
Yuma menutup pintu kamar begitu pelan, takut mengganggu tidur Lin yang sangat nyenyak.
"Kau sudah mau pulang ?"
Tanya Yuma, kebetulan Daniel tengah berdiri memunggunginya di luar pintu kamar.
"Iya"
Sahut Daniel mengangguk, bola mata pun setengah berputar seperti tak rela untuk meninggalkan Yuma.
"Baiklah !" Ucap Yuma begitu saja dengan mudah nya.
"Eum!"
Keadaan benar-benar canggung, seolah suara jangkrik tepat berada di sekitar mereka .
Daniel berbalik arah, menuju tangga begitupun Yuma mengikuti dari belakang.
"Tapi—"
Langkah Daniel terhenti, dia kembali menatap Yuma. Yuma tersenyum hangat, melepas silangan tangan nya di depan perut.
"Kemari lah !"
Kedua tangan Yuma terulur, dia maju mendekati Daniel seakan tahu apa yang diinginkan pria di hadapan nya itu.
Daniel terdiam, pelukan Yuma terasa masih hangat, jantungnya berdetak begitu cepat dari biasanya, membuat sang raga tak dapat menopang nya.
"Terimakasih untuk hari ini"
"Pulang dan istirahatlah ! Besok kau boleh menemui Xiao Lin lagi" Tutur Yuma sesaat setelah melepas pelukan singkat itu.
"Terimakasih"
"Eum"
Senyuman hangat dan singkat itu begitu sesak, Yuma menarik nafas nya begitu dalam sampai-sampai dari perut pun terlihat mengempis.
"Daniel," Ucap Yuma.
Daniel yang hendak masuk ke dalam mobil pun mengurungkan niatnya dan kembali menutup pintu. Wajah Yuma begitu tegas walau terkesan lembut.
"Kau butuh sesuatu ?" Tanya Daniel hampir mendekat.
"Tidak" Ujar Yuma.
"Setelah tes DNA, jika kau masih tidak percaya maka aku akan membawa putra ku kembali ke Singapore bersama Liam ! Itu sudah keputusan terakhir ku"
"Aku ingin bicara pada mu hal ini sebelum nya"
"Tidak ada kebohongan dan aku tidak ada niatan seperti itu ! Jika kau masih ingat bagaimana sifat ku maka seharusnya kau pasti percaya,"
"Tapi sekali lagi, aku tidak memaksa siapapun untuk percaya pada ku. Hanya saja putra ku harus tahu siapa keluarga nya, karena tidak langsung hal itu akan berpengaruh pada psikis nya kelak jika semua nya tidak diberitahukan ,"
"Dan aku mengambil hal terburuk nya,"
"Jadi semuanya kembali lagi pada mu, Daniel!"
"Dan satu lagi, aku tidak ingin putra ku membenci ayah nya sendiri."
Tutur kata Yuma terdengar ringan namun bermakna lebih dalam dan menyakitkan, seakan terselip rasa tidak percaya, marah dan juga kemandirian, sifat seorang ibu pun begitu kental tumbuh dalam dirinya dan hal itu membuat kalimat sederhana begitu bermakna.
Daniel menatap jauh ke dalam retina Yuma, tatapan begitu dalam namun menemui titik sendu dan kosong.
"Kau akan terus di sisiku, aku tidak peduli mau dia putra siapa, aku akan terus mendapatkan mu. Yuma"
"Jika Xiao Lin benar-benar darah daging ku maka itu hal yang sangat menyenangkan ! Aku mendapat seorang putra dari wanita yang begitu anggun dan bijaksana,"
"Yuma, aku tidak bisa lagi egois ! Kau tahu, aku tidak ingin kehilangan mu untuk kedua kalinya karena ego ini"
Yuma pun menatap lekat.
"Seharusnya memang tidak!" Ujar Yuma.
"Maaf" Kepala Daniel pun menunduk saat tatapan Yuma mengarah pada nya. Padahal bibir Yuma melengkung seakan tengah bercanda tapi Daniel sepertinya menganggap serius. Mungkin hal itu tengah membelenggu hati nya selama ini
"Hahahaha aku hanya bercanda,Daniel !"
"Tidak, aku tidak merasa seperti itu ! Kata mu sangat tepat dan aku mengakuinya, jadi aku tidak akan bodoh apalagi bersikap seperti dulu"
Daniel kembali memeluk Yuma, walau tanpa balasan tapi tetap saja tangan pria itu masih merengkuh tubuh nya.
"Oke oke !"
"Sekarang pulang lah dan rancang rencana mu sebaik mungkin agar aku dan Xiao Lin tetap di samping mu !"
