Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
Part 12


"Pokoknya selama aku pergi kamu tidak boleh keluar rumah, jangan mau diajak keluar sekalipun itu mami, paham!!"


Bagas menyiapkan pakaian dan keperluan lainnya untuk ke Paris. Dia akan pergi bersama Angga tanpa sepengetahuan Delia, Bagas akan membuktikan bahwa Delia adalah istri yang baik. Delia tak berani membantu mengemas barang takut salah masukin barang ke dalam tasnya.


"Maaf, sepertinya Tuan mau pergi jauh, kemana gerangan kalau boleh saya tahu," tanya Gadis.


"Kamu tidak perlu tahu kemana aku pergi, yang penting patuhi saja perintahku. Ingat, jangan keluar rumah!"


"Ba-baik Tuan," jawab Gadis ketakutan. Sambil memperhatikan, Gadis yang masih penasaran terus mencari tahu sendiri kemana suaminya akan pergi. "Apa dia mau keluar kota untuk urusan pekerjaan?" tanya Gadis menerka-nerka.


"Tolong bawain ini keluar, masukin ke dalam mobil." Bagas mengambil ponsel dan jaket, lalu bergegas keluar mengikuti Gadis.


Beberapa saat kemudian, Bagas sudah berada di dalam mobil. Gadis masih berdiri di halaman rumahnya menatap kepergian suaminya.


"Suami! Suami apaan kaya gitu, ditanya jawabnya ketus, kapan sih bikin aku nyaman di rumah. Ya, Tuhan...kenapa Engkau kirimkan suami seperti Bagas, bukankah masih banyak lagi laki-laki baik di luar sana..." Dengan kesal Gadis masuk ke dalam rumah. Dikuncinya pintu dari dalam dan masuk ke dapur untuk membereskan piring kotor.


*****


"Hati-hati dalam perjalanan, kabari mami kalau udah sampai ya," pesan Nurlita kepada anak-anaknya.


"Iya Mam, jaga kesehatan...hindari nyetir sendiri, ngajak supir kalau mau bepergian," ucap Angga sambil memeluk Nurlita.


Keduanya bergegas naik ke mobil dan perlahan meninggalkan halaman rumah.


Angga sengaja mengajak Bagas untuk ke Paris, dia ingin supaya Bagas tahu kelakuan istrinya seperti apa. Mereka diantar oleh supir menuji Bandara.


****


Walaupun bukan sosok suami yang baik, tapi kepergian Bagas membuat Gadis merasa kehilangan. Dia seperti sikirung di dalam rumah, tak diperbolehkan beraktifitas keluar rumah selain di halaman.


"Kenapa sih Bagas tega banget, emang aku ini buah, hhhh..." gerutu Gadis tidak henti-henti.


Gadis meraih ponsel yang ada di atas nakas, dia mencoba menghubungi ibu mertuanya untuk menghilangkan kejenuhannya. Setelah beberapa saat menelpon ibu mertuanya akhirnya terhubung ke ponsel Nurlita.


"Mami tahu, pasti kamu kesepian di rumah sendirian. Mami suruh sopir jemput kamu ya..."


"Ngga Mam...Mas Bagas tidak mengijinkan aku keluar rumah, nanti aku kena marah."


"Ya udah, mami aja yang ke rumah kamu, nanti mami nginep di rumah kamu, biar kamu ada temen. Mami siap-siap dulu ya...tunggu Mami." Sikap perhatian dari Nurlita membuat sedikit bahagia.


Nurlita bersiap-siap menuju rumah Gadis, dipanggilnya supir untuk mengantarnya. Dia tidak ingin menantunya sedih karena kesepian tidak ada yang menemani. Nurlita sangat tahu perasaannya, karena dirinya pun mengalami hal yang sama kesepian di rumahnya sendiri.


"Mari nyonya, mobil sudah siap di halaman. Ada yang bisa saya bantu bawa keluar nyonya?"


"Oh, iya...tolong bawain itu ya..." Nurlita menujuk pada kantong kresek berisi bahan kue, dia ingin mengajak Gadis belajar bikin kue.


Mereka pun keluar menuju mobil yang sudah terparkir di halaman. Perlahan mobil melaju menuju rumah Gadis. Jarak rumahnya tidak terlalu jauh hanya butuh waktu kira-kira satu jam.


