
Plak!
Nety mendelik saat melihat Bima sudah menampar Lolita cukup keras sampai kepala gadis itu ikut menoleh. Lolita pun tidak berani mendongak, hanya menunduk dalam dan mengusap bekas tamparan sang papa yang terasa memanas. Ia yakin, pipinya sudah memerah sekarang ini.
"Mas! Kamu berani menampar Lolita? Ingat, dia putri kita!" Nety tidak terima. Menatap menantang ke arah suaminya.
"Sekali-kali kita harus memberi pelajaran untuk dia. Jangan terlalu memanjakannya!" Bima menatap penuh amarah kepada istrinya. Ia yakin sikap Lolita itu dikarenakan Nety sangat memanjakan putrinya dan menuruti apa pun kemauan Lolita.
"Mas, dia anak kita satu-satunya. Sudah seharusnya kita memanjakan dia, bukan?" Nety menimpali dengan berani.
"Ya, dan apa kamu pikir dengan memanjakan dia, menuruti semua kemauan dia, hal itu akan membuatnya menjadi anak yang baik? Tidak! Lihatlah, dia bahkan mencelakai Nazura yang merupakan sepupunya sendiri!" Wajah Bima memerah karena dipenuhi amarah.
"Pa, aku melakukan itu karena aku kesal dengan dia. Kenapa dia selalu bisa unggul di atasku! Dia selalu bisa lebih dariku. Bahkan, Papa juga menjodohkan dia dengan lelaki tampan juga mapan. Hidupnya bahagia, sedangkan Papa membiarkan anak Papa ini menderita," keluh Lolita. Ia sudah lama memendam semuanya dan kini saatnya meluapkan agar tidak terasa sesak di dada.
"Memangnya apa yang kamu mau? Bukankah papa sudah bilang dulu, kalau papa tidak menjodohkanmu itu bukan karena tidak sayang, tapi papa ingin kamu bahagia dengan pilihanmu. Seharusnya kamu tahu itu, Lolita. Tidak semua orang bahagia dengan perjodohan." Tatapan Bima tampak kecewa, sedangkan Roger masih duduk tenang di sofa. Melihat perdebatan itu.
"Ya, tapi kalau dijodohkan dengan lelaki seperti Tuan Roger, aku pasti tidak akan menolak dan sudah pasti hidupku bahagia, Pa," ujar Lolita. Menatap Roger yang sedang mendes*h kasar.
"Cih! Tidak sudi aku menikah dengan wanita sepertimu," gerundel Roger. Menatap Lolita dengan mengejek.
"Lolita, harta tidak akan pernah membeli kebahagiaan. Seharusnya kamu tahu betapa sayangnya papa sama kamu."
"Tidak! Aku tidak yakin Papa sayang sama aku karena sejak Nazura di sini, Papa selalu memerhatikan dia," bantah Lolita marah.
"Baiklah kalau begitu, apa kamu ingin menjadi seperti Nazura? Kamu ingin merasakan apa yang dirasakan oleh dia?" Suara Bima meninggi, sedangkan Lolita yang menyadari kemarahan sang papa, sengaja menoleh untuk menghindari tatapan tajam sang papa.
"Mas, sudahlah. Jangan selalu membela Nazura. Harusnya kamu lebih menyayangi anak kita." Nety pun berusaha berbicara untuk meredam amarah sang suami.
"Aku hanya bertanya kepada putriku. Apa dia ingin seperti Nazura. Yang hidup tanpa orang tua. Kehilangan kedua orang tua secara bersamaan. Tidak memiliki keluarga selain aku. Bahkan, dia harus kerja banting tulang hanya untuk memenuhi kebutuhan kita. Membelikan apa yang dimau Lolita. Coba kamu bayangkan saja jika putri kita berada dalam posisi Nazura. Apa yakin kamu tega melihatnya?" Bima menatap Nety dalam. Menelisik wajah sang istri yang mulai terlihat sedih.
"Selama ini aku diam dan bersikap seolah membencinya. Aku hanya tidak ingin kamu makin membenci dia jika tahu aku memberinya perhatian. Aku juga sengaja menyuruh Nazura menikah untuk menebus hutang dan pergi dari rumah ini, kamu tahu kenapa? Itu karena aku tidak tega melihat dia selalu terluka oleh kamu maupun Lolita!" Emosi Bima meluap. "Aku tidak menyangka jika kalian tetap menyakiti Nazura padahal aku sudah berusaha menjauhkannya dari kalian."
