
Waktu semakin terus berjalan. Hubungan Roger dan Nazura kian membaik. Bukan hanya hubungan mereka saja, tetapi sikap Rosa pun juga telah berubah. Wanita itu kini sudah menjadi seorang ibu yang penuh perhatian. Meskipun awalnya meragukan, tetapi Rosa mampu membuktikan dengan perbuatan. Sampai pada akhirnya kini Roger bersedia tinggal di rumah Rosa bersama dengan Nazura.
"Mas, sepertinya nanti saya pulang telat. Hari ini ada pesanan kue cukup banyak dan tadi pemilik toko sudah mengabari kalau harus lembur," kata Nazura ketika mereka sudah bersiap hendak sarapan.
Roger menatap istrinya sangat lekat lalu mendes*hkan napas ke udara secara cepat. "Apa kamu tidak ingin berhenti bekerja saja? Uangku masih cukup untuk membiayai hidupmu bahkan membelikan apa yang kamu mau. Aku ingin sekali kamu hanya di rumah dan menungguku pulang bekerja."
Nazura menggeleng lemah. "Maaf, Mas. Untuk saat ini sepertinya belum bisa. Saya bukan orang yang terbiasa duduk berpangku tangan. Mungkin nanti saya akan berhenti jika kita sudah diberi kepercayaan."
"Dan kuharap kita akan segera mendapatkan." Roger mengecup puncak kepala Nazura, sedangkan wanita itu hanya mengamini ucapan suaminya.
Setelahnya, mereka berdua pun keluar kamar lalu sarapan bersama sebelum akhirnya Roger mengantar Nazura ke tempat kerja terlebih dahulu.
Persis seperti apa yang dikatakan Nazura bahwa hari ini toko sangat ramai dan banyak pesanan masuk. Bahkan, membuat semua karyawan keteteran. Nazura pun sampai tidak sempat memegang ponsel untuk sekadar membaca pesan dari Roger.
"Wah, Nin. Ini kue besar sekali." Nazura merasa takjub ketika melihat sebuah kue empat tingkat dengan hiasan yang begitu cantik dan elegan.
"Iya, aku sangat terpesona." Nindy, teman kerja Nazura, menimpali ucapan wanita itu. "Wanita yang mendapatkan kue ini benar-benar beruntung."
"Siapa yang memesan kue sebesar ini?" tanya Nazura ingin tahu. Karena baru pertama kali ini ia melihatnya.
"Entah, bos merahasiakannya. Bahkan, nama yang dicetak di kue ini pun tidak ada yang tahu. Hanya Pak Bos saja yang tahu," sahut Nindy. Nazura pun mengangguk mengiyakan.
Sungguh, ia sudah membayangkan akan seperti apa respon wanita yang mendapat kue tersebut. Pasti merasa sangat bahagia karena mendapatkan lelaki yang begitu romantis.
"Ah, lebih baik aku berkerja lagi daripada harus membayangkan hal yang membuatku ingin diromantisin juga. Bikin iri." Nazura menggeleng untuk mengusir pikiran itu.
Saking sibuknya berkutat dengan pekerjaan, Nazura tidak menyadari kalau jam sudah menunjuk pukul delapan malam dan semuanya baru saja selesai. Nazura mengambil ponsel dan melihat banyak sekali panggilan masuk. Dengan segera ia pun menelepon suaminya.
"Hallo, Mas. Maaf saya baru saja selesai dan dari tadi saya tidak memegang ponsel." Nazura mengalungkan tas di pundak dan bersiap untuk keluar dari toko.
"Sampai jamuran aku menunggu kamu pulang. Hampir saja aku membuat toko tempatmu bekerja itu bangkrut." Suara Roger terdengar ketus dan penuh kekesalan.
"Ish! Jangan begitu, Mas. Bukankah sudah saya bilang kalau hari ini saya lembur."
"Baiklah. Aku tidak mau berdebat sekarang. Aku akan menjemputmu dan jangan pergi sebelum aku datang."
Setelah Nazura mengiyakan, panggilan itu pun terputus. Nazura menyimpan ponselnya ke dalam tas selempang dan berdiri di depan toko. Ia menunggu suaminya sendirian karena karyawan lain sudah pulang, hanya tinggal sang bos yang masih berada di ruangannya.
Kening Nazura mengerut dalam ketika melihat Akmal berhenti di depan toko.
"Akmal, ada apa kamu datang ke sini?" tanya Nazura terheran. Apalagi saat melihat raut wajah Akmal yang penuh dengan kekhawatiran.
"Kamu serius?" tanya Nazura khawatir.
"Tentu saja. Barusan Om Bima telepon aku dan sekarang juga kita harus ke sana," kata Akmal.
Nazura yang saat itu kebingungan sekaligus terkejut, mendadak blank. Ia pun segera naik ke motor Akmal, duduk di belakang lelaki itu dan tidak mengingat kalau suaminya sedang dalam perjalanan ke toko.
Nazura benar-benar melupakannya.
***
Roger merasa heran saat tidak melihat siapa pun di depan toko itu. Sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan istrinya di sana. Bahkan, saat Roger berusaha menghubungi beberapa kali, tetap tidak ada jawaban sama sekali.
Roger pun mendadak cemas dan khawatir terjadi apa-apa dengan istrinya.
"Tuan Roger. Anda sudah datang?" Pemilik toko itu terkejut ketika melihat keberadaan Roger di depan toko.
"Aku akan menjemput istriku. Apa semua karyawanmu sudah pulang?" Roger balik bertanya.
"Sudah, Tuan. Nazura sudah pulang sejak beberapa saat yang lalu. Bahkan, kue yang Anda pesan pun sudah sampai di lokasi tanap sepengatahuan Nazura," sahutnya sopan.
"Aku ke sini untuk menjemput Nazura bukan mau mengambil kue itu. Sekarang bisakah aku melihat CCTV di toko ini? Aku ingin melihat ke mana istriku pergi," pinta Roger.
Pemilik toko itu pun mengiyakan dan langsung memutar rekaman CCTV beberapa menit yang lalu. Tangan Roger terkepal erat ketika melihat Nazura naik ke motor Akmal.
"Sial! Awas saja kalau kejutanku gagal maka aku tidak akan segan-segan memberi pelajaran untuk lelaki itu." Roger mengepalkan tangannya penuh kekesalan, sedangkan pemilik toko itu hanya diam dan dalam hati merasa heran.
Dengan langkah tegap, Roger berjalan kembali ke mobil dan bersiap untuk mencari istrinya. Namun, ponselnya berdering dan ia menerima dengan cepat ketika melihat nama Nazura di layar.
"Na ...."
"Mas, Maaf. Tadi saking paniknya saya sampai lupa kalau kamu mau menjemput saya. Sekarang saya ada di rumah sakit bersama Akmal."
"Rumah sakit? Untuk apa kamu ke rumah sakit? Siapa yang sakit memangnya?"
"Lolita. Dia kecelakaan, tapi sudah cukup membaik. Saya akan pulang sekarang biar diantar Akmal."
"Tidak! Aku yang akan menjemputmu dan tetap tunggu di situ. Awas kalau sampai kamu kabur lagi maka aku akan membuatmu tidak bisa berjalan."
Panggilan itu pun terputus begitu saja. Roger memasukkan ponsel dengan cepat dan langsung menjemput Nazura. Ia tidak ingin semua acara yang telah disusun rapi menjadi gagal.