
Suasana di ruangan itu mendadak canggung. Semua karena ucapan Nazura yang diluar dugaan. Bahkan, Akmal masih merasa kesal kepada wanita itu. Ya, meskipun ia sedikit bersyukur karena dengan ini Lolita menjadi tahu tentang perasaannya.
"Jangan bercanda kamu, Na. Kamu tahu, ini sangat tidak lucu!" protes Lolita. Berusaha menangkis ucapan itu meski beberapa kali ia melirik Akmal dan salah tingkah sendiri. Entah mengapa, mendengar Akmal masih menaruh rasa padanya membuat Lolita merasakan sebuah perasaan lain.
"Aku memang serius, Ta. Dulu kamu menolak Akmal karena hitam, dekil, dan ya begitulah. Tapi sekarang Akmal sudah berbeda, dia tampan, gagah, dan kupikir sangat cocok untukmu," ucap Nazura tanpa keraguan. Berusaha meyakinkan sepupunya agar mulai mempertimbangkan untuk menerima cinta sahabatnya.
"Na, mulut kamu ember sekali, Astaga." Akmal menggerutukkan gigi karena kesal. Ingin sekali merem*s sahabatnya, tetapi khawatir jika Roger tiba-tiba datang dan yang ada dirinya akan digantung atau dicekik sampai mati karena sudah menyentuh Nazura.
"Harusnya kamu berterima kasih kepadaku, Mal. Aku hanya membantumu. Ya seperti yang aku katakan dulu untuk siap membantumu. Mengawal kalian sampai halal. Lagi pula, mau sampai kapan kamu diam saja? Kalau kamu hanya memendam saja, sampai kapan pun Lolita tidak akan pernah tahu perasaanmu juga tentang lamaran yang sudah kamu siapkan," ucap Nazura justru kian melebar ke mana-mana.
"Ya Tuhan, Na. Kamu ini apa-apaan!" Akmal mendekati Nazura dan langsung memegang kedua bahu wanita itu agar tidak bisa kabur. Sungguh, kesabaran Akmal sudah hampir habis. Ia kesal lantaran Nazura sudah membuat dirinya malu, salah tingkah, dan semua yang telah dirahasiakan dibongkar.
"Apa semua itu benar, Mal?" Lolita mengalihkan perhatian kedua orang itu.
"Tentu saja benar. Aku bersumpah kalau aku—" Ucapan Nazura terhenti karena Akmal sudah membekap mulutnya. Bahkan, Akmal mengunci tubuh Nazura dan tidak ada siapa pun yang membantu Nazura.
"Brengsek! Apa yang kamu lakukan terhadap istriku!"
Mereka semua terkejut dengan kedatangan Roger yang tiba-tiba. Secara reflek Akmal melepaskan Nazura. Ia pun mundur dengan cepat saat Roger hendak mengarahkan pukulannya.
"Mas! Jangan bikin gaduh." Nazura menahan suaminya agar tidak memukul Akmal.
"Na, kamu disakiti dia. Aku tidak terima!" Suara Roger meninggi bahkan tatapan tajamnya seolah hendak menguliti Akmal hidup-hidup.
"Maaf, Tuan. Saya hanya bercanda." Akmal menangkup kedua tangan di depan dada dan memasang kuda-kuda barangkali Roger akan kembali menyerang. Setidaknya ia sudah melakukan persiapan untuk melawan.
"Bercandamu tidak lucu! Kamu hampir saja mencelakai istriku!" bentak Roger. Masih belum terima.
"Hah! Mas, saya sudah terbiasa seperti ini. Akmal tidak mungkin menyakiti saya. Jadi, lebih baik sekarang kamu tenanglah." Nazura memeluk suaminya dan mengusap dada bidang lelaki itu secara perlahan untuk menenangkan.
Sepertinya itu adalah obat yang sangat ampuh sebagai peredam emosi. Karena napas Roger yang barusan memburu kini mulai teratur. Bahkan, Roger sudah mengecup puncak kepala Nazura penuh kasih sayang.
