Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
GPH 66


Bibir Akmal sejak tadi masih terkatup rapat dan tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Lolita masih memejamkan mata dan tak kuasa jika harus menatap Akmal. Ia tidak sanggup melihat kekecewaan dari sorot mata lelaki itu. 


"Maaf, Ta. Apa kamu bercinta dengan sembarang lelaki?" tanya Akmal hati-hati. Khawatir pertanyaannya itu akan menyinggung perasaan Lolita. 


"Tidak. Aku bercinta dengan atasan tempatku bekerja. Ia memberiku tawaran jika ingin menjadi model terkenal tanpa ribet maka harus bersedia bercinta dengannya. Dan, ya ... aku menyanggupi karena aku tergiur sekali dengan tawaran itu. Aku yakin kamu masih ingat cita-citaku yang ingin jadi model sejak kecil," jelas Lolita. Ia menyesal atas semuanya, tetapi ia tidak ingin siapa pun mengetahui hal itu. Biar ia simpan dapat rahasia tersebut. 


"Lalu, apa sekarang kamu masih sering bercinta dengannya?" Akmal terus bertanya karena ingin tahu. 


"Tidak. Sudah hampir berapa bulan aku tidak lagi dekat dengan dia. Bahkan, kita seperti orang asing dan aku pun sudah berhenti menjadi model sejak satu Minggu yang lalu. Mal, aku bukannya ingin menolakmu, tapi kuharap kamu bisa memikirkan dengan baik-baik." Lolita membuka mata dan tersenyum ke arah Akmal yang masih tampak bimbang. 


"Aku akan memikirkannya," kata Akmal. Memungkasi pembicaraan itu. 


"Ya. Aku tidak akan memaksa. Aku justru berharap kamu bisa mendapatkan wanita lain yang lebih baik dariku. Aku yakin, banyak wanita di luaran sana yang tidak sekotor aku." 


"Sudah, Ta. Jangan diteruskan pembicaraan ini. Aku butuh waktu sekitar seminggu untuk memikirkannya. Aku akan datang jika hatiku sudah mantap untuk menerima kamu, tapi jika aku tidak datang, kuharap kamu tidak akan pernah menungguku," ujar Akmal. 


Lolita pun hanya mengangguk dan tidak membicarakan hal itu lebih jauh lagi. Baginya, sudah cukup membicarakan hal sensitif seperti ini. Lolita tidak mau berharap lebih dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Yang akan dilakukannya saat ini adalah memperbaiki diri sendiri agar bisa mendapat lelaki yang pantas. 


***


Nazura terkekeh ketika melihat raut wajah Roger yang tampak murung dan terus saja cemberut saat Rosa mengatakan kalau Akmal datang berkunjung. Roger sudah lelah setelah seharian bekerja dan ia ingin sekali tidur ngedusel istrinya, sekaligus menjenguk calon anaknya, tetapi Akmal justru datang mengganggu. Ingin sekali Roger mengusir, tetapi melihat Nazura yang antusias berjalan ke ruang tamu, membuat Roger dengan terpaksa hanya membiarkan saja. 


"Mal, tumben sekali kamu datang ke sini. Ada angin apa?" tanya Nazura. Duduk bersemangat di samping Akmal. 


"Angin topan," celetuk Akmal. Namun, ia mengaduh saat Nazura sudah menendang kakinya cukup kencang. Roger yang melihat itu pun menahan senyumnya. Ia merasa puas ketika melihat Akmal mengaduh kesakitan. 


"Sekali lagi jawab asal, aku tidak akan segan-segan membuat kamu tidur di emperan toko, Mal!" omel Nazura. 


"Iya, deh, Na. Maaf. Kamu kok sejak hamil jadi galak banget. Seperti singa yang kelaparan dan siap menerkam mangsa," seloroh Akmal. Tawanya hampir meledak. Namun, ia tahan sekuat tenaga agar Nazura tidak mendengarnya. Ia tidak ingin terkena tendangan lagi dan melihat Roger tersenyum senang karenanya. Ia justru ingin melihat Roger merasa kesal. 


"Em, aku ingin menagih janjimu," kata Akmal. Membuat Nazura mengerutkan kening dalam. 


"Janji apa? Aku tidak merasa berjanji apa pun kepadamu," kata Nazura menimpali. 


"Ya Tuhan, selain galak, ternyata sekarang kamu juga pikun ya, Na," ledek Akmal. Langsung menunjukkan dua jari tanda damai saat melihat pelototan Roger. 


"Aku memang lupa, Mal. Janji yang mana, sih?" 


"Yang katanya kamu akan membantuku menyiapkan lamaran untuk Lolita," jelas Akmal. 


Nazura membulatkan bibir. "Oh, yang itu. Baiklah. Aku akan membantumu." 


"Syukurlah kalau kamu jadi melamar wanita itu. Jadi, aku tidak perlu lagi merasa was-was kamu akan merebut Nazura dariku," ucap Roger ikut nimbrung. 


"Jangan tenang dulu, Tuan. Saya bisa loh merebut Nazura dari Anda karena saya sudah tahu cara apa yang akan membuat hati langsung luluh." Akmal dengan berani menggoda Roger. Membangunkan macan yang sedang tidur. 


Ia cengengesan ketika Roger sudah bangkit berdiri. Andai bukan sedang bersama Nazura sudah pasti Roger akan menghabisi lelaki itu. 


"Sudah! Jangan bertengkar, astaga. Kalau kalian masih terus bertengkar maka aku tidak akan membantumu, Mal," ancam Nazura, mendelik ke arah Akmal yang terus meminta maaf. Roger pun tertawa terbahak-bahak ketika mendengarnya. 


"Rasain," ledek Roger. Tertawa puas. 


"Jangan senang dulu, Mas. Karena saya juga akan menghukummu tidur di ruang tamu," tandas Nazura. 


Kali ini, tawa Akmal yang meledak. Ia merasa sangat puas melihat wajah Roger yang sedang kesal.