Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
Part 3


"Kenapa kamu menatapku seperti itu, hah! Apa kamu sudah tidak sabar menunggu malam pertama kita ?" Bagas melangkah mendekati Gadis yang masih membatu menatapnya.


Suara serak khas pria dewasa yang tegas namun sarkas terdengar di telinga Gadis.


"Apa?! Malam pertama? Apakah ini yang disebut malam pertama?" ucap Gadis dalam hati.


Gadis hanya tertunduk dengan kedua jari tangannya saling berpegangan dan meremas. Keringat dingin pun sudah mengucur. Gadis begitu ketakutan, tapi saat ini, sudah tak ada lagi yang dapat menolongnya. Ini sudah menjadi keputusannya. Pilihan yang terpaksa dipilihnya untuk menyelamatkan orangtuanya.


Aroma parfum maskulin sudah tercium dari tubuh pria itu. Pria itu berdiri kurang lebih satu meter di samping Gadis. Entah apa yang dilihatnya, dia diam di sana mengamati Gadis yang masih menunduk itu.


"Gadis "


"Iya, Tuan," jawab Gadis dengan suara yang bergetar karena takut.


"Kamu tahu siapa saya?" tanyanya lagi.


"Tahu. Anda tuan Bagaskara" Gadis masih menunduk tak berani menatap si pemilik suara.


"Apa hubungan kita?" tanya Bagas masih memandangi Gadis.


"Hubungan?" Gadis mengulangi kata-kata Bagas dengan wajah bingung dan ketakutan.


"Apa kamu lupa, kalau kita sudah menikah, dan kamu juga mau, kan?"


Gadis pun kembali mengingat kejadian beberapa saat lalu, di mana dirinya baru saja menikah dengan Bagas, yang tidak lain adalah putra dari sahabat ayahnya sendiri. Ini seperti mimpi bagi Gadis. Mimpi buruk, lebih tepatnya.


Ingin sekali dia bangun dari mimpi buruknya. Tapi saat melihat sosok Bagas yang berdiri di hadapannya dan mencium aroma tubuh pria itu, membuatnya sadar jika semua ini adalah kenyataan.


"Ternyata aku benar-benar sudah menikah dengan Bagas!"


"Saya menunggu jawabanmu, Gadis...ngga usah pura-pura lupa!" bentak Bagas.


Suara keras Bagas sedikit mengagetkan Gadis membuat wanita itu kembali tersadar dari lamunannya.


"Me-menikah?! Su-suami..istri…" jawab Gadis terbata-bata dengan takut.


Dan setelah itu, Bagas bersuara menanggapi, “Iya, sementara.”


Saat mendengar kata ‘sementara, entah kenapa membuat Gadis tidak nyaman.


Perlahan, Gadis menengadahkan kepalanya. Wajah tampan Bagas kini sedang menatapnya wajahnga. Meskipun penerangan di kamar itu tidak begitu terang, namun Gadis masih bisa melihat postur wajah sempurna milik suaminya itu. Tidak dapat dipungkiri jika Gadis mengagumi ketampanan pria itu.


"Aku akan menjadi suamimu sementara, dan tugas kamu melayaniku dari pagi sampai pagi lagi, selama istriku berada di Luar Negeri. Ini bukan keinginanku, melainkan kamu dan orang tua kamu sendiri yang menawarkan sebagai ganti untuk membayar hutang-hutang ayahmu."


Dia melanjutkan ucapannya lagi," Kita jangan sampai punya anak, karena tugas kamu hanya untuk melayaniku saja, selama istriku melanjutkan kuliah. Aku sangat mencintainya dan menyetujui dia kuliah lagi, tapi aku butuh teman tidur. Apa kamu sudah paham dengan tugas dan pekerjaan kamu?"


"Berati setelah istrinya kembali aku sudah bebas dari jaminan hutang ayahku?" ucap Gadis dalam hati.


Lagipula, bukankah ini tujuan dari pernikahan ini? Dia hanya menjadi istri pengganti untuk melayani Bagas selama istrinya melanjutkan pendidikan di Luar Negri. Gadis juga tidak ingin berlama-lama dalam pernikahan paksa ini. Sama seperti wanita lainnya, dia juga ingin menikah dengan orang yang dicintainya. Dan Bagas bukanlah pria itu.


Gadis menggigit bibirnya dan akhirnya mengangguk. "Saya paham, Tuan."


"Baguslah," ucap Bagas. "Kalau begitu, bersikap rilekslah, tidak usah tegang seperti itu lakukan tugasmu, dan aku akan melakukan tugasku. Tidak ada romantis-romatisan, langsung aja."


Bagas segera membuka jas, dasi dan kancing bajunya. Melihat itu, Gadis segera memalingkan wajahnya. Dia hanya menggigit bibirnya dengan air mata mengalir membasai pipinya.


Tangan Bagas memegang kancing baju Gadis dengan kasar, namun Gadis refleks menghindar saat jari-jari Bagas menyentuhnya. Melihat Gadis memberontak, Bagas pun mencengkeram bahunya agar Gadis tidak terus berontak.


Sekeras apapun Gadis berontak, tak mungkin Bagas akan melepaskan dari cengkeramannya yang kuat itu. Pada akhirnya, dia hanya bisa pasrah menangis dan diam saja membiarkan tangan Bagas melucuti pakaiannya satu per satu. Bagas juga membuka dandanan rambut sisa acara pernikahannya tadi, membuat rambut panjangnya terurai indah menutupi sebagian tubuh miliknya. Bagas menyuruh Gadis untuk berdiri menghadap ke arahnya.


