Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
Part 8


"Ayo kita berpesta!" ajak Delia kepada beberapa temannya.


Malam ini Delia sedang menghabiskan waktunya di luar bersama teman-temannya. Di sungaai Seine mereka menghabiskan malam, ada sodok pria yang terlihat selalu mengawasi keberadaan Delia. Perlahan pria itu mendekat dan langsung menggandeng tangan Delia.


"Bram?! Kenapa kamu di sini, sama siapa kamu ke sini?" Mata Delia membulat sempurna saat melihat siapa yang datang.


"Aku ngga bisa lupa sama tempat ini, di sini banyak sekali kenangan indah tentang kita dulu. Aku ingin kita mengulangnya kembali, aku ngga mau kehilangan kamu." Bram langsung mendekap erat tubuh Delia.


"Ini tempat umum, lepaskan aku Bram!!" Delia mendorong tubuh Bram.


Jujur, Delia meneruskan pendidikannya ke Perancis hanya untuk menghapus kenangan bersama Bram dulu. Sebelum berpacaran dengan Bagas, Bramantio adalah cinta pertamanya, tak disengaja kini mereka dipertemukan kembali.


"Aku sudah menikah beberapa bulan yang lalu Bram, sekarang kamu di mana? Apa kamu sudah menikah juga?" tanya Delia beruntun.


"Aku mau menikah hanya denganmu, selain kamu aku ngga mau menikah."


"Hmm...masih sama kaya dulu kamu ya, pinter gombal." Delia mencubit perut Bram dan belari kecil menjauh. Bram mengikuti Delia sampai di perahu apung yang ada di sungai Seine.


Tangan mereka bergandengan masuk ke dalam." Kita makan dulu yuk...apa makanan favorite sudah berubah mengikuti selera suami kamu mungkin?!" Bram menaikan sebelah bahu kanannya.


"Seleraku masih sama, aku jarang makan bareng sama Bagas, kami menikah belum lama jadi jarang makan bareng sama keluarga juga. Aku belum siap jadi ibu rumah tangga, dan aku juga belum siap punya anak. Aku ngga mau jadi seorang istri yang diam di rumah seperti harapan ibu mertuaku."


Mereka mencari tempat duduk untuk bersantai, setelah memesan beberapa menu favorite mereka. Keduanya duduk bersebelahan, Delia menyandarkan tubuhnya di pundak Bram. Bram menggapai pundak kanan Delia, hawa dingin semakin membawa mereka pada kenangan yang telah lalu.


Bukannya menghapus kenangan lama, Delia justru membangun harapan kembali bersama Bram. Dia seolah lupa dengan statusnya kini.


"Apa kamu bahagia, atau justru sebaliknya? Jangan-jangan saat malam pertama yang ada diingatanmu cuma aku, iya kan?"


"Bagas tidak pernah mempertanyakan atau pun menuntut tentang keperawananku, dia sangat mencintaiku."


"Baguslah! Berati ngga masalah kan kalau kita melakukannya lagi, atau bahkan untuk selamanya." Bram tersenyum menang.


Delia mendongak, dan mendapati Bram sedang menatapnya. Bram mengecup bibir Delia yang sedikit terbuka.


"Maksud kamu, kita menikah? Atau kita selingkuh?"


"Terserah kamu, apa mau kamu aku ikutin."


Delia yang masih sangat mencintai Bram seolah mengiyakan tawaran Bram. Dia tidak sadar bahwa suaminya juga sangat mencintainya.


"Deal ya..." tawar Bram.


"Ok...kita pacaran lagi ya." sahut Delia.


Mendapat kesempatan bertemu dan menciptakan suasana baru, kini rasa yang sempat menghilang kini tumbuh kembli. Delia lupa dengan penyebab mereka berpisah, karena yang Delia cintai memang Bram bukan Bgas.


"Malam udah semakin larut, bahkan udah mendekati dini hari, kita pulang yuk," ajak Bram.


