." Rosa sampai menangkup kedua tangan di depan dada. Begitu memohon kepada Roger. 


Roger tidak menolak cepat dan tidak mengiyakan begitu saja. Banyak hal yang harus ia pertimbangkan. Berusaha menelisik wajah Rosa dan mencari kesungguhan lewat sorot mata wanita itu.  Setelah cukup lama berpikir, Roger pun menyuruh Rosa untuk masuk ke mobil bersama pelayannya. Namun, ia tidak membiarkan begitu saja. Ia meminta tiga orang anak buah untuk mengikutinya dan berjaga-jaga jika ada hal yang tidak diinginkan nantinya. 


Selama dalam perjalanan menuju ke Jogja, suasana di mobil tersebut terasa senyap. Tidak ada percakapan apa pun. Roger dan Rosa sama-sama menutup mulut mereka dan lebih memilih untuk sibuk dengan pikiran masing-masing. 


Perjalanan yang ditempuh beberapa jam itu pun akhirnya membawa mobil Roger masuk ke sebuah perkampungan yang masih sangat asri. Udaranya terasa begitu sejuk dan memanjakan paru-paru, berbanding terbalik dengan udara di perkotaan yang dipenuhi gedung pencakar langit dan udaranya pun penuh dengan polusi setiap hari. 


Melihat sebuah mobil mewah berhenti di halaman rumah membuat beberapa orang menatap heran sekaligus takjub. Mereka berlari tergopoh-gopoh mendekati Roger DNA mengira kalau lelaki itu adalah pejabat yang mampir. 


"Wah, orang kota kok bagus tenan. Wes koyo pejabat." 


(Wah, orang kota kok ganteng sekali. Sudah seperti pejabat).


Seorang wanita gendut mendekati Roger. 


Roger hanya tersenyum simpul karena tidak paham apa yang diucapkan wanita itu. 


"Badhe tindak dalemipun sinten, Mas?"


(Mau ke rumah siapa, Mas?)


"Maaf, Bu. Bisakah pakai bahasa Indonesia? Saya tidak bisa memakai bahasa Jawa." Roger benar-benar tidak bisa menerjemahkan ucapan wanita itu. Rosa pun sama karena mereka asli orang kota. 


Ketika wanita itu baru saja hendak berbicara lagi, mereka semua dikejutkan dengan teriakan Devi dari dalam rumah yang memanggil nama Roger. Gadis itu terlihat berlari disusul oleh Nazura di belakang. 


Melihat keberadaan istrinya, senyum Roger pun mengembang sempurna. Bahkan, lelaki itu berjalan cepat dan langsung memeluk istrinya sangat erat, sedangkan Devi hanya memeluk udara. 


"Yaelah, aku lupa kalau jomblo." Devi menepuk kening lalu berbalik dan menatap sahabatnya dengan kesal. 


Ia iri dan ingin dipeluk seperti itu. 


"Aku merindukanmu, Na." Roger memeluk Nazura sangat erat seolah tidak ingin melepaskan. Namun, Nazura yang awalnya membalas pelukan tersebut pun langsung melerai dengan cepat hingga membuat Roger terheran.


"Kamu tidak merindukanku?" tanya Roger kesal. Ia merasa tersinggung dengan sikap istrinya. 


"Ma-Mas, saya tidak tahu kalau ada Nyonya Rosa di sini." Nazura menunduk dalam dan tubuhnya sedikit gemetar ketika melihat Rosa berdiri di samping mobil.