"Dengar, keputusan ku adalah mutlak"
Tegas Yuma, dia benar-benar sangat berbeda bahkan sorot matanya tidak selembut dulu dan Daniel merasa kini semua sisi adalah bahaya.
"Aku tahu"
Daniel masih berdiri menghadap lurus, matanya masih terasa ada sesuatu yang membuat nya berat.
Yuma tersenyum kembali. "Liam akan senang jika kau percaya, Daniel ! Kenyataan nya dia tidak sekejam itu"
"Liam hanya merasa takut, karena selama ini dia tahu apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi dengan keputusan ku ! Begitulah dia, jadi tenang saja"
"Bukankah seharusnya kau terguncang sama ucapanku beberapa hari lalu ? Kenapa tekanan Liam yang kau khawatirkan, eum ?"
Ujar Yuma, mimik wajah nya terasa meledek namun juga geli.
"Bukan seperti itu, hanya saja aku tidak mengenal pria itu jadi—"
"Hahaha sudah sudah tak perlu khawatir" Tukas Yuma saat Daniel kebingungan dan tidak melanjutkan ucapan nya.
...**...
Mobil biru tua itu pun melesat, tertelan oleh pagar kediaman Zhao. Yuma berhenti melambai, perlahan tapi pasti.
Selama ini dia memikirkan apa yang terbaik dan ternyata keputusan nya mungkin adalah benar, dia memilih untuk melupakan apa yang terjadi dahulu. Sekarang Xiao Lin adalah fokus utama dan dia tidak ingin egois hanya karena rasa sakit yang masih membekas, mungkin di tambah dengan perkataan Gary tadi siang mengenai Daniel yang hidup setelah tragedi itu.
Tapi satu hal yang pasti, dia tidak bisa begitu saja kembali bersama jika Daniel masih meragukan Xiao Lin dan tentu nya Liam pun tidak akan tinggal diam, Yuma tahu sifat Liam apalagi kalau sudah menyangkut Xiao Lin.
Tanpa dia sadari hati kecil nya masih menginginkan Daniel, tapi dia menyangkal rasa yang ada setiap kali muncul
Kediaman Zhao kembali sepi, Yuma naik ke atas karena Papa Zhao dan juga Mama Shuwan sedang tidak ada di rumah, begitupun dengan Wusan. Mereka ada acara sekolah yang di adakan malam hari di sebuah ballroom hotel.
Ego Yuma kembali kalah oleh wajah polos putra nya, dia memutuskan untuk menerima jika Daniel memang ingin kembali, namun nyatanya hati kecil nya pun tak bisa menolak.
Luka yang masih tertancap perlahan menganga namun pula sekejap kemudian kembali menutup. Dia pun tidak tahu kenapa dengan dirinya.
Marah dan kesal masih ada namun biasan itu terasa masih pekat, perlahan di seimbangkan dengan logika yang tak kunjung usai, karena kuputusan singkat harus dia ambil setelah jarum jam beberapa lalu berputar hebat.
...**...
Pagi menjemput, suara ketukan tiap alas kaki terdengar bersahutan. Wajah Daniel begitu berbeda dari biasanya, terlihat jelas dari mimik dan ekspresi nya.
Shen bersiul menggoda kakak nya yang sedari pulang dari mengantar Yuma malam tadi sampai pagi ini begitu berubah drastis.
"Kak kak, kita tidak salah dengar bukan ? Kau dan kakak ipar itu— eumm ,,,, tidak sedang mengelabuhi kita kan ?!"
"Kau serius akan kembali melamar nya?"
Ucap Shen dari belakang mempercepat langkah nya agar tidak jauh dari dari Daniel.
"Melamar ?"
Shen mengangguk pasti. Keantusiasan nya melupakan jika dia sudah menginjak lantai kantor
Plak !!!
Daniel menimpa kepala Shen dengan handphone nya pelan.
"Kau lupa atau bodoh, Shen ?!"
Shen diam sejenak.
"Aku belum menandatangani surat perceraian itu dan bukankah itu berarti masih suami istri ?"
"Tidak ada namanya perceraian sepihak, untuk itu Yuma masih istri sah dari Daniel Chen!!"
Seru Daniel mantap dan yang pasti ujung bibir nya terangkat membentuk smirk yakin.
"Ah benar juga!" Seru Shen berpikir keras dan kembali melipat kedua tangan nya.
Obrolan mereka sampai di depan pintu ruangan CEO namun sebelum itu, sekretaris yang berada di depan mengehentikan mereka lebih dulu dengan wajah sedikit merah.