"Ayo, kamu mau pulang kemana?" tanya Delia.


"Ya, ikut ke apartemen kamu lah, atau kamu yang ikut ke apartemenku. Lusa aku harus balik ke Indonesia, jadi sekarang kita habiskan malam ini bersama."


"Udah, ngga usah kebanyakan mikir, keburu malamnya habis."


Keduanya berjalan masuk ke dalam mobi. Sesampainya di apartemen Bram mereka pun turun dari mobil dan masuk. Bram merangkul pundak Delia dan mengajaknya masuk ke kamarnya.


"Bram, apa benar hanya aku wanita yang kamu cintai? Lalu, bagaimana dengan suamiku, dia sangat mencintaiku walaupun aku tak mencintainya."


"Kita kan sama-sama saling cinta, kamu taku kalau kamu ketauan bakal dicerai? Aku akan menikahimu nanti kalau kamu diceraikan sama suamimu."


"Benarkah? Aku ngga mau jadi istri yang hanya sibuk ngurus keluarga di rumah, buat apa aku kuliah jauh-jauh kalau ujungnya hanya diam di rumah ngurus anak dan dapur."


Keduanya sepakat menjalin hubungan terlarang.


*****


Pagi sekali Nurlita bersiap ke apartemen Gadis, dia membawa banyak belanjaan untuk dibawa ke apartemen menantunya.


"Pasti Gadis senang lihat aku bawa belanjaan banyak kaya gini, kemarin kulkasnya kosong. Mungkin Gadis belum sempat belanja atau Bagas yang belum kasih uang bulanan."


Mobil sampai di halaman parkir apartemen, Nurlita keluar dari mobil dengan menenteng beberapa tas belanjaan. Dia terus berjalan menggunakan lift supaya cepat sampai ke atas di mana anak dan menantunya tinggal.


Bel rumah berbunyi, Gadis muncul dari balik pintu.


"Mami?! Bawa apaan banyak banget, mau demo masak di sini??" tangan Gadis meraih beberapa kantong belanjaan yang mertuanya bawa. Keduanya masuk menuju dapur, di ruang tengah dia melihat kalau Bagas putranya sedamg menikmati sarapan pagi.


"Sarapan dulu Mam, bangun jam berapa, kok jam segini udah sampai di sini?" tanya Bagas sambil mengunyah makanan yang masih ada di mulutnya.


"Emangnya ngga boleh?" tanya Nurlita dengan mencebikkan bibirnya.


"Ya boleh, boleh banget Mam...malah aku suka kalau Mami sering main ke sini," sahut Bagas dengan pelan takut menyinggung perasaan maminya.


"Dis, ayo sini sarapan bareg, belanjaanya nanti kita beresin bareng-bareng,"seru Nurlita memanggil Gadis.


Gadis tidak mungkin sarapan bareng, karena Bagas pasti tidak akan mengijinkan. Dengan beberapa alasan akhirnya Gadis bisa meyakinkan mami mertuanya. Gadis tetap sibuk membereskan belanjaanya. Sementara Bagas tersenyum puas dalam hatinya.


"Tahu diri juga kamu!" ucap Bagas dalam hati.


"Mami pasti akan merasa sangat kehilangan saat Gadis pergi meninggalkan kamu."celetuk Nurlita di tengah keheningan.


"Kan ada Delia Mam, ngga usah bersedih...menantu Mami ya Delia, dia akan jauh lebih bagus pelayananya dibanding Gadis."


"Tapi Mami ngga yakin kalau Delia mau nemenin Mami seperti apa yang Gadis lakukan saat ini. Mami sudah merasa nyaman dan bahagia bersama Gadis."


"Huuffttt..." Bagas melepas nafasnya dengan kasar.


Nurlita menatap Bagas penuh arti, dia tahu jawaban putrnya seperti apa.


*****


Bersambung...