Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 98


...***...


"Yum, Daniel masuk rumah sakit, dia belum sadarkan diri !" Ucap Xian sembari fokus mengemudi dan sesekali melirik Yuma di samping nya.


Reflek Yuma menoleh, semburat khawatir pun timbul dari binar mata dan kening yang mulai mengkerut halus.


"Shen mendapati kakak nya menghabiskan berbelas wine di apartemen dan langsung di larikan ke rumah sakit malam kemarin,"


"Kami pun menjenguk malam itu juga, ayah dan ibu mu pun ke sana! Hasil pemeriksaan dokter tubuh Daniel jika sekali lagi meminum wine berlebihan kembali akan berbahaya dan mungkin nyawa yang akan menjadi taruhan nya!!." Tutur Xian menjelaskan.


Tidak ada sahutan apapun dari Yuma, dia terdiam namun mata dan hati seakan berbicara. Gerak gerik jari jemari nya menunjukkan jika wanita itu tengah gelisah.


"Awsshhh" Tiba-tiba Yuma meringis kesakitan, dia memegang perut nya.


Pasti saja, jika dia ada tekanan pikiran perut nya akan timbul sakit seperti di lilit oleh tambang.


Ckiiitttt...


Xian reflek menginjak pedal rem sehingga terdengar berderit karena mendadak.


"Kenapa kenapa ?" Tanya Xian dengan cepat, dia melepaskan sabuk pengaman dahulu agar leluasa menggapai Yuma.


"Perut ku sakit" Ringis Yuma. Xian membalikkan setengah badan nya, mencari air minum di jok belakang dan akhirnya ada.


"Ini minum lah !" Dian membuka penutup botol dan memberikan nya pada Yuma. Yuma meneguk air minum itu berkala, setelah itu kembali menyasarkan kepala nya.


Nafas Yuma normal kembali, debaran jantung pun ikut normal. Xian hanya bisa mengusap-usap pundak Yuma. Kendaran di jalan raya terkontrol dan terkendali, tidak macet dan tidak terlalu berpolusi. Xian memilih untuk cepat sampai ke hotel tempat Yuma dan dirinya istirahat.


Xian jadi merasa bersalah pada keadaan ini, pasal nya kondisi Yuma tadi baik-baik saja, tapi di saat dirinya mengatakan keadaan Daniel, Yuma malah kesakitan.


"Yuma maaf" Ucap nya penuh penyesalan.


"Kenapa harus minta maaf ? Aku tidak apa sekarang !," Yuma mengaitkan tangan nya pada lengan Xian dan masuk beriringan ke dalam lobi hotel.


"Tap.... "


"Sshh aku baik-baik saja ! Hanya saja kesehatan ku akhir-akhir ini terasa aneh, padahal dulu aku tidak pernah bermasalah dengan kesehatan tapi sekarang entahlah !!." Tutur Yuma. Xian berpikir sejenak di sela langkah nya.


"Mau periksa ke rumah sakit ? Kakak akan mengantar mu, dari pada terus menduga-duga, iya kan ?!." Xian menawarkan, dia tidak lagi membicarakan Daniel melihat situasi yang tidak memungkinkan. Keadaan Yuma pun sepertinya tidak baik-baik saja, mental pun terlihat menyusut dari biasa nya.


Wanita itu nampak kelelahan, apa itu artinya adik nya itu sudah tidak kuat memikul beban ? Xian merapatkan tangan nya, dia merangkul pinggang Yuma seperti seorang kekasih yang posesif.


"Jadi tujuan kau datang hanya untuk memberitahu jika Daniel sakit ?" Seru Yuma sedikit menyindir, dia lebih dulu masuk dan melepas sepatu nya. Xian berdiri di belakang, memasukkan kedua tangan nya ke saku mantel.


"Tidak juga ! Oh ayolah jangan merengut seperti ini, aku akan merasa semakin bersalah ! Aku ingin melihat keadaan mu dan kebetulan pekerjaan di kantor tidak terlalu sibuk jadi aku memilih ke sini" Ucapan Xian sekilas gagap namun perlahan normal kembali, Yuma melirik tajam pada nya sehingga Xian harus berpura-pura senyum.


