Gadis Penebus Hutang

Gadis Penebus Hutang
GPH 60


Nazura merasa heran karena selama dalam perjalanan pulang, Roger terus saja diam. Tidak mengajaknya mengobrol sama sekali. Bahkan, raut wajah lelaki itu tampak dipenuhi kekesalan. Ketika masuk kamar pun, Roger langsung membersihkan diri tanpa mengucap sepatah kata. 


Nazura mendadak murung karena tidak  nyaman dengan sikap suaminya itu. Namun, Nazura tetap menyiapkan baju ganti untuk suaminya dan bersiap untuk bergantian mandi. Akan tetapi, Nazura terkejut ketika Roger keluar kamar hanya memakai handuk sebatas pinggang, langsung membopong Nazura dan mengajaknya ke kamar mandi. Tidak peduli meski istrinya menolak, Roger tetap menurunkan di bath up dan pada akhirnya kedua orang itu pun mandi plus-plus. 


Nazura tidak habis pikir, suaminya aku mogok ngobrol, tapi soal bercinta tidak ada liburnya. 


"Na, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." 


"Tentang?" Nazura mengerutkan kening dalam. Apalagi ketika melihat Roger justru merebahkan tubuh dan menarik dirinya agar masuk dalam dekapannya. 


"Em, aku hanya berharap sama kamu agar jangan terlalu lemah kepada siapa pun, terutama orang yang merendahkanmu. Kita boleh mengalah, tetapi ada kalanya kita menantang agar harga diri kita tidak diinjak-injak," nasehat Roger. 


Nazura merasa yakin jika apa yang dikatakan suaminya ada kaitannya dengan kejadian tadi di rumah Bima. 


"Saya bukannya tidak mau menantang, Mas. Saya hanya tidak bisa melawan keluargaku sendiri. Apalagi, hanya pamanlah keluarga yang saya punya." 


"Tapi sekarang tidak. Kamu memiliki aku, bukan? Dan aku pun sudah berjanji akan selalu menjagamu apa pun keadaannya. Aku akan berusaha membuat hidupmu bahagia dan tidak ada lagi orang yang bisa merendahkanmu." Suara Roger terdengar tegas dan tidak terbantahkan. 


Nazura pun hanya diam dan memilih untuk memejamkan mata. Ia sudah sangat lelah menjalani hari ini dan tidak ingin ada perdebatan di antara mereka. Mendengar dengkuran halus istrinya, Roger pun hanya mendes*h pelan dan mengecup puncak kepala wanita itu penuh kasih sayang. 


***


Pagi-pagi sekali Roger dibuat terkejut dengan suara Nazura yang sedang muntah-muntah dari kamar mandi. Ini bukanlah pertama kalinya, tetapi hari ketiga Nazura selalu mual bahkan muntah setiap pagi. Roger sudah meminta Nazura untuk memeriksakan diri ke dokter, tetapi selalu ditolak dengan alasan Nazura sangat benci bau obat. 


Akan tetapi, kesabaran Roger kini telah menipis. Lelaki itu memanggil seorang dokter untuk datang ke rumah tanpa sepengetahuan Nazura. Jika wanita itu sampai tahu, bisa jadi ia akan kabur ketika dokter sudah datang. Roger pun secara sengaja tidak berangkat ke kantor hanya untuk melihat hasil pemeriksaan istrinya. 


"Loh, Mas. Kamu belum berangkat?" tanya Nazura heran. Saat ia berjalan ke ruang tamu dan melihat suaminya sedang duduk di sofa sambil sibuk bermain ponsel. 


"Tidak. Aku libur hari ini. Rasanya pengen di rumah nemenin kamu. Aku tidak tenang jauh darimu karena sepertinya tubuhmu sedang tidak baik-baik saja," sahut Roger tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. 


"Ish! Kamu itu. Saya tidak apa ditinggalkerja. Bukankah sudah biasa, lagi pula di rumah kan ada mama." Nazura duduk di samping Roger dan bersandar di pundak lelaki itu. 


