Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
GPH 74


Nazura sedang bahagia dengan kehamilan keduanya. Devi pun juga sedang bahagia menjalani kehamilan anak pertamanya, sedangkan Lolita sampai saat ini masih terus berusaha agar bisa mendapat garis dua. Walaupun terkadang ia kepikiran karena belum juga hamil, tetapi Akmal tidak pernah lelah memberi semangat. Memberi nasehat bahwa anak adalah rezeki dan akan datang jika memang waktunya sudah tiba. 


"Ma, aku belum hamil juga. Apa itu artinya aku tidak bisa hamil. Aku takut menerima kenyataan kalau ternyata aku ini wanita mandul, Ma," keluh Lolita. Hal sudah biasa dikeluhkan ketika hanya ada dirinya dan Nety di rumah. Jika ada Bima ataupun Akmal, sudah pasti Lolita akan mendapat ceramah panjang kali lebar. 


"Hust! Kalau bicara jangan sembarangan," protes Nety. "Kamu itu bukan wanita mandul, tapi memang belum rezeki aja dan mungkin kalian sedang diberi waktu untuk saling bisa memahami. Berdoa terus semoga kalian lekas mendapatkannya. Lihatlah, di luaran sana ada banyak wanita yang memerlukan waktu bertahun-tahun hanya untuk menimang buah hati. Bahkan, ada yang tidak bisa memiliki anak sama sekali dan mereka tetap baik-baik saja. Jadi, mama harap kamu tidak akan pernah menyerah apalagi berpikir sampai seburuk itu." 


"Tapi, Ma. Aku selalu merasa cemas. Bagaimana kalau ternyata aku tidak bisa hamil, apa Akmal akan tetap bertahan bersamaku? Aku khawatir dia akan menikah lagi hanya untuk mendapatkan keturunan," tukasnya. Raut wajahnya mendadak sendu karena benar-benar kepikiran tentang anak. Lolita sudah berusaha menyingkirkan pikiran buruk tersebut, tetapi tidak bisa. 


"Tidak mungkin. Mama itu bisa lihat kalau Akmal sangat sayang sama kamu. Jadi, dia tidak akan mungkin meninggalkanmu apalagi sampai menikah lagi. Lagi pula, kalian belum ada satu tahun menikah, jadi ya jangan cemas. Kecuali kalau kalian sudah menikah bertahun-tahun, tapi belum hamil juga. Barulah kamu belingsatan seperti ini."  


"Tapi Nazura sudah hamil dua kali, Ma. Bahkan, Gavi yang masih sekecil itu saja sudah mau punya adik," keluhnya lagi. Bahkan, Lolita terlihat sangat sedih seperti hendak menangis. Hal itu sungguh sangat mengusik pikirannya. 


"Jangan samakan kamu dengan yang lain termasuk Nazura. Semua orang itu punya jalan yang berbeda-beda. Jadi, lebih baik sekarang kamu tenang dan jangan berpikir macam-macam karena itu jutru akan memengaruhi hormon kamu nanti. Santai dan jalani saja apa adanya," nasehat Nety. Entah berapa kali Nety sudah memberi nasehat itu kepada putrinya. Namun, Lolita tetap saja sering mengeluh. 


Mengeluhkan hal yang sebenarnya belum waktunya untuk dikeluhkan. 


"Baiklah, Ma. Kalau begitu aku ingin ke rumah Nazura saja. Mungkin dengan bermain bersama Gavi, pikiranku akan lebih tenang." Devi bangkit berdiri dan menyalami sang mama. Nety pun tidak melarang dan justru mengiyakan begitu saja. 


Obat kegelisahan bagi Devi yang paling manjur sekarang ini adalah bermain bersama keponakannya yang mulai aktif. Walaupun terkadang rusuh dan usil, tetapi hal tersebut justru menjadi kebahagiaan tersendiri untuknya.  


Lolita pun pergi ke rumah Nazura sendirian karena Akmal sedang bekerja. Setibanya di sana, Lolita langsung disambut oleh Nazura yang sedang bermain di halaman depan bersama Gavi dan beberapa pelayan yang berjaga. Berdiri tidak jauh dari wanita itu. 


"Hallo, Sayang." Lolita menggedong Gavi dan langsung menghujami wajahnya dengan banyak ciuman. 


"Ate ... Ate ...." Gavi tampak kegirangan bahkan saking senangnya ia sampai menjambak rambut Lolita. Semakin Lolita mengaduh maka Gavi akan semakin bersemangat untuk menjambak.


"Ya Tuhan, ini sakit, Gav." Lolita pun dengan terpaksa menurunkan Gavi dan membenarkan rambutnya yang berantakan. 


"Sakit, Ta?" Nazura tertawa meledek dan hal itu membuat Lolita mendengkus kasar. 


Lalu mereka pun masuk dan Gavi terus saja bergelayut manja kepada Lolita. Semua benar-benar berubah karena sekarang Lolita sudah tidak seperti dulu. Wanita itu sekarang lebih penyayang dan bersikap lembut. Apalagi kepada Nazura, sangat manja hingga terkadang membuat Nazura merasa kesal. Tingkahnya terkadang seperti anak kecil.