Mengabaikan, Yuma memilih masuk dengan cepat ke kamar nya dan menjatuhkan tubuh nya ke atas kasur. Langit-langit kamar kembali menjadi saksi bisu betapa hancur nya dia saat ini.


Apakah haru pulang ? Atau tidak ? Yuma berbaring merentangkan kedua tangan nya, kaki menjuntai menyentuh lantai, mata sesekali terpejam.


Klek....


Xian menoleh di tempat duduk nya, Yuma ke luar dengan pakaian sudah di ganti. Lampu kamar hotel yang terang semakin memperlihatkan keelokan wajah Yuma sampai Xian pun di buat bingung.


"Kak" Ucap Yuma mendekat, kaki jenjang dan bersih itu terekspos penuh karena celana tidur yang dia kenakan hanya selutut. Yuma duduk di samping Xian, menaikkan satu kaki nya serta di lipat sehingga berhadapan dengan Xian. Sikut tangan dia tumpu dibatas bahu sofa dan dia tahan kepala nya dengan telapak tangan.


"Eum ?." Tanggap Xian mengangkat dagu nya merespon.


"Aku akan ikut pulang"


"Apa? Benarkah ?!." Xian kaget untuk itu dia reflek berteriak. Hal di luar dugaan karena bagaimanpun dia berangkat dari China hanya ingin memberi tahu saja, untuk masalah pulang atau tidak nya dia pikir hanya di angan saja.


"Eum" Angguk Yuma. "Aku merindukan Mama, Papa dan Wusan Sekalian juga aku akan menghadiri acara pernikahan kak Gary dengan Erina !,"


"Kak aku tidak mau masalah ku menghambat rencana seseorang, aku sudah memutuskan akan menyelesaikan semuanya ! Aku lelah, aku ingin hidup seperti biasa saja" Nada suara Yuma perlahan merendah, terdengar lirih dan mata mulai berembun.


Xian menelisik setiap sudut bola mata Yuma, dia mengulas senyum tulus nya. "Ini baru Yuma ! Yuma adik kami yang tangguh" Xian bangga, dia pun mengacak-acak pucuk kepala Yuma.


"Eum" Sahut Yuma dengan senyum nya.


...**...


Langit perlahan terang, awan kelabu mulai hilang, lampu-lampu yang bertebaran mulai padam. Matahari terbit, bersamaan dengan itu, seulas warna oranye di langit timbul, sepertinya efek dari sang surya yang nampak masih malu-malu menampakkan dirinya.


Liam, pagi-pagi dia sudah berada di hotel karena semalam staf mengatakan jika nona Yuma ingin bertemu. Mereka bertemu dan membicarakan tentang toko kue yang hari esok akan mulai buka dan Yuma meminta bantuan untuk mengecek keadaan di sana selama dirinya pulang.


Yuma pun membahas uang yang dia pinjam namun ternyata sudah di bayar oleh kakak nya tanpa sepengetahuan dirinya.


Liam dengan senang hati menerima permintaan Yuma entah kenapa, dia merasa dekat dan senang jika Yuma meminta.


"Kalian hati-hati" Liam mengantar Yuma dan Xian ke bandara. Tepat pukul sembilan pagi penerbangan mereka dan sekitar dua puluh menitan lagi akan lepas landas.


"Liam maaf merepotkan mu ! Aku akan kembali secepat nya" Ucap Yuma di depan pintu masuk bandara.


"Oh ayolah Yum jangan sungkan pada ku ! Aku senang-senang saja dengan permintaan mu dan lagi pula itu bukan tugas berat untuk ku"


"Pulang lah dengan selamat dan cepat kembali lagi dengan selamat ! Itu saja permintaan ku sebagai imbalan nya" Ujar Liam. Xian sudah lebih dulu masuk namun masih terlihat dari pintu sepertinya menunggu Yuma selesai berbicara.


"Tentu" Sahut Yuma dengan berseri.


"Hati-hati" Teriak Liam, Yuma pun melambaikan tangan nya. Sembari berjalan masuk dia pun mengingat-ingat sejak kapan dia begitu dekat dengan Liam, waktu memang dapat merubah keadaan yang tadi nya canggung menjadi tidak.


Liam, dia pun berlalu pergi meninggalkan bandara.