
"Mami bahagia bersama Gadis?!"
Pertanyaan Bagas mengejutkan Nurlita, dia bertanya dalam hati," apa aku terlihat bahagia di mata Bagas hingga dia menanyakan seperti itu?"
"Kenapa Mami bengong? Jujur aja, aku ngga akan marah kok, asal Mami bahagia Bagas akan lakuin apa aja," ucap Bagas.
"Iya, Gadis begitu baik, dia bisa menghibur Mami, andaikan saja Delia seperti Gadis," Ucap Nurlita ragu takut putranya tersinggung.
"Mami kan belum paham siapa itu Delia dan Gadis, aku udah kenal Delia lama Mam, nanti kalau dia sudah selesai pendidikannya pasti Mami bisa deket sama Delia. Kalau Gadis kan aku belum tahu banyak, jangan menilai seseorang hanya dengan kelakuan sehari Mam."
Bagas tetap membela Delia, biarpun dia tahu kalau Nurlita tidak suka. Delia lebih mentingkan kariernya daripada ngurusi suami dan ibu mertuany, berbeda sekali dengan Gadis. Gadis lebih banyak tahu urusan rumah tangga dibanding urusan karier. Tidak salah memang, kalau Delia ingin mengejar karier, tapi tidak seharusnya dia meninggalkan kewajiban sebagai istri.
"Sudahlah Mam...santai aja, aku ngga nglarang kok, kalau Mami tiapa hari main ke sini," ucap Bagas sambil mengusap punggung Maminya.
"Iya, tapi Mami takut kalau suatu saat kalian berpisah, Mami udah telanjur sayang sama Gadis, pasti Mami akan merasa kehilangan sekali."
"Terus aku mesti gimana, Mam..." Bagas menarik nafas panjang.
Mereka saling diam, tak ada suara apapun di ruang itu. Keduanya larut dalam pikirannya masing-masing. Tidak mungkin Bagas menerima Gadis selamanya, cintanya hanya untuk Delia. Nurlita juga sangat tahu kalau putranya hanya punya satu cinta, dia sangat merasa bersalah atas keputusan Bagas menikahi Gadis hanya untuk pelampiasan hasratnya.
"Mami tidur sini apa mau pulang?" tanya Bagas membangunkan lamunan Maminya.
"Pulang aja, ya udah hari udah mau senja Mami pulang dulu ya..."
"Biar aku antar, Mam...mobilnya tinggal sini aja, pakai mobilku aja."
Tanpa menunggu jawaban, Bagas langsung naik ke kamarnya untuk ganti baju. Sementara Gadis turun dari kamarnya.
"Mami ngga mandi dulu? Mas Bagas mana, Mam?" tanya Gadis yang memang tidak tahu.
"Lho, emang kalian ngga satu kamar?" Nurlita menatap Gadis yang tertunduk.
Gadis menatap Nurlita." Kadang Mas Bagas tidur sendirian kalau lagi cape kerja, kita sering satu kamar kok Mam."
"Ya, Bagas memang hanya menganggap istri sementara, dia pasti tidak mau kalau sampai jatuh cinta. Dia pasti sengaja menghindardari Gadis, dia mendekati Gadis kalau sedang butuh saja. Kasihan sekali nasib kamu Gadis." batin Nurlita.
"Oh ya...Mami mau pulang, lain kali Mami main ke sini lagi masak bareng sama kamu lagi, bisa kan?" Nurlita memegang pundak Gadis sambil menunggu jawaban darinya.
"Bisa banget, Mam...tenang aja." keduanya tersenyum dan saling berpelukan.
"Ayo, Mam..." ajak Bagas yang baru keluar dari kamarnya.
Nurlita berpamitan dan melangkah keluar mengikuti Bagas. Gadis pun mengikutinya dari belakang. Setelah masuk ke mobil dan meninggalkan rumah, Gadis pun masuk ke dalam kamarnya.
"Maminya sangat baik, tapi Bagas sangat jahat, apa dia mirip papinya kali, kok beda banget. Gadis...Gadis...kenapa nasibmu begini, punya suami, suami bohongan, hadeehh..." Gadis menatap langit-langit kamar, karena cape seharian sibuk banyak yang ia kerjakan akhirnya dia terlelap dalam buai senja.
"Mam...Mam..." Bagas melirik ke arah maminya.
"Hmm..."
