Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
GPH 36


Hidup bergelimang harta apakah menjanjikan seseorang hidup dalam kebahagiaan? 


Jawabannya, tidak selalu! 


Karena sejatinya sebuah kebahagiaan tidak akan pernah bisa dibeli dengan harta sebanyak apa pun.


Siapa sangka, Roger yang notabene seorang lelaki tampan. Pengusaha muda, pemilik sebuah perusahaan yang sudah cukup maju. Ternyata memiliki masa lalu yang kelam dan mencekam. 


Terlahir dari seorang ibu yang tidak menginginkan kehadirannya membuat Roger memiliki masa kecil yang tidak indah. Pernikahan Rosa dengan Bryan—papa Roger— awalnya bukanlah pernikahan atas dasar sama-smaa cinta, tetapi karena sebuah perjodohan.


Rosa sangat tidak mencintai Bryan, tetapi ia terpaksa menerima lelaki itu atas desakan kedua orang tuanya. Pada akhirnya, hubungan mereka pun tidak pernah harmonis karena kedua orang itu sama-sama cuek. Namun, suatu ketika mereka terpaksa bercinta setelah orang tua Bryan memberi obat perangsang dan Rosa akhirnya mengandung benih Bryan. 


Benci. 


Sudah pasti Rosa sangat membenci itu. Apalagi ketika ia hendak menggugurkan kandungannya, Bryan justru melarang dan mengancam akan membunuh wanita itu. Sampai akhirnya, Roger terlahir ke dunia. Namun, hubungan kedua orang itu tetap tidak pernah baik. 


Merasa tidak betah, Rosa dan Bryan tinggal terpisah ketika Roger berusia lima tahun. Usia yang seharusnya masih mendapat kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya bagi Roger.


***


Roger mengusap air mata ketika teringat masa kecil yang memilukan itu. Di mana ia selalu disakiti oleh sang mama, sedangkan sang papa jarang sekali pulang. Bahkan, sudah sejak sepuluh tahun lalu, Roger benar-benar kehilangan kabar sang papa. Padahal sebelumnya, sang papa masih mengunjunginya sesekali. 


"Andai kamu bukan ibuku, sudah pasti aku membunuhmu sejak lama." Roger mengepalkan tangan erat hingga buku-buku kukunya memutih. 


Bayangan masa kecil itu, benar-benar membuatnya menaruh dendam kepada wanita tersebut. Masa kecil yang seharusnya penuh tawa dan kasih sayang, tetapi justru menorehkan luka dan kenangan pahit. 


Tidak ingin kehilangan kendali ketika terus menatap wajah Rosa, Roger pun memilih untuk pergi dari ruangan itu. Sudah cukup ia menatap wanita itu dalam keadaan tidak berdaya. Rasa benci yang tertanam kuat dalam hatinya, nyatanya tetap kalah dengan rasa iba ketika menatap wanita paruh baya itu. 


Roger pun segera masuk ke mobil. Ia harus bertemu Nazura saat ini agar hatinya merasa lega. Sepertinya hanya itulah obatnya saat ini. Selama dalam perjalanan, Roger merasa tidak tenang dan terus kepikiran Nazura. Ada rasa tidak sabar ingin segera mendekap wanita itu. 


Namun, Roger harus menelan kekecewaan karena ternyata Nazura tidak berada di kos-kosan. Dengan segera, Roger menyuruh sang sopir menuju ke toko kue di mana Nazura bekerja. Namun, lagi-lagi wanita itu tidak berada di sana. 


Rasanya Roger ingin menggeram marah. Ini benar-benar membuat hatinya merasa kesal. Bahkan, ia sampai memukul jok mobil untuk meluapkan segala amarah itu. 


"Ya Tuhan, ke mana Nazura." Roger mengacak rambut kasar sebelum akhirnya menyuruh sang sopir untuk kembali ke apartemen. Ia akan menenangkan diri untuk saat ini. 


***


"Kamu ngekos di sini, Na?" tanya Devi saat mereka sudah sampai di tempat kos Nazura.


"Iya, Akmal yang membantuku mencari kosan ini. Biar dekat dengan tempat kerjaku," sahut Nazura senang. Menyuruh Devi untuk masuk ke ruangan yang hanya ada satu tempat tidur kecil di dalam sana. 


"Akmal? Siapa dia? Sepertinya aku belum pernah mengenalnya." Devi mengerutkan kening. Merasa asing dengan nama yang disebut Nazura. 


"Teman masa kecilku. Eh, dia telepon. Panjang umur sekali ya." Nazura terkekeh saat ponselnya berdering dan nama Akmal tertera di layar. Ia pun segera menerima panggilan tersebut, sedangkan Devi duduk tenang menunggu sahabatnya selesai mengobrol. 