"Mas, untuk apa kamu datang ke sini? Bukankah ini masih jam kerja?" tanya Nazura heran. Ia melirik jam dan baru menunjuk angka sepuluh. Padahal itu digunakan Nazura untuk mengalihkan perhatian dan Roger tidak lagi mau menyerang Akmal.
"Aku tidak tenang meninggalkan kamu sendirian. Apalagi bersama mereka. Jadi, lebih baik aku menyusulmu daripada tetap bekerja, tapi semua pekerjaanku berantakan karena tidak konsentrasi," balas Roger. Kembali mencium puncak kepala istrinya. Kali ini lebih lama tanpa peduli kepada semua yang ada di sana sudah menatap malas dengan kemesraan kedua orang itu.
"Benarkah? Kamu yakin mereka berubah secepat itu? Kenapa aku justru tidak yakin." Roger meragu, tetapi Nazura justru mengangguk cepat.
"Benar, Tuan. Saya sangat menyesal sudah pernah menyakiti Nazura. Saya benar-benar ingin berubah dan berjanji tidak akan mencelakai dia lagi. Ada bisa memegang ucapan saya," ujar Nety.
Roger menatap wanita paruh baya itu sangat lekat untuk mencari kesungguhan dalam setiap ucapannya.
"Kuharap kamu bisa memegang ucapanmu karena aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti istriku," ancam Roger. Nety pun mengangguk cepat.
Setelahnya, Roger mengajak Nazura dan Devi untuk pulang karena ia merasa istrinya sudah terlalu lama berada di sana. Roger tidak ingin istrinya kelelahan dan itu akan berpengaruh pada calon buah hati mereka.
***
Sejak mengetahui Akmal menyayanginya dan sudah menyiapkan lamaran, membuat Lolita berada dalam situasi canggung ketika bersama lelaki itu. Seperti saat ini, mereka sedang duduk berdua di taman rumah sakit, tetapi tidak ada sedikit pun obrolan di antara mereka. Kedua orang itu sama-sama diam untuk waktu yang lama.
Sampai pada akhirnya Akmal berdeham untuk mencairkan suasana di antara mereka.
"Lolita, jangan pikirkan ucapan Nazura itu. Dia memang ember," dengkus Akmal.
"Memangnya kenapa? Bukankah apa yang dikatakan Nazura itu sebuah kebenaran?" Lolita menoleh. Menatap Akmal yang langsung memalingkan wajah karena gugup jika harus bertatapan dengan wanita itu. "Katakan sejujurnya, Mal. Apa kamu memang akan melamarku dan sayang kepadaku dengan tulus?"
Akmal terdiam. Merasa bimbang ketika hendak menjawab. Ia memang mencintai wanita itu, tetapi tidak memiliki keberanian untuk mengatakan yang sejujurnya. Lebih tepatnya, ia takut jika ditolak lagi nantinya. Mentalnya belum sekuat itu untuk menerima penolakan lagi.
"Mal, jika memang kamu mencintaiku dengan tulus, aku akan berterima kasih untuk hal itu. Tapi, jika kamu ingin menjalani sebuah hubungan yang serius kuharap kamu akan memikirkannya lagi," kata Lolita disertai des*han napas kasar.
"Memangnya kenapa? Kamu malu jika menikah dengan lelaki sepertiku?" tukas Akmal.
Lolita menggeleng lemah. "Bukan itu. Aku hanya khawatir kamu kecewa kepadaku karena aku ...." Lolita terdiam sesaat untuk menghirup napasnya dalam. Akmal pun masih terdiam sembari menunggu dengan harap-harap cemas.
"Karena apa?" Akmal tidak sabar sendiri.
Lolita menatap langit sambil memejamkan mata. Menghirup napas dalam dan mengembuskan secara perlahan. "Karena aku sudah tidak perawan lagi."