Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
Part 2


Bagaskara mempercepat hari pernikahannya, setelah sepakat dia meminta acara pernikahannya diadakan di rumah barunya yang nantinya akan di tempati oleh Gadis. Sebagai orangtua Nurlita mengikuti apa yang putranya inginkan, dia juga tidak menyalahkan, karena dia tahu posisi yang sedang putranya hadapi. Ini memang kesalahan Bagas, kenapa dia memberi ijin kepada istrinya untuk melanjutkan kuliah di Luar Negeri.


"Sekarang, apa yang harus Mami kerjakan untuk membantu persiapan pernikahan kalian, supaya berjalan lancar kita harus menyiapkan segala sesuatunya," ucap Nurlita Maminya.


"Udah ada yang ngurus, Mam...Mami ngga usah cape, tinggal ngawasi aja, jangan lupa istirahat."


Bagas mendekat, dia duduk dihadapan Maminya yang sedang duduk di sofa, diciumnya tangan yang mulai keriput. Bagas satu rumah dengan Nurlita, karena kakaknya Angga memilih tinggal di Perancis.


Nurlita mengusap lembut rambut putranya," Jaga rahasia ini jangan sampai Delia tahu, Mami tidak membenarkan perbuatanmu tapi juga tidak menyalahkanmu, Delia adalah orang yang sangat kamu cintai jangan sampai dia kecewa karena ulahmu."


"Iya, Mam...aku tahu itu." Bagas bangun dan mengambil tas kerjanya, dia melangkah keluar menuju mobil yang sudah terparkir di sana. Mobil pun melaju menuju kantor miliknya.


Nurlita menarik nafas panjang dan melepaskannya pelan. Dia menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Entah apa yang harus Mami lakukan, menyalahkanmu jelas tidak mungkin. Ini salahnya Delia, kenapa mau menikah kalau hanya untuk pergi lagi. Sebenarnya Mami tidak suka sama Delia tapi kamu sangat mencintainya. Kalau istri yang baik harusnya menghormati keputusan suami, jangan memaksa untuk ke Luar Negeri."


Nurlita masih duduk termenung di ruang tengah sendirian. Di rumah itu hanya ada beberapa asisten rumah tangga yang sudah puluhan tahun kerja di rumahnya.


Hari pernikahan tinggal menghitung hari, tak ada yang harus di siapkan secara khusus. Bagaskara pun masih berangkat ke kantor seperti biasa. Dengan dibantu sekretaris pribadinya dia mengerjakan pekerjaan yang menumpuk karena beberapa hari dia pergi ke luar kota bersama orang kepercayaannya.


"Ren, tolong kalau kamu sudah selesai segera bawa ke meja kerjaku, mungkin lusa aku ambil cuti satu minggu. Aku harap kamu sama Reihan bisa membereskan pekerjaanku yang tertunda," titah Bagaskara. Rena pun keluar dari ruangan Bagaskara setelah mendapatkan tugas dari atasannya. Bagas bergegas menuju lift, dia pulang lebih awal.


Berbeda dengan Gadis, dia bersama neneknya sedang duduk santai di samping rumah. Ya, Gadis memang sangat dekat dengan neneknya, dari kecil dia tinggal bersama neneknya setelah masuk sekolah tingkat pertama dia harus pulang ikut ke rumah ayahnya kembali. Usaha yang ayahnya kelola gulung tikar, hingga rumah bu Halimah dijual untuk menutupi hutang anaknya. Sangat di sayangkan kenapa kasus seperti itu terulang lagi bahkan ini mengorbankan cucu tercintanya.


"Gadis, cucuku...jangan cemberut seperti itu, berdo'alah kepada Tuhan, supaya pernikahan kalian bahagia nantinya. Biar nenek juga ikut bahagia." Bu Halimah mengusap lembut rambut cucunya.


"Iya, nek." Gadis menjatuhkan kepalanya di pangkuan neneknya. Hingga sore hari mereka masih asyik bercengkerama, untuk menghibur hati Gadis yang sedang tidak bahagia. Bu Halimah tersenyum saat melihat cucunya ikut tertawa.


*****


Hari ini adalah hari pernikahan Gadis dengan Bagaskara yang dilangsungkan secara diam-diam. Hanya ada beberapa orang saja yang berada di ruangan itu, salah satu di antaranya yaitu pak Rudi Laksono beserta istri sebagai wali. Setelah dirasa cukup untuk saksi, acara pun dimulai.