"Kalau Delia pulang nanti, ajak dia nemenin Mami di rumah ya, biar Mami ngga kesepian."
"Mami ngga yakin dia mau tinggal sama Mami, buat apa dia ngejar pendidikan jauh-jauh kalau tidak ia gunakan. Mami yakin pasti dia bakalan sibuk dengan bianianya setelah pulang nanti."
******
Setelah mengantar Nurlita, Bagas langsung masuk kamar dan mandi. Dia keluar dari kamar menuju ruang makan, setelah mengetahui Gadis belum makan, dia langsung bergegas naik ke kamar Gadis.
"Bangun!" Bagas menarik selimut Gadis dengan paksa."
Enak sekali jam segini tidur, katanya udah paham tugas dan kewajiban sebagai istri, ternyata kamu masih berani mengabaikan perintahku ya." lanjutnya.
"Maaf, aku ngantuk banget, tadi siang aku..." Gadis tak melanjutkan kalimatnya, dia beranjak duduk sambil mengucek matanya.
"Aku mau makan, layani dan temani aku makan, sekarang!" bentak Bagas.
Gadis terdiam, bergidik mendengar Bagas membentaknya. Walaupun dalam hatinya terus ngomel, Gadis bangun dan keluar mengekor suaminya.
"Kerjaannya cuma bentak-bentak aja, bukannya berterima kasih karena aku udah jaga nama baiknya di depan Mami, malah pulang masih seperti biasa, darting nih kerjaannya marah-marah doang." Tangan Gadis mengepal di belakang tubuh Bagas. Gadis tak menyadari kalau kelakuannya terlihat dari kaca buffet yang ada di depannya.
"Mau ngapain kamu, hhh!!" Tubuh Bagas berbalik menghadap ke arah Gadis.
"Apaan?! Aku ngga ngapa-ngapain kok, kamu aja yang perasa banget jadi orang." Gadis masih saja mengelak. Bagas menarik tangannya dan menujuk ke arah kaca. Wajah Gadis langsung memucat setelah menyadarinya.
"Masih mau ngelak?!" Bisik Bagas di telinga Gadis.
"Ampun Tuan, tadi aku...emosi..." jawab Gadis ragu.
"Kenapa, karena dibangunin. Tidur sore itu ngga bagus, emang orangtua kamu ngga pernah bilangin kamu, hah!!" Jari telunjuk Bagas menunjuk pelipis Gadis.
Mereka melanjutkan langkahnya ke ruang makan, seperti biasa Gadis menyiapkan semuanya. Dia menemani Bagas makan sampai selesai. Baru saja Bagas selesai makan tiba-tiba ponselnya berdering, diraihnya ponsel yang tergeletak di samping tangannya sambil memberi kode jari telunjuk di bibirnya. Gadis yang sudah paham hanya diam mendengarkan suaminya menerima telepon.
Bagas berjalan menuju kamarnya dan menutup pintunya. Gadis masih terdiam di tempatnya, di pandangnya meja makan yang masih penuh dengan beberapa menu tersaji.
"Laper, makan dulu ahh, bodo amat...kalau dia marah aku sumpal aja mulutnya pakai sambal," umpatnya." Emang kamu berani nyumpal mulut Bagas," lanjutnya sambil senyum-senyum sendiri.
Sementara di kamar, Bagas masih menerima telpon sama Delia istrinya.
"Video Call aja sayang, aku kangen nih," pinta Bagas.
"Ngga bisa sayang, aku lagi banyak temen lagi pada kumpul-kumpul nih...mereka belum pada punya suami lho, cuma aku aja yang udah nikah."
"Ya, sudah...met happy-happy sayang, emuuaacchh..."
Bagas pun mengakhiri sambungan teleponnya. Dia kembali meletakkan ponselnya ke atas nakas. Dia duduk di sofa seolah ada yang sedang dia pikirkan.
"Mami ingin sekali punya menantu yang bisa dia jadikan teman, apa Delia nanti bisa seperti yang Mami harapkan nantinya. Maafin aku Mam, aku belum bisa bahagiain Mami."
Bagas berjalan kea arah tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di kasur. Tubuhnya telentang menatap langit-langit kamarnya. Beberapa pertanyaan terlintas dipikirannya.
****
Bersambung...
Ditunggu kritik dan sarannya ya Bund, Kak...bantu like, komentar dan vote nya kalau ada, terima kasih...ππͺ