
"Hallo, Na. Kamu sedang apa?" Roger menelepon Nazura saat ia sudah sampai di apartemen.
"Saya sedang menemani Devi dalam perjalanan ke rumah sakit untuk menunggu neneknya. Kenapa, Mas? Kamu belum tidur?" tanya Nazura lembut.
Roger memejamkan mata. Mendengar suara Nazura seketika membuat emosi yang tadi memenuhi relung hatinya menguap begitu saja. Nazura benar-benar menjadi obat paling mujarab untuk kegelisahan hati Roger.
"Mana mungkin aku bisa tidur jika jauh dari istriku. Tidak ada yang kupeluk dan itu membuatku merasa ada yang kurang. Kirimkan alamatnya, besok pagi aku akan menyusulmu."
"Tidak perlu. Saya tidak mau kamu meninggalkan pekerjaanmu. Lebih baik fokus saja pada pekerjaan dan kesembuhan Nyonya Rosa. Saya akan berusaha pulang ke kota secepat mungkin." Nazura melarang. Ia memang tidak ingin jika Roger menyusul dirinya ke sana karena Nazura masih membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.
"Na, katakan padaku. Apa kamu pergi karena ada hubungannya dengan mama?" Roger ingin tahu jawaban seperti apa yang diberikan oleh istrinya. Apakah wanita itu akan berbicara sejujurnya atau tidak.
"Tidak. Saya pergi untuk menemani Devi bukan karena alasan lain. Sudah, jangan berburuk sangka, Mas. Ingat, kamu harus memperbaiki semuanya. Saya matikan dulu karena sudah sampai."
Walaupun berat hati, Roger tetap mematikan panggilan tersebut. Ia menatap layar ponsel yang menampilkan gambar pernikahannya.
Sungguh, Roger sangat merindukan wanita itu.
***
"Suami kamu, Na?" tanya Devi penasaran saat Nazura baru saja selesai bertukar suara.
"Ya, memang siapa lagi. Haha." Nazura tergelak dan langsung mendapat tonyoran dari Devi.
"Dasar bucin tuh laki. Baru juga ditinggal sebentar. Kita kerjain aja, Na. Kamu jangan pulang sampai dua minggu. Aku yakin Tuan Roger bisa mati kesepian dan karena tak kuasa menahan kerinduan," goda Devi.
"Gila kamu, Dev! Mana mungkin bisa. Baru sehari ditinggal aja dia udah telepon terus bahkan mau menyusul ke sini," ujar Nazura. Sedikit mengerucutkan bibirnya manja.
"Kalau begitu biarkan saja. Tapi jangan kamu kasih tahu alamatnya. Biar dia cari sendiri kalau memang sampai di sini. Itu artinya dia memang sayang sama kamu dan kalian berjodoh," kata Devi. Menarik turunkan alisnya makin menggoda Nazura.
"Lalu kalau ternyata Mas Roger tidak datang dan tidak bisa sampai sini?"
"Kalau itu bisa saja pertanda buruk."
Nazura sudah mendelik ke arah Devi yang tetap terlihat santai meski berbicara ngawur.
"Santai, Sis. Bisa saja dia tidak mencintaimu dan kalian tidak berjodoh. Lalu kamu menjadi janda, dan aku yang akan menikahi Mas Duda mantan suami kamu. Aahh, Nazura! Aku cuma becanda."
Devi mengerang saat Nazura sudah menonyor kepalanya sangat kuat bahkan sampai wanita itu jatuh terjengkang.
"Rasakan! Dasar temen laknat! Berani sekali kamu berbicara seperti itu. Belum pernah dikasih pisang kamu ya!"
"Pisang apa dulu, Na. Kalau pisang Ambon, pernah. Tapi, kalau pisang berurat sepertinya belum pernah," seloroh Devi disertai gelakan tawa.
"Astaga, mesumnya sahabatku ini." Nazura menggerutukkan gigi dan hampir menonyor Devi, tetapi gadis itu sudah memasang ancang-ancang dan berlari kabur dari Nazura. Dengan segera, Nazura pun mengejar Devi tanpa peduli saat ini mereka sedang di area rumah sakit.
"Arrgghh!"
Nazura meringis saat bokongnya menyentuh lantai karena bertabrakan dengan seseorang. Ia pun mendongak dan terkejut ketika melihat seorang lelaki paruh baya, memiliki paras sama seperti Roger. Hanya bagian hidung saja yang berbeda.
Walaupun sebagian rambutnya sudah memutih, tetapi dada bidang dan otot di lengan masih bisa menunjukkan betapa kekarnya lelaki itu saat muda.
"Kamu tidak apa-apa, Na?" Devi membuyarkan lamunan Nazura dan membantunya bangkit berdiri.
"Tidak. Aku hanya kaget saja." Nazura menggeleng lemah. Tatapannya terus mengarah ke arah lelaki itu.
"Lain kali berhati-hatilah saat jalan apalagi ini di area rumah sakit. Jangan seperti anak kecil. Maaf, kalau sudah membuatmu terjatuh."
Setelah mengatakan itu, lelaki tersebut pergi meninggalkan Nazura dan Devi begitu saja.
"Hussst! Kamu kenapa, Na? Jangan bilang kamu naksir om-om itu?" Devi menyenggol lengan Nazura untuk kembali menyadarkan wanita itu.
"Ti-tidak." Nazura menjawab terbata. "Aku hanya kaget aja, kenapa lelaki itu sangat mirip dengan Mas Roger. Bahkan, mereka seperti pinang dibelah dua."
"Haha. Jangan bilang kalau kamu saking cintanya sama Tuan Roger jadi gitu. Melihat lelaki lain itu seperti jelmaan Tuan Roger," tukas Devi.
Nazura hanya mendengkus kasar lalu mereka berjalan beriringan menuju ke ruangan di mana nenek Devi dirawat. Walaupun hati Nazura masih merasa penasaran karenanya.