
"Puas kamu!!" Bagas melempar bantal sofa ke muka Gadis. Gadis hanya diam dengan wajah tak berani menatap suaminya." Kenapa?!" lanjutnya.
"A-aku...ngga meminta apa-apa sama mami, dia yang ngajak sama beliin barang-barang ini," jawab Gadis ketakutan." Dasar suami pelit, katanya bos, awas nanti kalau kamu minya jatah aku kunci pintu kamarnya biar aman," lanjutnya dalam hati.
"Kenapa lagi, masuk ke kamarmu. Kamu masih ingat kan tugas kamu sebagai istri?!" jari telunjuk Bagas berada di atas kening Gadis.
"Lupa!" Gadis keceplosan bicara.
"Mulai berani kamu ya, mentang- mentang mami perhatian sama kamu terus kamu nglonjak gitu ya, masuk...masuk!" perintah Bagas dengan menunjuk arah kamar Gadis.
Gadis beranjak dari tempat duduknya dan bergegas masuk ke kamarnya. Dia menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam.
"Aman! Kuncinya aku simpan, ponsel aku matiin tidur deh." Gadis menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. Rasa lelahnya membuat dia ketiduran.
Setelah mandi Bagas keluar dari kamarnya menuju kamar Gadis. Dia berusaha membuka pintu kamar Gadis, namun gagal karena pintu dikunci dari dalam.
"Sialan! Ternyata dia bisa marah juga, awas kamu! Dasar bodoh, emang kamu aja yang pegang kuncinya." Bagas kembali ke kamarnya untuk mengambil kunci kamar Gadis. Beberapa menit kemudian Bagas keluar dengan membawa kunci lalu membukanya pelan.
Terlihat Gadis yang terlelap di tempat tidur dengan sembarangan posisi. Bagas masuk pelan, dia mendekati tempat tidur itu dan membenarkan posisi tidur istrinya itu.
Gadis masih pulas tak bergerak hingga posisi tidurnya sudah berpindah. Bagas ikut naik ke tempat tidur, dia menatap lekat wajah istrinya yang pulas tertidur. Mungkin baru kali ini dia menatal jelas wajah istrinya.
"Ternyata kamu cantik juga ya, tapi sayang cintaku takkan pernah berpaling dari Delia. Jujur, kebutuhan bathinku merasa tercukupi dengan adanya kamu, tapi untuk bicara cinta aku ngga bisa. Mami sudah teralalu sayang sama kamu, bahkan dia menaruh harapan kalau suatu saat nanti kamu akan jadi menantunya untuk selamanya bukan hanya sementara."
Bagas mengusap rambut panjang yang memgkilap, tanpa ia sadari Gadis telah bangun dan sengaja diam tak bergerak.
"Kok dia bisa masuk, mungkin dia punya duplikatnya. Lagi kenapa nih orang, mungkin lagi ketempel malaikat kali, baru kali ini dia begitu lembut dan terlihat seperti suami yang perhatian. Aku pura-pura tidur aja, sampai di kapan dia sadar dengan kelakuannya sekarang." Gadis masih pura-pura tidur.
Bagas mencium kening Gadis dengan lembut," Mungkin dia cape, aku ngga akan mengganggunya. Maafin aku, Dis...tadi udah marah-marah sama kamu, padahal itu memang bukan salah kamu tapi salah mami yang ngajak keluar jalan-jalan."
Bagas turun dari tempat tidur, dan membiarkan Gadis meneruskan mimpinya. Dia keluar dan kembali menutup pintu kamarnya seperti semula.
Setelah Bagas keluar dari kamarnya, kemudian Gadis bangun dari tidurnya.
"Ternyata dia punya hati juga, tapi kenapa kadang dia terlihat seperti singa yang hendak memakan mangsanya. Susah untuk ditebak apa yang ada dipikirannya."
Gadis terus berfikor kenapa Bagas mendadak berubah seperti itu, apa sebenaranya yang terjadi pada dirinya. Dia masih sadar betul posisinya sekarang yang hanya istri sementara. Kembali Gadis menatap langit-langit kamarnya, larut dalam pikirannya.