Mobil pun sampai di halaman rumah Gadis, disambutnya dengan pelukan hangat oleh sang menantu. Gadis membantu membawakan kantong kresek yang Nurlita bawa.


Sembari berjalan Nurlita menjawabnya," Mami mau bikin kue, ada beberapa macam kue kesukaan Bagas, nanti kamu bisa belajar resepnya ya."


Gadis mengantar ibu mertuanya sampai ke kamar untuk menyimpan pakaian gantinya, lalu bergegas ke dapur. Setelah mengganti bajunya Nurlita pun menuju dapur di mana Gadis berada.


"Saat usia pernikahanmu berakhir, ini bisa jadi peluang bisnis buat kamu, untuk toko nanti mami bisa mencarikannya." Nurlita berharap mengajari Gadis membuat kue untuk bekal nanti apabila pernikahan mereka berakhir.


"Iya, Mam...tapi tidak usah merepotkan mami, biar nanti Gadis berusaha sendiri mencari uang untuk membeli kios."


Usia pernikahan mereka sebentar tinggal beberapa bulan lagi, Nurlita tidak dapat membantu lebih jauh urusan mereka yang sudah terikat perjanjian. Dia hanya bisa membantu di luar apa yang sudah menjadi kesepakatan mereka.


Nurlita menatap Gadis yang sedang membuka beberapa bahan kue ke dalam baskom. " Sebenarnya mami ngga tega meleoasmu nanti, mami sudah menganggap kamu seperti anak kandung mami. Delia tidak mungkin bisa seperti ini." mata Nurlita berkaca-kaca, tak ingin dia memperlihatkan kesedihannya buru-buru menyeka air matanya yanf menetes.


"Ayo Mam...apa lagi yang harus aku siapkan..." ajak Gadis polos.


Nurlita mengajari step by step cara membuat kue yang enak dan legit. Dengan semangat dan sabar Gadis mengikuti apa yang diajarkan ibu mertuanya.


Setelah beberapa jam berkecimpung di dapur, akhirnya beberapa kue pun berhasil di selesaikannya.


"Hmm, enak ya Mam...apa ini kue kesukaan Mas Bagas?" tanya Gadis dengan mulut masih penuh dengan kue.


"Iya, ini salah satunya...tapi yang terpenting kamu harus bisa bikin beberapa kue untuk modal dasar buat usaha kamu nantinya."


"Oke, enak semua Mam, aku suka...eumm, Mam...apa nanti Mami akan tetap seperti ini kalau Mas Bagas sudah menceraikan aku?" tanya Gadis lugu.


"Iya, mami akan anggap kamu sepertu anak kandung mami..mami kan ngga punya anak perempuan, jadi kamu bisa jadi anaknya mami..." jawab Nurlita sambil tersenyum.


"Makasih, Mam...Mami udah sangat baik sama Gadis." Gadis memeluk erat ibu mertuanya, Nurlita pun membalasnya dengan pelukan dan belaian lembut layaknya seorang ibu sama anak gadisnya.


"Gimana hubungan kamu sama keluargamu, apa keadaan mereka baik-baik saja di sana..."


"Iya, Mam...kemarin udah telepon sama mereka, saat ini aku belum bisa berkunjung ke sana, kalau pengin main nanti nunggu Bagas pulang Mam."


"Kamu itu anak penurut dan juga istri yang patuh terhadap suami, walaupun Bagas tidak pernah menyayangi ataupun membahagiakanmu," ucap Nurlita dalam hati.


Mereka menghabiskan waktunya untuk bertukar cerita, Nurlita merasa iba dengan nasib yang Gadis alami. Dari kisah masa lalu Gadis membuat Nurlita semakin menyayanginya.


Malam ini Nurlita menginap di rumah Gadis tanpa sepengetahuan Bagas. Dia ingin menemani Gadis yang Bagas kurung di rumahnya, dia tidak mau kesedihan Gadis semakin dalam. Untuk menemani dan menghiburnya.


Malam semakin larut, keduanya masuk kamar masing-masing untuk beristirahat.


Gadis tersenyum sendirian, dia terlihat bahagia dengan adanya Nurlita di rumahnya. Gadis menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur.


"Andaikan saja aku beneran jadi istri yang dicintai Bagas, punya mertua yang baik hati, perhatian dan sayang." pikiran Gadis terbang berandai-andai. Hingga rasa kantuk membawanya tidur untuk menjelajah mimpi indahnya.


*****


Bersambung...