
Beberapa bulan kemudian.
Perut Nazura sudah membuncit bahkan sedikit turun karena sudah mendekati hari lahir. Namun, wanita itu sangat aktif termasuk membantu keluarga pamannya. Besok, acara ijab kabul pernikahan Akmal dan Lolita akan dilangsungkan dan Nazura yang paling antusias menyiapkan. Sampai membuat Roger seperti orang frustrasi.
"Na, sudah. Aku tidak mau kamu kelelahan. Sekarang sudah malam waktunya kamu tidur." Roger berusaha berbicara selembut mungkin meskipun hatinya merasa kesal dengan sikap istrinya yang keras kepala.
"Tunggu dulu, Mas ...."
"Na, lebih baik kamu tidur. Aku tidak mau kalau kamu sampai kesiangan di acara pentingku." Lolita pun berusaha merayu.
Akhirnya, Nazura bersedia dan bergegas ke kamar bersama dengan Roger. Setidaknya, Roger bisa menghela napas lega.
"Kenapa?" tanya Roger cemas saat melihat istrinya yang mengerutkan kening dalam. Seperti orang yang sedang menahan sakit.
"Pinggangku rasanya pegal," keluh Nazura. Roger pun dengan segera membantu mengusap punggung istrinya.
"Kan sudah kubilang, jangan bekerja terlalu keras. Sudah waktunya kamu istirahat," omel Roger.
Nazura tidak menjawab. Hanya diam dan memeluk guling sangat erat. Lalu beberapa saat kemudian, Roger mendengkus kasar ketika mendengar dengkuran halus istrinya.
"Ya Tuhan. Dasar kebo," cebik Roger. Mencium pipi dan kening Nazura lalu menyelimuti sampai sebatas leher. Roger pun memeluk istrinya dan ikut memejamkan mata. Ikut andil dalam menyiapkan sebuah pesta pernikahan ternyata sangat melelahkan.
***
Alunan musik mendayu semakin menambah suasana haru di tempat acara itu. Akmal tampak gugup dan tangannya sudah basah ketika bersalaman dengan Bima. Mereka sudah bersiap untuk melangsungkan ijab kabul.
Bima menghirup napas dalam. Menjabat tangan Akmal membuat lelaki itu tanpa sadar hendak menitikkan air mata. Ini memanglah berat untuknya. Seburuk apa pun perangai Lolita, ia adalah putri yang paling disayanginya melebihi apa pun. Setelah ijab Kabul nanti selesai, maka usai sudah tanggung jawab Bima. Yang bertanggung jawab sepenuhnya atas diri Lolita adalah Akmal. Sebagai seorang suami.
"Nak, kamu sudah siap untuk ijab kabul?" tanya Bima lagi memastikan. Akmal pun mengangguk cepat tanpa keraguan.
Jabatan tangan Bima kian erat. Lelaki itu memejamkan mata sembari menghirup napas dalam dan mengembuskan dengan perlahan.
"Saudara Akmal Pradana, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Lolita Anggraeni binti Bima Prasetyo, dengan maskawin seperangkat alat sholat, uang tunai sebesar lima puluh juta, dan perhiasan sebesar sepuluh gram dibayar tunai!"
Ucapan syukur pun menggema di ruangan itu. Disusul dengan doa. Acara dilanjut dengan resepsi pernikahan. Nazura yang sejak tadi mendampingi Lolita, kini duduk bersama dengan Rosa dan Bryan.
Napasnya sedikit tersengal karena kelelahan.
"Mas, usap punggung saya. Rasanya pegal sekali." Nazura merebahkan kepala di atas meja. Tidak peduli meskipun yang lain menggeleng saat melihatnya.
"Makanya, duduk saja. Kamu ini benar-benar ngeyel sama suami." Roger mulai mengomel.
"Ya Tuhan, diamlah, Mas. Ini rasanya pegal sekali sampai depan," keluh Nazura. Beberapa kali meringis saat merasakan perutnya seperti kontraksi.
"Kita ke rumah sakit sekarang." Roger bangkit berdiri, tetapi Nazura justru memaksa lelaki itu agar kembali duduk.
"Tidak mau. Saya belum mau keluar dari sini jika acara belum selesai," kata Nazura. Merajuk seperti anak kecil. "Lagi pula, tinggal acara foto-foto. Saya tidak mau jika tidak ada foto saya dalam album pernikahan Lolita."
Roger menghela napas panjang berkali-kali. Berusaha memberi kesabaran pada hatinya jika menghadapi Nazura yang sedang keras kepala seperti ini.
"Sayang, kalau kamu sudah sering kontraksi, bisa jadi kamu sudah mau lahiran. Bagaimana kalau kita ke rumah sakit sekarang," rayu Rosa. Ia merasa jika anak menantunya sudah hampir melahirkan. Terlihat sekali jika Nazura sedang menahan sakit meski terkadang raut wajahnya biasa saja ketika kontraksinya menghilang.
"Sebentar lagi, Ma." Nazura bangkit berdiri. "Sekarang kita foto dulu," ajaknya.
Roger pun memberi kode agar mereka menuruti ajakan Nazura. Semakin cepat maka akan semakin baik dan Roger bisa segera membawa istrinya ke rumah sakit.
Mereka berpose, meskipun beberapa kali Nazura harus meringis karena rasa sakit yang mulai sering terasa, tetapi ia selalu berusaha tersenyum ketika ada bidikan kamera.
"Mas, ini sakit sekali." Nazura berpegangan erat pada kedua tangan Roger dan terus merintih kesakitan.
"Na, kita ke rumah sakit sekarang." Roger tanpa basa-basi membopong Nazura keluar dari tempat acara itu. Masuk ke mobil dengan segera dan meminta Bryan untuk menyetir. Roger tidak ingin menyetir sendiri karena khawatir akan terjadi apa-apa jika mengemudi mobil dalam keadaan tidak konsentrasi.
"Tahan sebentar lagi kita akan sampai," ucap Roger berusaha menenangkan Nazura. Ia mengecup wajah istrinya berkali-kali.
Setibanya di rumah sakit, Nazura langsung diperiksa dan ternyata sudah pembukaan tujuh. Ia pun langsung masuk ke ruang bersalin. Dengan sabar Roger mendampingi istrinya dan terus memberi semangat kepada wanita itu.