
Pertanyaan dari Roger membuat Bryan bingung ketika akan menjawab. Ada kebimbangan ia rasakan. Namun, melihat sorot mata Roger yang begitu memohon membuat lelaki itu mendadak tidak tega.
"Maafkan papa, Nak. Karena selama ini tidak bisa menjadi papa yang baik untukmu. Papa justru meninggalkanmu ketika dirimu masih butuh kasih sayang. Bahkan, papa membiarkan kamu menjadi samsak mamamu karena ia menanggung beban pikiran." Bryan mengembuskan napas kasar. "Papa sudah merasa gagal sejak dulu."
"Masih ada kesempatan dan papa bisa mencobanya kembali." Roger berusaha menguatkan. "Sama seperti apa yang diucapkan Nazura, semua orang pernah melakukan kesalahan dan mereka masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki," imbuhnya.
"Ya, tapi apakah papa masih memiliki kesempatan itu? Papa tidak tahu cara merebut hati mama kamu ketika pertama kali dijodohkan. Semakin papa mencoba mendekati, mama justru semakin mengokohkan benteng yang membentang di antara kita sampai pada akhirnya papa memilih untuk menyerah dan pergi. Papa berharap mama kamu bisa hidup bahagia dengan lelaki yang dicintainya, tetapi ternyata salah."
"Mama tidak menikah dengan siapa pun setelah kepergian Papa. Bukankah itu artinya mama setia kepada Papa." Roger berbicara kenyataannya, bukan karena ingin memojokkan Bryan.
"Ya, justru papa yang menikah lagi dan mengkhianati pernikahan kami. Sungguh, papa makin merasa bersalah," keluh Bryan.
"Sudahlah, Pa. Buat aku yang lalu biarlah berlalu dan menjadi kenangan. Tugas kita sekarang adalah menata masa depan dan menyambut kebahagiaan. Aku pun sudah memaafkan mama karena Nazura yang memintanya. Apa salahnya kita saling berbaikan dan membuka hati untuk saling mengerti," ujar Roger memberi nasehat.
Bryan pun hanya mengiyakan ucapan putranya. Ia tidak menyangka jika Roger ternyata sudah sedewasa itu. Ia merasa yakin kalau perubahan sikap Roger itu karena ada campur tangan Nazura.
Ah, ngomong-ngomong soal Nazura, ia belum berkenalan lebih jauh dengan anak menantunya dan sepertinya Bryan ingin sekali mengenal Nazura lebih dekat sebagai anak yang sudah memiliki pemikiran dewasa.
Perhatian kedua lelaki itu teralihkan ke arah pintu. Mereka terkejut ketika melihat Nazura masuk bersama dengan Rosa. Wajah Bryan yang barusan tenang pun kini mendadak gugup. Ia merasa grogi ketika harus bertatapan dengan Rosa.
"Kamu di sini, Mas?" tanya Rosa.
Bryan mengangguk cepat. "Ya, aku sedang menemui putraku."
"Em, mama hanya mengantar Nazura karena dia ingin ke sini dan khawatir akan ditolak oleh karyawanmu," jelas Rosa apa adanya. Ia tidak peduli meski Nazura sudah menyenggol lengannya untuk memberi kode agar tidak mengadu apa pun. Namun, sepertinya Rosa bukan orang yang semudah itu untuk dipercaya. Buktinya, wanita itu justru tersenyum senang ketika melihat kegugupan di wajah Nazura.
"Astaga, Na. Kenapa begitu? Kamu tinggal datang ke sini dan katakan saja kalau kamu adalah istriku. Kalau mereka tidak percaya, biar aku yang datang menjemputmu," kata Roger tegas. Beranjak bangun dan mendekati istrinya.
"Kalau mereka tetap tidak percaya lalu mengusir saya bagaimana, Mas? Masa iya, saya harus teriak-teriak dan bikin keributan supaya bisa memanggil kamu," dengkus Nazura. Mengerucutkan bibir hingga membuat Roger gemas dan tanpa sadar mengecup lembut bibir wanita itu. "Ish, ada orang tuamu, Mas."
"Tidak apa. Biar mereka ingin dan siapa tahu bisa bersatu lagi," kata Roger santai. Tidak peduli meskipun wajah kedua orang tuanya sudah sangat gugup dan saling mencuri pandang.
Keempat orang itu pun mengobrol bersama, saling bertukar cerita. Bahkan, Rosa dan Bryan sudah tidak sekaku dulu. Ketika Bryan hendak berpamitan pulang, bersamaan dengan Rosa yang juga ingin pulang. Roger pun memberi kode kepada Nazura agar tetap tinggal di sana dan membiarkan kedua orang itu agar pulang bersama. Awalnya Rosa hendak menolak, tetapi pada akhirnya ia pun mengiyakan.
"Mas, kamu tidak kembali ke luar negeri? Atau tetap akan tinggal di Jogja?" tanya Rosa ragu. Ia hanya sedang berusaha memecahkan keheningan di dalam mobil.
"Tidak. Aku akan menetap di sini. Aku sudah membeli apartemen dan mungkin akan mengelola bisnisku yang selama ini di kelola oleh orang lain," terang Bryan.
"Oh, kupikir kamu akan kembali ke luar negeri," ujar Rosa lirih.
"Kenapa? Kamu sangat ingin aku tinggal di luar negeri?" Bryan menoleh ke arah Rosa sekilas lalu kembali fokus pada kemudi.
Rosa tidak menjawab, ia justru diam dan menyandarkan kepala lalu memejamkan mata. Namun, Rosa tersentak ketika mobil itu berhenti mendadak dan Bryan sudah mendekap erat tubuhnya. Mobil yang dikemudikan Bryan hampir saja bertabrakan dengan sebuah mobil box dari arah depan. Beruntung Bryan bisa mengerem dan menghindar dengan cepat.
"Ma-Mas." Hati Rosa serasa lumpuh ketika bertatapan dengan Bryan dengan jarak sedekat itu.