Gadis membiarkan tangan Bagas menjamah dan melucuti pakaian bagian bawahnya hingga tak ada sehelai benangkan menutupi tubuhnya.


Bagas terpana melihat tubuh indah nan molek milik Gadis. Tanpa disadari, dia menelan salivanya dengan berat. Kalau saja dia belum memiliki istri mungkin saja dia benar-benar tergoda dengan kemolekan tubuh Gadis dalam keadaan seperti ini. Tapi akal sehatnya datang kembali, dan mengingatkan dirinya jika dia sudah memiliki seorang istri yang sangat dicintainya. Dan semua ini dilakukan hanya untuk menyalurkan nafsunya saat jauh dengan istri dan lagipula ini bukan kemauan Bagas tetapi Gadis dan keluarganya yang datang sendiri menyerahkannya. Jadi, tidak boleh ada perasaan apa pun!


"Bagus! Kita mulai sekarang, kamu layani aku dengan baik, jangan sampai kamu kecewakan aku karena hutang ayahmu sudah aku bayar lunas."


Kini Bagas sudah bertelanjang dada di depan Gadis. Sama seperti Bagas Gadis pun tampak terpesona dengan dada bidang pria itu. Bagas benar-benar pria sempurna! Tidak hanya wajahnya, bahkan dia pun menjaga tubuhnya yang berotot itu dengan baik. Ingin rasanya dia menyentuh dada bidang itu, tapi… seketika Bagas terhenyak dari pikiran anehnya.


Tidak! Ingat, dia sudah punya istri dan kamu hanya istri sementaranya saja, Gadis!


"Berbaringlah!" perintah Bagas.


Lalu Bagas memposisikan Gadis dalam posisi tidur di atas ranjang besar dalam ruangan itu.


Gadis menangis sambil tangannya memegang seprei saat Bagas berusaha melakukan penyatuan. Namun, Bagas tiba-tiba mengerutkan dahinya. Bagas baru menyadari jika Gadis sepertinya belum pernah disentuh oleh pria manapun, karena itu dia tampak kesulitan saat ingin melakukan penyatuan tadi.


Lalu, tiba-tiba sebuah ide gila muncul di benaknya, yang niatnya tanpa pemanasan terpaksa dia melakukannya supaya permainan ini lebih mudah." Apakah dia perlu merangsangnya?" batinnya.


Bagas lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Gadis dan tanpa meminta persetujuan Gadis, dia pun mencium bibir wanita itu. Gadis sontak terkejut saat merasakan sensasi dingin namun lembut di bibirnya. Dia tidak menyangka jika Bagas akan menciumya dengan tiba-tiba seperti ini.


Melihat Gadis yang tidak membalas, Bagas pun semakin memperdalam ciumannya. Sementara Gadis tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Sesungguhnya, bibir pria itu benar-benar menggodanya. Namun, apakah dia harus mengikuti kata hatinya atau akal sehatnya?


Dan pada akhirnya, Gadis pun memilih untuk menikmati percintaan sesaat ini. Dia mulai membalas ciuman Bagas sambil merangkul leher pria itu, hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka. Bagas yang mendapat respon dari Gadis pun semakin berani. Kali ini dia juga meninggalkan stempel kepemilikannya di leher dan hampir di sekujur tubuh Gadis.


Suasana kamar yang sunyi pun kini hanya terdengar suara deru napas yang saling memburu dan rintihan sepasang suami-istri yang saling melakukan penyatuan.


Gadis memegang seprei dengan sangat kencang, lenguhan panjang terdengar dari bibir mungil Gadis dan juga Bagas sesaat setelah Bagas selesai melakukan pelepasan.


Di satu sisi, Gadis mengakui kehebatan pria itu. Tapi di sisi lain, dia malu pada dirinya sendiri karena tidak bisa menolak menikmati permainan dari pria itu.


"Kamu belum pernah melakukan ini sebelumnya dengan lelaki lain?" Bagas bertanya pada Gadis saat matanya melihat bercak darah di seprei putih itu.


Gadis terkejut dengan pertanyaan itu, namun dia hanya mengangguk membenarkan.


"Iya, Tuan!" jawab Gadis ketakutan.


Setelah itu, Bagas berdiri lalu membawa semua pakaiannya masuk ke kamar mandi. Di dalam, dia pun membilas seluruh tubuhnya di bawah shower. Bagas tak ingin ada sisa keringat menempel di tubuhnya.


Setelah beberapa menit berada di kamar mandi, Bagas pun keluar sudah dengan berpakaian lengkap. Namun, dia tak menduga jika hal pertama yang dilihatnya setelah keluar dari kamar mandi adalah Gadis yang masih dalam posisinya berbaring tanpa berbusana. Kemolekan tubuhnya seolah menantangnya kembali.


Bagas seketika menelan salivanya. Tiba-tiba pikirannya kembali melanglang buana saat mereka bermain tadi.


"Sialan! Apakah dia sengaja melakukan ini?"


Bagas pun menatap tajam pada Gadis dan berseru, “Apakah kamu berusaha menggodaku lagi?”


Mata Gadis membulat sempurna," Apa katamu hahh, Menggodamu?! Semalam saja kamu yang maksa aku kok," umpat Gadis dalam hati.


"Aku pergi dulu, jangan pernah pergi dari rumah ini, paham!!"


Bagas menyambar jaketnya, dan bergegas keluar dari kamar Gadis.


Gadis bisa bernafas lega setelah Bagas pergi meninggalkan kamarnya. Permainan Bagas yang kasar meninggalkan rasa nyeri di beberapa bagian tubuhnya.


Bersambung....