Bagas masuk ke ruang kerja, dia mengambil beberapa botol minuman, sepertinya dia sedang galau pikirannya. Bagas menuang minuman itu ke dalam gelas, mungkin hanya untuk menghilangkan penat saja. Sudah lama dia tidak meminum minuman beralkohol, dia menjadi anak yang patuh terhadap orang tuannya sejak papinya meninggal dunia.
"Mas Angga...kenapa kamu tidak pernah pulang, padahal papi sudah memaafkan semuanya, papi juga membagi peruasahaan itu untuk kita. Mas, apa kamu tidak ingin berumah tangga seperti teman-teman yang lainnya."
Kembali Bagas meneguk minuman itu dari gelasnya. Dia duduk di sofa sambil memegang ponsel untuk menghubungi seseorang.
Terlihat di layar ponselnya " Mas Angga" namun nomer yang dia hubungi sedang tidak aktif. Bagas kembali menggeser layar ponselnya untuk menghubungi nomer istrinya Delia.
"Hallo sayang...lagi ngapain?"
"Lagi ngerjain tugas sayang, udah makan apa belum sayang?" tanya mesra Delia.
"Kangen dong, ya udah kamu tidur aja dulu biar besok ngga kesiangan. Aku lanjutin ngerjain tugas ya...muaachh..." Delia mengakhiri panggilan Bagas.
Bagas kembali duduk." Aku ke kamar Gadis lagi ah, siapa tahi dia udah bangun." Bagas meyimpan botol minumannya kembali ke dalam lemari dan bergegas pergi ke kamar Gadis.
Bagas mengetuk pintu kamar Gadis, dan tidak lama kemudian Gadis membuka pintu kamarnya.
"Maaf, kelamaan," ucapa Gadis.
"Hmm..." Bagas kemudian masuk dan duduk di sofa.
"Kamu tahu kan, aku ke kamar mau ngapain?" tanya Bagas dingin.
"Iya tahu."
"Tahu apa?" tanya Bagas mengulang.
"Minta jatah dari sa-ya." jawab Gadis terbata. " Udah paham banget lah, kalau ke kamar pasti minta dilayani, kenapa meati tanya segala, dasar munafik!" umpatnya dalam hati.
"Ya, sudah kamu siap-siap seperti biasa," titah Bagas.
"Udah lupa gimana caranya, soalnya beberapa hari ini kita ngga melakukannya kan?" jawab Gadis berani.
"Wuiihh...sudah berani ngejawab kamu, pintar sekali...belajar dari siapa ini?" tanya Bagas sambil mendekat.
"Dari kamu, kan kamu yang ngajarin berani..." Gadis mendongakkan kepalanya.
Mata Bagas membulat sempurna mendengar jawaban Gadis yang semakin berani kepadanya. Dia semakin mendekat ke arah Gadis yang sedang duduk di tepi ranjang. Gadis yang agak takut beringsut dari tempat duduknya untuk menjauh. Seolah tidak mau kalah Bagas pun mengikuti gerak kemana Gadis menghindar.
"Plupp..." Bagas memeluk Gadis dan menerkam bibir Gadis. Gadis yang berusaha menghindar pun tak kuasa, tubuh Bagas erat memeluk tubuhnya. Bibir Bagas semakin ganas memakan mangsanya.
Setelah beberapa menit bibir mereka berpagut, Bagas pun melepasnya, dia tak tega melihat Gadis yang kelabajan kehabisan nafasnya.
Sembari mendorong pelan tubuh Bagas, Gadis pun mundur menarik kakinya menuju sandaran tempat tidur. Bagas terus menatap seperti sedang mengintai mangsa.
"Kenapa, takut? Bukannya tadi menikmati, ngga usah pura-pura jujur aja...munafik namanya kalau ngga mau mengakuinya."
"Dasar! Bukannya kamu yang pura-pura sok ngga butuh, hhh." batin Gadis.
Gadis mendekat ke arah Bagas, dia sudah siap seperti biasanya, pasrah dengan apa yang akan Bagas lakukan.
Malam itu kembali menjadi malam panjang buat mereka berdua. Sesaat lebur dengan cumbu dan penyatuan antara mereka. Hingga malam pun berganti pagi, Bagas masih tertidur di kamar Gadis.
*****
Bersambung...