Bima terduduk saat merasakan dadanya terasa nyeri. Mereka semua pun mendadak panik ketika Bima tidak sadarkan diri. Dengan segera, Roger membantunya membawa ke rumah sakit.
"Ma, aku takut papa kenapa-napa." Suara Lolita terdengar serak karena menangis sejak tadi. Ia benar-benar takut dan belum siap jika harus kehilangan sang papa.
"Tenanglah, Sayang. Papamu pasti baik-baik saja." Nety berusaha menenangkan meskipun dalam hatinya tak kalah gelisah. Ia pun belum siap jika harus kehilangan suaminya. Meskipun mereka sering berdebat, tetapi Nety tidak mau jika harus jauh dari suaminya.
"Kuharap, setelah kejadian ini kalian bisa mengubah sikap kalian dan memperbaiki diri," ujar Roger yang saat itu sibuk menyetir. Mereka pun hanya mengangguk dan tidak berani lagi membantah.
***
"Na, kamu belum tidur?" tanya Rosa saat melihat pintu kamar Roger terbuka dan ia melihat Nazura yang sedang duduk gelisah di kasur.
Nazura pun menoleh. Ia menggeleng lemah saat Rosa sudah berdiri di depannya. "Belum, Ma. Nomornya saja tidak bisa dihubungi."
"Mungkin sedang dalam perjalanan pulang dan batre ponselnya sudah habis," ucap Rosa menenangkan anak menantunya.
Namun, hal itu tidak membuat kekhawatiran memudar dari hati dan wajah Nazura. Wanita itu tidak bisa tenang. Bahkan, ketika seorang pelayan mengantar susu ke kamarnya, Nazura hanya menaruh di nakas dan tidak lagi menyentuhnya. Padahal, Rosa sudah memaksa Nazura agar segera meminum susu tersebut.
"Eh, Mama di sini?"
Rosa dan Nazura seketika menoleh ke arah pintu dan melihat Roger yang baru saja masuk. Nazura pun berlari cepat menyambut sang suami dan ia hampir terjatuh karena tersandung kakinya sendiri. Hampir saja ia menyentuh lantai jika Roger tidak segera menahannya.
"Hah! Kamu membuatku takut, Na." Roger mengembuskan napas lega karena berhasil menangkap Nazura.
"Maaf, Mas. Saya hanya tidak sabar ingin segera memelukmu." Nazura tersenyum seolah tanpa dosa. Membuat Roger merasa gemas dan langsung memeluk wanita itu sangat erat.
"Tidak perlu berlari. Ingat, ada dia yang harus kita jaga sepenuh hati." Roger mengusap perut istrinya dan mencium pipi wanita itu dengan mesra. Mereka bahkan saling berciuman dan tidak menyadari kalau masih ada Rosa di sana.
"Ehem! Sepertinya mama harus kembali ke kamar," ucap Rosa. Berjalan meninggalkan kamar tersebut.
"Mas, saya sampai lupa kalau mama di sini." Nazura terkekeh.
"Aku juga lupa." Roger tergelak lalu membopong Nazura ke atas kasur. "Sebelum tidur, aku ingin sekali menjenguk calon buah hati kita."
Roger sudah menindih tubuh Nazura dan bersiap untuk bertempur. Nazura pun sudah memasang kuda-kuda karena ia juga ingin anu. Namun, baru saja hendak berciuman, mereka dikejutkan dengan suara Rosa dari arah pintu.
"Jangan lupa tutup pintu! Jangan sampai ada pelayan yang melihatnya!"
Brak!
Rosa menutup pintu penuh dengan kekesalan. Lalu pergi dari sana, sedangkan Nazura dan Roger saling memandang.
"Apa mama marah, Mas?" tanya Nazura cemas.
"Tidak. Dia hanya cemburu dan ingin bercinta, tapi masih gengsi saat mau balikan sama papa." Roger lagi-lagi tergelak keras. Nazura pun terpaksa memukul lengan suaminya untuk menghentikan tawa lelaki itu.
Pada akhirnya, percintaan panas itu pun terjadi. Roger melakukan dengan hati-hati karena khawatir akan melukai calon buah hatinya.