"Na, kasih aku resep, dong." Lolita menaik-turunkan alisnya hingga membuat Nazura merasa curiga. 


"Resep apaan? Bikin soto? Atau opor?" tanya Nazura berusaha menahan tawa. 


"Kamu itu mulai menyebalkan. Kalau itu mah, buat apa. Aku juga tidak pernah berkutat di dapur. Bukankah kamu tahu kalau aku masuk ke dapur maka mama akan mengomel sepanjang hari," sahutnya setengah merengek. 


"Ya kamu belajar denganku saja. Aku yakin Akmal pasti akan senang jika kamu memasak sendiri. Walaupun makanan seorang istri terkadang tidak enak, tetapi suami akan senang memakannya. Percayalah padaku, Ta," kata Nazura.


Lolita mengangguk perlahan mengiyakan ucapan wanita itu. "Em, kalau begitu ajari aku memasak, Na. Kamu tidak berada di fase mual-mual 'kan?" 


Nazura menggeleng lemah. "Tidaklah, yang ngerasain morning sickness itu Mas Roger bukan aku." 


"Lah, kok. Enak di kamu dong kalau gitu," ujar Lolita. 


"Ya, kita tidak merasakan mual dan pusing. Katanya kalau lagi awal hamil itu terkadang bikin kita sampai harus bedrest. Makan apa muntah. Makanan baru masuk sudah keluar lagi. Kalau suami kita yang ngerasain, itu artinya kita enggak sakit, dong," timpal Lolita. 


Nazura menggeleng sambil berdecak. "Sama aja. Suami kita seperti itu, juga kita yang repot mengurusnya bukan lagi nanti pekerjaannya pasti keteteran. Sudahlah, lebih baik sekarang kita ke dapur dan aku akan mengajari kamu memasak." 


Nazura menitipkan Gavi kepada salah seorang pelayan dan ia bergegas ke dapur bersama Lolita. Dengan telaten, Nazura mengajari Devi memasak dan memperkenalkan bumbu-bumbu dapur yang sama sekali tidak diketahui oleh Lolita. 


Hampir seharian mereka berkutat di dapur. Setelah masakan itu matang, dengan antusias Lolita pulang ke rumah dan hendak menunjukkan makanan tersebut kepada suaminya. Ia tidak sabar melihat respon Akmal nanti. 


Pasti lelaki itu akan bahagia. Pikirnya. 


"Aku pulang," teriak Lolita saat baru saja masuk ke rumah. Senyumnya makin merekah lebar ketika melihat Akmal yang sedang duduk di depan televisi. Sepertinya lelaki itu sedang menunggu kepulangannya. 


"Kamu dari mana?" tanya Akmal. Menatap tempat makanan yang dibawa oleh Lolita. 


"Dari rumah Nazura. Seharian ini aku belajar memasak dan lihatlah." Lolita duduk di samping Akmal dan membuka tempat makanan tersebut. "Taaraa!! Makanan spesial untukmu." 


"Kamu memasaknya sendiri?" tanya Akmal tidak percaya. Lolita mengangguk dengan cepat dan langsung menyuapi suaminya makanan itu. "Aku tidak percaya kalau kamu yang memasak ini." 


"Ish! Ini ada campur tangan Nazura, Mas Bagaimana rasanya, Mas?" tanya Lolita tidak sabar mendengar jawaban suaminya. 


Akmal sibuk mengunyah untuk merasakan makanan itu. "Enak, tidak terlalu buruk juga untuk pemula sepertimu." 


"Berapa nilai yang akan kamu kasih kepadaku, Mas."


"Tujuh puluh lima dulu, deh. Kalau besok lebih enak lagi, aku kasih nilai sempurna," kata Akmal. 


"Baiklah. Kalau begitu aku akan mencoba lagi agar bisa mendapat nilai sempurna," kata Lolita bersemangat. 


"Okelah, tapi sekarang kita ke kamar dulu. Ngadon, siapa tahu nanti ada benihku yang lekas tumbuh di rahimmu." 


Mendengar ucapan suaminya, senyum Lolita pun memudar saat itu juga. "Mas, kalau ternyata aku tidak hamil juga bagaimana? Apa kamu akan menikah lagi?" tanyanya khawatir. 


Akmal tergelak keras karena mendengar pertanyaan itu. "Mana mungkin aku melakukan hal yang konyol. Kalaupun kamu belum hamil maka aku akan melakukannya terus sampai kamu hamil." 


"Tapi kalau aku tidak hamil juga bahkan sampai kita menua?" Lolita masih saja merasa cemas. 


"Hei, jangan seperti orang kuno. Jika kamu tidak hamil juga, masih ada banyak cara. Kita bisa melakukan pengobatan alternatif atau melakukan progam bayi tabung. Jangan bingung di zaman modern seperti ini." Akmal berusaha untuk memberi semangat dan mengusir pikiran buruk yang terus saja bersemanyam dalam otak Lolita. 


"Mas—"


"Sudah, jangan banyak bicara. Lebih baik sekarang kita ke kamar. Kita ikhitar lagi."


Lolita hanya diam ketika Akmal sudah membopongnya masuk ke kamar. Ia berharap semoga Tuhan menjawab segala doanya dan menitipkan sebuah janin di dalam rahimnya.