Sementara Gadis yang berada di kamar sudah terlihat cantik dan anggun. Tak nampak wajah bahagia menghiasi pernikahannya, wajah murung yang ia tebarkan membuat ibu dan neneknya semakin bersedih.


Hanya pernikahan sementara, tapi hal ini pasti akan membuat hidup Gadis menderita. Gadis keluar dari kamarnya dan duduk di samping ayah nya selaku wali. Wajahnya sudah terlihat cerah, Gadis tidak mau membuat keluarganya semakin besalah.


Acara pun berlangsung dengan khidmat, hanya keluarga dan orang kerabat dekat saja yang hadir. Bagaskara terlihat biasa saja tak ada beban kasihan atau apa, yang ada dipikirannya dia membeli Gadis dengan banyak uang untuk membayar hutang pak Rudi kepada seorang rentenir.


Ketika penghulu sudah menyatakan "sah" semua mengucapkan syukur alhamdulillah, Gadis tersenyum kepada tamu yang hadir pada acara tersebut. Bagaskara menatap Gadis dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Kalian sudah resmi menjadi sepasang suami istri, saya titip Gadis pada Nak Bagas, bimbing dia sebagai istri yang sholeha, dan jadilah kamu imam yang baik untuk istri-istrimu."


"Iya, pah..." jawab Bagas pada posisi sungkem. Walaupun hati menjawab lain.


Setelah acara selesai, pak Rudi beserta keluarga pun berpamitan untuk pulang, dan meninggalkan Gadis tinggal di rumah yang baru Bagas belikan sebagai tempat tinggal mereka. Mereka berlalu meninggalkan rumah itu dan masuk ke dalam mobil. Tak henti-hentinya ibu Halimah menangis, dia tidak tega melihat cucunya yang harus berkorban demi orangtuanya.


"Sudahlah bu, jangan buat suasana semakin tidak enak, aku tahu bu...ini kesalahanku, tapi semuanya sudah terjadi. Kita hanya berharap semoga Bagas adil dalam segala hal untuk kedua istri mereka. Do'akan saja bu, semoga Gadis bahagia."


Suasana menjadi hening, hanya suara deru mobil yang menemani perjalanan mereka. Ibu Rani pun tak mampu berucap, matanya juga terlihat sembab. Sebagai seorang ibu, pasti merasakan betapa menderitanya Gadis yang menikah bukan atas dasar cinta.


Sementara Nurlita sudah sampai di rumahnya, dia juga meninggalkan rumah putranya. Nurlita masuk ke dalam rumahnya, dan duduk di ruang tengah.


"Rangga...Mami udah berapa hari ngga denger suaramu, lagi apa dia ya, apa aku kasih tahu ke Rangga kalau Bagas menikah lagi, ah, jangan! Biarlah ini jadi rahasia Bagas."


Nurlita mengambil ponselnya dari dalam tas, dia menggeser ponselnya untuk memghubungi putranya yang di Perancis. Terlihat beberapa kali pangilan, namum teleponnya tidak juga diangkat. Nurlit menarik nafas panjang dan kembali menyandarkan kepalanya di sofa.


*****


Bagas masuk ke dalam kamar, dan mendapati Gadis sedang mengganti bajunya. Nampak kaget Gadis menengok ke arah sumber suara yang datang tiba-tiba.


"Kamu ngga ketul pintu dulu, aku sedang ganti baju, bukankah ini masih siang, kamu mau apa?" tanya Gadis sambil menundukan kepalanya.


"Ini kan kamarku, mau tidur mau apa teserah aku dong! Awas minggir, aku mau istirahat dulu, cape!"


Gadis beranjak ke sofa, setelah dia selesai mengganti bajunya kemudian dia kembali duduk di sofa. Dalam hatinya bertanya-tanya." Kata orang mereka menikah kan, pengin malam pertama sama isrinyaa, kenapa dia malah tidur. Beruntunglah aku, karena aku belum siap untukenikah"


Sore itu berlalu biasa saja, tak ada saling sapa, mereka hanya diam. Bagas yang awalnya berkobar-kobar untuk segera melakukan ritual malam pertama pun mendadak dingin tak bersemangat.


Besambung...