Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
GPH 24


Roger merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa mengenali Soraya padahal postur tubuh wanita itu sangat berbeda jauh dengan Nazura. Entah mengapa Roger sejak tadi hanya berpikir bahwa yang sedang di dapur adalah Nazura. Sama seperti biasa ketika pulang kantor ia melihat Nazura sedang memasak. Padahal ia salah besar. 


"Roger?" Suara Soraya yang tepat di telinga seketika membuat Roger tersentak dan langsung melepaskan pelukan tersebut. Dengan sangat terpaksa, Roger menarik kedua sudut bibirnya dan berusaha tersenyum di depan wanita itu. "Kamu baru pulang kerja?" 


"Ya. Kenapa kamu tidak bilang kalau ke sini. Benar-benar membuatku terkejut." Roger tanpa sadar mengecup pipi Soraya hingga membuat wanita itu tersipu malu. 


"Aku sengaja membuat kejutan untukmu." Soraya terkekeh. "Sudah sana mandi dulu. Setelah ini kita makan malam." 


"Baiklah." Roger berjalan ke kamar meninggalkan Soraya yang masih memanaskan makanan. 


Ketika membuka pintu kamar, raut wajah Roger mendadak murung saat ia teringat tidak akan ada lagi Nazura di apartemen. Bahkan, ia hanya bisa mendes*h kasar ketika membuka lemari pakaian, tidak ada satu pun baju Nazura yang tersisa. 


"Sial!" umpat Roger. Marah kepada dirinya sendiri yang mendadak galau hanya karena ditinggal Nazura. "Untuk apa aku memikirkan wanita itu? Tidak penting! Ingat, Roger, kalau dia hanyalah penebus hutang untukmu. Tidak berguna!" 


Roger pun berjalan cepat menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus menyegarkan otaknya. Ia tidak mau terus-terusan memikirkan Nazura dan pikirannya diperdaya oleh wanita. 


***


"Kamu mau makan yang mana?" tanya Soraya menawarkan makanan. 


"Tumben sekali kamu memasak?" Roger justru bertanya balik dengan terheran. Karena yang ia tahu, Soraya sangat pemalas kalau soal memasak. Wanita itu lebih suka memesan makan yang sudah jadi tanpa repot berkutat di dapur. 


"Aku sedang ingin," sahutnya manja. Roger pun hanya mengiyakan lalu meminta Soraya mengambilkan makanan beserta lauknya. 


Namun, Roger memelankan kunyahannya ketika merasa tidak asing dengan rasa masakan tersebut. Seperti masakan Nazura yang biasa ia makan. Roger pun kembali mengambil sesuap nasi dan merasakan makanan itu lagi. 


Benar! Masakan ini terasa tidak asing untuk lidahnya. Sangat persis dengan masakan Nazura yang ia makan selama ini. 


"Kamu belajar memasak makanan ini dari mana?" tanya Roger penuh selidik. 


Roger hanya diam meskipun dalam hati menaruh curiga. Ia yakin kalau itu adalah hasil masakan Nazura. Jangankan memasak, nama bumbu dapur saja Soraya tidak per ha tahu. Roger pun beranjak bangun dan hendak ke dapur, tetapi Soraya melarang dengan keras. 


"Sudah kamu di sini saja. Tidak apa aku mengambil air putih sendiri." Roger berbicara lembut dan mengecup pipi Soraya agar wanita itu tidak curiga. 


Setelahnya, ia pun menuju ke dapur. Mengambil air putih dari lemari pendingin. Tidak ada yang mencurigakan di sana. Namun, ketika hendak kembali, pandangan Roger teralihkan pada secarik kertas yang tertempel di dalam kulkas. Roger pun segera mengambil dan membaca tulisan di sana. 


Coretannya sama persis dengan tulisan tangan di dalam surat dari Nazura. 


Tuan, saya sudah menyiapkan makan malam untuk Anda. Maaf, kalau nanti saat Anda hendak memakannya sudah dingin. Anda tinggal memanaskan saja. Saya sengaja menaruh surat ini di sini karena saya yakin kalau Anda tidak pasti membuka tudung saji. Persediaan makanan dan sayuran juga sudah saya penuhi semuanya agar Anda tidak bingung berbelanja. Ingat, jangan terlalu sering makan makanan kemasan karena itu tidak baik. 


Selamat menikmati, Tuan. Semoga suka :) 


"Ya Tuhan ... Kenapa wanita ini mampu membuatku tidak bisa berkata-kata," gumam Roger. 


Sungguh, Roger tidak menyangka kalau Nazura akan meninggalkan pesan seperti ini. 


"Roger! Kenapa kamu lama sekali?" 


Roger tersentak dan dengan cepat menaruh kertas tersebut ke dalam saku kemeja. Lalu ia mengambil air mineral dan tersenyum ketika melihat Soraya yang sedang mengerucutkan bibir sembari bersedekap. 


"Maaf."


Roger pun mengajak Soraya untuk kembali ke meja makan. Sebelum akhirnya Roger mengantar Soraya pulang ke rumah. Sebenarnya, Soraya ingin sekali menginap, tetapi Roger melarang karena tidak ingin diganggu siapa pun. 


Ia ingin menyendiri saat ini.