
Hari ini Roger bisa bernapas lega karena semua pekerjaannya sudah beres dan ia bisa libur selama beberapa hari ke depan. Ia sengaja mengambil cuti untuk menemani istrinya melahirkan. Rasa tidak sabar ia rasakan ketika membayangkan buah hati keduanya lahir. Ya, tinggal menghitung hari Nazura akan melahirkan.
Setelah dirasa semua beres, Roger pun bergegas pulang. Namun, ketika baru sampai di parkiran, langkahnya terhenti ketika ponselnya berdering. Roger segera menerima panggilan itu ketika melihat nama sang mama tertera di layar.
"Hallo, Ma. Ada apa?" tanya Roger.
"Roger, sekarang kamu ke rumah sakit. Nazura sudah mau melahirkan dan kami sedang dalam perjalanan."
"Hah?"
"Hah heh apa! Kamu tidak dengar apa yang mama katakan?" Rosa mulai sewot.
"Aku dengar, Ma. Baiklah aku akan langsung ke rumah sakit."
Panggilan itu pun terputus begitu saja. Roger masuk ke mobil dengan tergesa dan mengemudikan mobil dengan pikiran kalut. Bahkan, lelaki itu hampir bertabrakan dengan beberapa mobil dan ia tidak peduli meskipun menjadi bahan omelan orang lain. Yang ada dipikiran Roger saat ini adalah ia bisa sampai di rumah sakit dengan cepat.
Sesampainya di rumah sakit, Roger langsung menuju ke ruang bersalin dan ia melihat Bryan sedang duduk menunggu di depan pintu.
"Di mana Nazura, Pa?" tanya Roger celingukan.
"Di dalam bersama mama. Kamu masuklah. Sejak tadi, Nazura mencarimu," suruh Bryan. Roger pun mengangguk cepat dan bergegas masuk ke ruangan.
"Mas, kamu sudah di sini?" tanya Nazura. Bibir wanita itu tampak sedikit pucat karena menahan rasa sakit sejak tadi.
"Ya. Maaf aku terlambat. Aku tidak tahu bayi kita sudah mau keluar," ujarnya. Mengecup puncak kepala Nazura penuh dengan sayang.
"Tidak apa, Mas. Aku juga tidak tahu sebelumnya. Kupikir, pinggangku sakit karena sudah hamil tua." Nazura sudah terlihat lebih tenang saat Roger sudah berada di sampingnya.
Rosa pun keluar dan membiarkan Roger tetap berada di dalam menemani Nazura. Sambil menunggu pembukaan lengkap, Roger mengajak Nazura mengobrol dan ia akan mengusap punggung Nazura ketika sedang kontraksi untuk sedikit meredakan rasa sakit yang dirasakan oleh wanita itu.
"Devi menelepon," kata Roger. Menunjukkan ponsel Nazura.
"Pasti bayinya sudah lahir. Angkat saja, Mas."
Roger pun menuruti keinginan istrinya. Menerima panggilan tersebut dan ketika panggilan terhubung, tampaklah wajah Devi memenuhi layar bersama dengan seorang bayi mungil yang terbalut selimut berwarna merah muda di sebelah wanita itu.
"Hallo, Tante. Aku sudah lahir," kata Devi menirukan suara anak kecil.
Senyum Nazura pun merekah sempurna dan merasa sangat bahagia hingga lupa pada rasa sakit yang saat ini kian sering dirasakan.
"Wah, cantik sekali calon menantuku," ucap Nazura.
"Sebentar lagi. Sepertinya hari lahir anak kita bakalan sama, deh, Dev."
"Maksudnya?" tanya Devi. Otak wanita itu mendadak lemot seperti biasa.
"Aduh, Mas. Ini sakit sekali," keluh Nazura sampai menaruh ponselnya secara sembarang.
Roger pun bergegas memanggil dokter dan ternyata sudah pembukaan lengkap. Roger kembali merasa cemas. Melihat seorang wanita melahirkan ternyata tidak seindah melihat gebetan di depan mata. Antara cemas, takut, dan khawatir bercampur menjadi satu, tetapi Roger berusaha untuk tetap tenang. Jangan sampai Nazura merasa takut jika melihat ia gelisah.
Dengan tiga kali mengejan dan terus disemangati oleh suaminya, Nazura pun bisa melahirkan seorang bayi mungil dengan berat dua puluh delapan gram, berjenis kelamin perempuan. Tangisan bayi yang menggema seperti kembang api sebagai tanda sebuah kebahagiaan.
"Lihatlah, Na. Dia cantik sekali seperti kamu," puji Roger. Mengusap air mata haru.
"Tentu saja, Mas. Kalau kamu tidak bilang secantik saya maka kamu harus bersiap tidur di luar kamar," celetuk Nazura. Mengundang tawa dokter dan para perawat yang berada di ruangan itu. Roger pun menciumi pipi Nazura saking gemasnya.
***
Akmal merasa heran karena sejak tadi melihat Lolita yang hanya diam dan terus saja menatap keluar jendela. Tidak ada rona kebahagiaan sedikit pun dari wanita itu. Bahkan, wajahnya terlihat sangat murung.
"Kamu kenapa? Bukankah seharusnya kamu bahagia karena Nazura sudah melahirkan?" tanya Akmal. Berdiri di samping istrinya dan menarik kepala wanita itu ke atas bahunya. Lolita pun hanya menurut.
Ia tidak langsung menjawab dan justru mengembuskan napas panjangnya berkali-kali.
"Kamu sedih mendengar Nazura sudah melahirkan anak kedua?" tanya Akmal lagi karena belum mendapat jawaban.
Lolita menggeleng lemah. "Tidak. Aku justru bahagia. Aku hanya sedang—"
"Kamu sedih karena sampai sekarang belum hamil juga?" sela Akmal menebak. Lolita menutup rapat mulutnya dan sebagai tanda bahwa tebakan Akmal memang benar adanya.
"Bukankah sudah kukatakan kalau jangan memikirkan hal itu terus. Kita hanya perlu menjalani. Semua sudah ada garisnya dan percayalah bahwa apa yang Tuhan gariskan untuk kita itu selalu indah. Kalau kamu hanya memikirkan hal itu, sama saja kamu menyiksa dirimu dengan pikiran burukmu sendiri," omel Akmal. Ia mendes*hkan napas ke udara secara kasar. Membuat Lolita agar tidak terlalu larut pada pemikiran seperti itu ternyata bukanlah hal yang mudah.
"Tapi—"
"Sudahlah, lebih baik sekarang kita ke rumah sakit untuk menjenguk keponakan kita. Kalau kamu tidak mau, aku berangkat sendiri saja." Akmal hendak pergi, tetapi Lolita segera menahannya.
"Aku mau ikut," rengek Lolita.
"Kamu yakin ingin ikut?" tanya Akmal. Lolita mengangguk cepat. "Kalau begitu, tersenyumlah. Aku tidak mau kita ke sana dengan bibir cemberutmu itu. Nanti dikira aku menyakitimu lagi," imbuhnya.
Senyum Lolita pun merekah dan hal itu membuat Akmal ikut tersenyum. Ia merangkul Lolita dengan segera dan mengecup pipi wanita itu sebelum keluar dari kamar dan mereka pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Nazura dan bayinya.