Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
GPH 76


"Kamu kenapa, Ta?" tanya Nazura heran ketika melihat sepupunya tampak murung sambil menggedong bayi Mikayla—anak kedua Nazura. 


"Tidak apa," sahut Lolita cepat. 


"Sepertinya aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan." Nazura menatap lekat wajah Lolita. "Jangan terlalu dipikirkan menurutku. Daripada menjadi beban pikiran untukmu. Lebih kamu jalani saja dan aku yakin tidak lama lagi kamu akan mengandung," imbuhnya berusaha memberi semangat. 


Lolita hanya mengiyakan dan beberapa kali mendes*hkan napas ke udara. Ia pun menciumi wajah keponakannya untuk mengurangi kegelisahan hati yang sedang dirasakan. 


***


Dua bulan telah berlalu dan selama itu pula Lolita setiap hari selalu bermain ke rumah Nazura. Membantu wanita tersebut mengurus kedua anaknya. Lolita merasa sangat senang hingga lupa pada hal yang terus saja mengusik pikirannya selama ini. 


Apalagi kedekatannya dengan Gavi membuat Lolita merasa seperti ibu dan anak. Sangat dekat. Jika hendak pulang saja, Lolita harus diam-diam karena kalau tidak maka  Gavi akan menangis keras dan meminta ikut. 


Namun, hari ini Lolita tidak ke rumah Nazura karena wanita itu sejak kemarin merasa tidak enak badan. Gegara main hujan-hujanan dengan Gavi tiga hari lalu, membuat Lolita masuk angin, sedangkan anak kecil itu tetap sehat saja.


"Ante ... ain yuk." 


Lolita tersenyum lebar ketika melihat wajah Gavi yang memenuhi layar ponselnya. Ya, Gavi merengek meminta menelepon Lolita bahkan sejak pagi ia menunggu kedatangan wanita itu. 


"Besok ya, Sayang. Kepala Tante sedang pusing sekali." 


"Using? Avi tak using." Bocah itu berbicara antusias meskipun masih cadel. 


"Ya, kamu ini hebat. Mungkin tulang Tante ini sudah tua, jadi kena air hujan sedikit saja langsung tumbang," selorohnya.


"Ish! Ante atu au ain." Gavi terlihat bersedekap kesal. Mengharuskan Lolita untuk datang, tetapi wanita itu masih merasa pusing bahkan terkadang mual. 


"Ta, semoga cepat sembuh." Nazura mengambil alih ponsel itu sambil berusaha menenangkan Gavi yang masih menangis. 


"Terima kasih, Na. Katakan pada Gavi, besok aku akan ke situ," ujarnya. 


"Tidak usah. Biar aku saja yang akan ke rumah paman nanti sore sama Mas Roger. Sudah lama sekali aku tidak ke situ," kata Nazura. 


Sore harinya, Gavi merasa antusias dan bersorak kegirangan ketika sudah sampai di depan rumah Bima. Bahkan, bocah itu turun dari mobil dengan sangat tidak sabar. Ketika baru masuk rumah pun langsung saja berteriak memanggil Lolita hingga mengejutkan orang rumah. 


"Gavi," panggil Bima. Merasa senang dengan kedatangan cucunya. 


"Ate ...." Gavi justru mencari Lolita padahal ia sedang berada dalam gendongan Bima. 


Mendengar suara keponakannya, Lolita pun segera keluar kamar untuk menyambutnya. Akmal sudah meminta agar Lolita tetap berada di kamar karena khawatir sejak tadi Lolita mengeluh pusing, tetapi wanita itu tetap saja ngeyel. 


Dengan terpaksa, Akmal menuntun Lolita yang masih lemas sampai ke ruang depan. 


"Ya ampun, Ta. Harusnya kamu di kamar saja. Biar kami yang ke dalam. Lihatlah, wajahmu pucat sekali," kata Nazura yang saat itu sedang duduk sambil memangku Mikayla. 


"Tidak apa. Aku sudah lebih baik sekarang," sahut Lolita. 


"Ate!" Gavi memaksa untuk turun dari gendongan Bima dan langsung berjalan cepat ke tempat Lolita. Bahkan, bocah itu langsung meminta gendong. 


"Tante kangen sekali sama kamu, Gav." Lolita menciumi wajah Gavi karena gemas dengan bocah itu. Namun, beberapa saat kemudian, Lolita menyuruh Gavi untuk turun karena kepalanya kembali pusing. 


"Kamu kenapa, Ta?" Akmal tampak sangat cemas dan terus memegang lengan Lolita. Ia khawatir karena sejak tadi Lolita terus saja memijat pelipisnya.


"Kepalaku pusing sekali, Mas. Semua seperti berputar-putar." Suara Lolita terdengar lirih. 


"Ate, napa?" tanya Gavi bingung. 


"Tante pusing sekali, Sayang." 


Baru saja menjawab, Lolita langsung tidak sadarkan diri. Ia bahkan hampir menyentuh lantai jika Akmal tidak segera menahannya. 


"Ta, bangun, Ta." Akmal menepuk pipi Lolita perlahan untuk menyadarkan wanita itu. Namun, Lolita hanya diam. 


Dengan gegas, Akmal membopong istrinya dan langsung membawa ke rumah sakit. Jika menunggu dokter datang ke rumah, ia khawatir akan lama. Rumah yang barusan penuh dengan tawa pun kini terasa menegang dan penuh kepanikan.