Namun, Devi pun terkejut ketika ponselnya juga berdering dan ternyata yang menghubunginya adalah Roger. Ia merasa gugup dan bimbang apakah harus menerima panggilan itu atau tidak. Beberapa kali ia melirik Nazura yang masih sibuk mengobrol. 


Tidak ingin ketahuan oleh Nazura, dengan segera Devi mematikan panggilan itu dan mengirim pesan kalau dirinya sedang sibuk. Devi tidak ingin jika Nazura sampai mengetahui hal tersebut karena jika sampai ketahuan, sudah pasti Nazura akan marah kepadanya. 


"Ikut aku, Dev." Nazura tampak tergesa bahkan memasukan ponsel ke tas kecil dengan tidak karuan.  


"Ke rumah sakit." 


"Rumah sakit? Mau jenguk siapa?" Devi beranjak bangun. 


"Akmal. Dia tadi kecelakaan dan sekarang sedang dirawat." Nazura menarik tangan Devi dan mengajaknya pergi dengan segera. Devi pun hanya menurut saja. 


Setibanya di rumah sakit, Nazura langsung menuju ke ruang perawatan Akmal. Ruang kelas VIP di mana hanya ada satu brankar di sana. Kedatangan Nazura pun membuat senyum Akmal mengembang sempurna. 


"Ya Tuhan, Akmal! Kita baru saja bertemu, tapi kenapa kamu sudah membuatku sangat khawatir?" tanya Nazura kesal. Ia bahkan tidak sadar sudah memukul lengan lelaki itu hingga membuatnya mengerang kesakitan. 


"Nazura, kenapa kamu jahat sekali. Ini sangat sakit, astaga," dengkus Akmal. 


Nazura pun terkekeh dan meminta maaf setelahnya. 


Tak lupa, Nazura memperkenalkan Devi kepada Akmal. Lalu ia memberondong dengan banyak pertanyaan kenapa lelaki itu bisa sampai kecelakaan. 


Setelah cukup lama mengobrol, Nazura pun berpamitan untuk membeli makanan karena perutnya sangat lapar. Dengan ditemani Devi, kedua perempuan itu berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan menuju ke kantin yang terletak di paling ujung. 


Namun, langkah Nazura tiba-tiba terhenti ketika ia melihat wanita yang tidak asing baginya, sedang duduk di kursi roda bersama dengan seorang lelaki paruh baya di belakangnya. Dengan langkah ragu, Nazura berjalan mendekat untuk memastikan penglihatannya tidak salah meskipun Devi sudah melarang karena takut.


"No-Nona Soraya?" panggil Nazura gugup. Khawatir ia salah memanggil. 


Namun, ketika wanita itu berbalik, Nazura mengembuskan napas lega karena ternyata itu memang Soraya yang sedang menghirup udara segar dengan ditemani oleh Danu, sang papa. 


Melihat keberadaan Nazura, membuat Soraya menatapnya sengit. "Untuk apa kamu datang ke sini? Kamu mau menertawakanku!" tukas Soraya setengah membentak. 


"Tidak, Nona," bantah Nazura cepat. 


Memang bukan itu maksud Nazura mendekati Soraya, bukan untuk menertawakan wanita tersebut. 


"Dia siapa, Sayang?" tanya Danu kepada putrinya. 


"Wanita tidak jelas, Pa." Soraya menjawab ketus. "Pa, maukah Papa pergi sebentar? Aku mau bicara dengan dia," imbuhnya setengah mengusir. 


"Kamu tinggal mengobrol saja. Papa akan menunggu di sini," ujar Danu. Tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya. 


"Aku mau berbicara empat mata. Aku mohon, Pa. Aku janji setelah ini aku bersedia ikut Papa kembali ke luar negeri." Soraya menunjukkan dua jari tanda damai sebagai bukti ia akan menepati janjinya nanti. 


Danu pun mengikuti perintah sang putri. Dia pergi dari sana bersama dengan Devi. Meninggalkan Soraya berdua dengan Nazura. 


Cukup lama kedua wanita itu saling diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Soraya sama sekali tidak mau menatap Nazura yang terus terdiam sejak tadi dan hal itu benar-benar membuatnya tidak betah. 


"Nona, kalau memang tidak ada yang ingin Anda sampaikan, lebih baik saya antar Anda ke ruangan. Anda harus banyak beristirahat," kata Nazura sopan. Namun, Soraya menahan tangan Nazura yang hendak memegang kursi roda itu. 


"Ada hal penting yang akan aku katakan padamu." 


Soraya tampak ragu dan beberapa kali menghela napas panjangnya, sedangkan Nazura menunggu sembari harap-harap cemas. Semoga Soraya tidak menyakiti hatinya lagi meskipun hanya sekadar lewat ucapan.