"Loh, memangnya salah kalau aku ingin di rumah menemani istriku?" 


"Em, tidak, sih." 


Perhatian kedua orang itu teralihkan ke arah pintu utama. Di mana security masuk bersama dengan Bryan. Padahal Roger pikir yang datang adalah dokternya. 


"Papa, tumben datang ke sini?" Kening Roger mengerut dalam ketika melihat papanya yang sedang celingak-celinguk. 


"Papa hanya ingin bermain ke sini. Sudah lama sekali tidak berkunjung ke rumah ini." Bryan duduk di depan Roger, tetapi ekor matanya beberapa kali melirik ke arah dalam. 


Menyadari hal tersebut, Roger pun mendecakkan lidah dan menyuruh salah seorang pelayan untuk memanggil sang mama meskipun tidak diperintah oleh Bryan. Jika memang kedua orang itu akan balikan alias cinta lama belum kelar dan akan kembali dilanjutkan. Maka dengan senang hati Roger akan mengiyakan. Ia hanya ingin memiliki keluarga yang utuh. 


"Loh, kok ada dokter ke sini. Siapa yang sakit, Mas?" tanya Nazura heran saat melihat seorang wanita berpakaian dokter masuk ke rumah tersebut. 


"Loh, Dokter Vena. Ada apa?" Rosa terheran saat melihat kedatangan dokter pribadi mereka. 


"Saya hanya ingin memeriksa Nona Nazura, Nyonya. Tuan Roger yang memerintah saya."  Wanita cantik itu tersenyum simpul, berbeda dengan Nazura yang terlihat terkejut. 


"Kok saya?" Nazura menunjuk dirinya sendiri dengan terheran. 


"Na, aku ingin Dokter Vena memeriksamu. Aku hanya khawatir karena kamu selalu mual setiap pagi. Aku khawatir kamu memiliki penyakit serius," kata Roger menyela obrolan mereka. 


"Kamu selalu mual tiap pagi, Na?" Rosa berjalan tergesa dan langsung duduk di samping anak menantunya. 


"Ia, Ma. Sepertinya masuk angin," keluh Nazura. Karena ia memang merasa tidak nyaman apalagi saat waktu makan tiba. 


"Kalau begitu silakan diperiksa, Dok." 


Nazura pun tidak bisa menolak lagi dan lebih memilih diam ketika Dokter Vena memeriksa. Bahkan, ketika ia harus memakai tespack, Nazura hanya menurut dan harap-harap cemas. Mungkinkah ....


"Selamat, Nona Nazura positif hamil." 


"Ha-hamil? Istri saya hamil, Dok?" tanya Roger tidak percaya. Dokter Vena mengangguk dengan cepat. 


"Ya Tuhan. Kamu hamil, Na. Aku sebentar lagi akan menjadi seorang ayah." Roger bersorak kegirangan dan menghujami Nazura dengan banyak ciuman. Sementara Nazura hanya diam karena belum sepenuhnya percaya.


"Ma-Mas, saya hamil?" Nazura bertanya lirih.


"Ya, kamu bahagia?" Roger menangkup wajah istrinya penuh kasih sayang. 


"Tentu saja. Mas ...." 


"Apa? Katakan padaku kamu mau minta apa, aku akan turuti semuanya." Roger berbicara dengan antusias. 


"Mas, saya mau  ...." Nazura diam dan tampak ragu. 


"Mau apa, hmm?" 


"Mau tidur. Rasanya tubuhku sakit sekali," keluh Nazura. Roger pun segera membopong Nazura dan membawanya masuk ke kamar. 


"Syukurlah. Aku merasa senang mendengar Nazura hamil. Itu artinya sebentar lagi aku akan menjadi seorang nenek. Rasanya sudah tidak sabar menanti kelahiran cucuku," gumam Rosa, mengusap air mata haru. 


"Bukan hanya cucumu, tapi cucuku juga. Kamu harus ingat itu." 


Rosa menoleh dan terdiam ketika melihat Bryan yang sedang tersenyum senang ke arahnya.