Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
GPH 67


Segala persiapan untuk melamar Lolita sudah dipersiapkan. Nazura benar-benar membantu Akmal sampai semua beres. Ya, meskipun Roger yang harus menahan ego dan cemburu saat melihat Nazura selalu bersama dengan Akmal. 


Hari ini, Bima sudah diperkenankan untuk pulang karena kondisi lelaki itu sudah membaik. Nazura pun menjemput lelaki itu bersama Roger setelah pulang kantor. Rencananya, malam harinya mereka akan langsung memberikan kejutan lamaran tanpa sepengetahuan siapa pun. 


"Mal, jangan tegang." Nazura terkekeh, ketika melihat Akmal yang sejak tadi terlihat gugup. 


"Diem, deh, Na. Jangan ngeledek," cebik Akmal. Menatap kesal ke arah sahabatnya. "Aku takut Lolita akan nolak lagi."


"Kalau Lolita nolak lagi, ya udah. Jangan patah hati. Nanti aku jodohin kamu sama Devi yang masih jomblo. Iya 'kan, Dev." Nazura mengaduh saat Devi sudah menonyor kepalanya. Namun, Devi seketika menunduk dalam ketika melihat lirikan tajam Roger yang mengarah kepadanya. 


Ia lupa, kalau sekarang tidak bisa sembarangan menyentuh Nazura karena wanita itu memiliki penjaga yang sangat posesif. 


"Maaf, Tuan. Saya kebablasan." Devi menunjukkan dua jari tanda damai saat menyadari Roger masih meliriknya. Nazura pun cekikikan melihat kegugupan sahabatnya tanpa peduli pelototan Devi yang seolah hendak membuat bola mata wanita itu lepas dari tempatnya. 


Ketika mobil yang ditumpangi Bima sekeluarga berhenti di depan rumah, dan mobil Roger berhenti di belakangnya. Mereka pun bergegas masuk. Akmal makin terlihat gugup saat langkahnya sudah memasuki ambang pintu. 


Nety menyuruh mereka semua agar duduk, sedangkan dirinya menyiapkan minuman bersama dengan Lolita. Nazura hendak membantu, tetapi dilarang. Ia dipaksa agar duduk saja bersama Roger.


Bima yang merasa sudah lebih baik pun menolak ketika disuruh untuk beristirahat di kamar. Ia ingin tetap di sana dan mengobrol bersama mereka. Saling bertukar cerita dan bercanda bersama. 


"Ehem! Paman, sebelum aku pulang, sebenarnya ada sesuatu hal penting yang akan aku sampaikan," kata Nazura mengalihkan perhatian mereka semua. 


Nazura yang berbicara, tetapi Akmal yang terlihat sekali kegugupannya. 


"Apa, Na? Katakan saja." Bima berbicara lembut, tetapi penuh ketidaksabaran. 


"Jadi, gini ... Paman, kalau seandainya Akmal melamar Lolita, apakah akan diterima?" tanya Nazura. 


Lolita yang saat itu diam pun langsung melongo ketika mendengarnya. Ia bahkan langsung menatap Akmal yang sedikit menunduk. Seperti menghindari pandangan matanya. 


"Memangnya kamu benar akan melamar putriku, Nak?" tanya Bima. Menatap lelaki muda yang masih menundukkan kepala. 


"Iya, Pak. Saya ingin melamar Lolita untuk menjadi istri saya," sahut Akmal. Suaranya terdengar sedikit bergetar karena grogi. 


Senyum  Bima pun mengembang sempurna dan merasa senang karenanya. "Nak, sebagai seorang ayah, aku sangat senang ketika ada seorang lelaki yang berani melamar putriku secara langsung. Terlihat sekali kalau lelaki itu sangatlah bertanggung jawab. Tapi sekali lagi ...." Bima menghentikan ucapannya. Membuat jantung Akmal berdebar kencang karena khawatir dirinya akan mendapat penolakan. 


"Tapi apa, Paman?" tanya Nazura yang tidak sabar sendiri. 


Bima menghirup napas dalam dan melirik Lolita yang masih dipenuhi kebingungan. "Tapi yang akan menjalani hubungan ini nantinya adalah Lolita. Jadi, aku tidak akan mengambil keputusan begitu saja. Tidak akan langsung menolak ataupun menerima. Biarlah Lolita yang memberikan jawabannya." 


"Lolita, bukankah papa sudah pernah bilang jika papa tidak akan pernah menjodohkanmu dan ingin kamu bahagia dengan pilihanmu. Sekarang, tibalah saatnya kamu harus memilih. Yakinkan hatimu atas pilihan apa yang akan kamu ambil," ucap Bima. Menatap lekat putrinya yang kini telah dewasa. 


"Terserah Papa saja," balas Lolita cepat. 


"Tidak. Kamu yang lebih berhak memberikan jawaban. Kalau hatimu yakin, kamu bisa menerima lamaran Nak Akmal, tapi kalau masih ragu, mungkin kamu bisa mengundur atau menolaknya," kata Bima membuat jantung Akmal berdebar kencang. 


Entah mengapa, lelaki itu merasa takut yang teramat dalam akan kembali mendapat penolakan. Walaupun ia sudah menyiapkan hatinya agar tidak sakit jika ditolak, nyatanya ia masih saja merasa sekhawatir itu. 


"Iya, Ta. Kamu jawab saja sesuai kata hatimu. Jangan memaksa untuk menerima jika hatimu tidak ingin, tetapi jangan langsung menolak juga. Yang kutahu, Akmal sangat tulus dalam hal menyayangimu," ujar Nazura menambahkan. 


Lolita pun menoleh ke arah Akmal, dan tatapan mereka beradu beberapa saat sebelum akhirnya Akmal menghindari pandangan mata itu. 


"Akmal, apa kamu yakin melamarku dan mencintaiku dengan tulus?" tanya Lolita menuntut jawaban. 


"Tentu saja." Akmal menjawab cepat. "Aku tidak akan berkata setulus apa aku mencintaimu, biarlah nanti kamu yang merasakan dengan semua perbuatanku." 


Lolita menghela napas panjang. Jawaban Akmal itu sudah cukup membuat jantungnya berdebar kencang. Ia serasa terbang. 


"Apa kamu akan menerima aku apa adanya setelah apa yang aku katakan kepadamu waktu itu?" Kali ini, Lolita terlihat ragu. Takut Akmal tidak akan menjawabnya. 


"Sudah pasti, Ta. Bukankah mencintai itu artinya menerima segala kekurangan dan kelebihan. Aku akan menerima kekuranganmu dan menjadikannya sebuah kelebihan." 


"Apa kamu tidak akan pernah mengungkitnya jika kita bertengkar suatu saat?" tanya Lolita lagi. Ia tidak puas jika hanya mendapat satu jawaban. 


"Ya. Aku janji untuk itu," jawab Akmal yakin. Tanpa keraguan sedikit pun. 


"Baiklah. Aku menerima lamaranmu." 


Ucapan Lolita membuat mereka semua terbengong untuk beberapa saat. Termasuk Akmal yang sampai membuka mulut karena tidak percaya. 


"Ta, ka-kamu tidak bercanda?" tanya Akmal memastikan. 


Lolita pun mengangguk cepat. "Ya. Aku serius. Aku menerima lamaran kamu." 


"Syukurlah." 


Mereka semua pun mengembuskan napas lega. Lalu membahas soal pernikahan yang akan dilangsungkan dalam waktu dekat. Beberapa bulan lagi karena Akmal memang tidak ingin berlama-lama. Ia ingin menjadikan Lolita sebagai istri sahnya secepat mungkin.