
Di perusahaan Chen Grup, kantor terasa sepi tanpa ada Yuma. Jingyi sesekali melirik meja Yuma begitupun yang lain nya, apalagi Levon yang begitu sangat memperhatikan nya membuat dia merasa aneh saat berada di kantor pagi ini.
" Tidak biasa nya dia izin tidak masuk kerja ! Le apa menurut mu dia baik-baik saja ? ". Tanya Wu fan.
" Dia pasti baik-baik saja. Nanti kita kunjungi dia !". Ucap Levon.
" Aku setuju ". Sahut Lao Da juga Jingyi.
Ketukan pintu terdengar dan tidak lama juga pintu terbuka, di sana sosok Shen berdiri di ambang pintu.
" Pak ". Sapa Levon dan juga yang lain nya termasuk Jingyi.
" Jingyi bisa kita berbicara sebentar ? ". Ucap Shen.
" Sangat bisa ". Centil Jingyi.
Jingyi pun keluar membuntuti Shen. " Ada apa ? ". Tanya Jingyi.
" Yuma tidak bisa di hubungi sedari pagi dan sekarang dia juga tidak masuk kerja. Apa sedang ada masalah ? ". Tanya Shen.
" Saya juga tidak tahu pak, dia menghubungi kami tadi malam dan pagi kontak nya sidah tidak aktif. Kami tidak tahu kenapa !". Seru nya.
" Baiklah, aku hanya bertanya itu saja. Maaf mengganggu jam kerja mu ". Ucap Shen lalu pergi meninggalkan Jingyi.
" Itu saja ? ". Kesal Jingyi menggerutu.
...**...
Yuma pun akhirnya sampai di perusahaan papa nya, dia segera masuk dengan berlari kecil.
" Maaf apa tuan Wei ada di kantor nya ? ". Tanya Yuma pada resepsionis.
" Sebentar ya saya hubungi beliau dahulu, soalnya tadi beliau sedang ada rapat ". Ucap sopan resepsionis itu dengan lembut nya.
" Baik terimakasih ". Sahut Yuma.
" Silahkan langsung ke atas saja ya ". Ucap resepsionis itu setelah dirinya menghubungi sekretaris tuan Zhao.
Yuma pun berjalan ke atas sesekali bertukar sapa dengan pegawai perusahaan.
" Nona Yuma sudah lama tidak berkunjung ke sini. Senang rasanya kembali bertemu dengan anda ! ". Ucap salah satu pegawai di sana.
" Senang juga kembali bertemu dengan kalian ". Ucap Yuma seraya memberi salam dengan menundukkan kepala nya sekilas
Dari ruang rapat, terlihat Zhao Wei-sang ayah baru saja ke luar dengan beberapa klien kerja nya. Mereka masih berbincang di sela langkah kaki, sedangkan Yuma dia langsung menuju kantor milik papa nya sedari sampai di lantai tempat di mana kantor papa nya berada.
" Pak maaf, ada nona Yuma ingin bertemu ! ". Ucap sekretaris pribadi nya. Zhao Wei sejenak tidak fokus dan tidak mendengar ucapan sekretaris nya.
" Putri anda seperti nya ada pembicaraan yang penting sampai datang ke perusahaan mu, tuan !". Tukas rekan nya yang tidak lain adalah tuan Chen.
" Siapa ? ". Bingung Zhao Wei.
" Putri mu ada di sini tuan Wei, apa kau tidak mendengar sekretaris mu barusan memberi tahu ? ". Tutur Chen dengan tawa khas nya.
" Jika tidak keberatan, bisakah kalian datang ke jamuan makan malam kami ? Sudah lama saya dan keluarga ingin mengundang kalian ". Tutur tuan Chen.
" Baiklah, saya usahakan datang malam ini ". Sahut nya kembali bersalaman.
Mereka pun berpisah di dalam lift dan Zhao Wei pergi ke ruangan nya. " Pak ". Sapa sekretaris nya yang lain yang tengah berada di depan ruangan Wei.
Ceklek !! Pintu pun terbuka lumayan kasar membuat seseorang yang tengah berada di dalam kaget. Yuma segera meletakan pas photo milik nya yang terpampang di atas meja kerja sang ayah sesekali melirik pas photo yang terpajang di dinding tepat lurus dengan pandangan.
" Yuma ada apa ?". Tanya Sang ayah segera mendekat.
Yuma tersenyum manis dan juga tegar. " Tidak ada, aku hanya merindukan pelukan papa ". Ucap Yuma. Zhao Wei membalas pelukan Yuma sesekali menepuk-nepuk punggung nya.
" Maaf hiks,, hiks ". Tangis Yuma membuat sang ayah semakin merasa heran.
" Ada apa ? Kenapa putri papa ini tiba-tiba menangis ?!". Suara sang ayah begitu terdengar lembut dan juga tersirat sayang dari sana.
Tidak ada sahutan dari Yuma. Sang papa semakin memperdalam pelukan nya saat ini.
" Maafkan papa Yuma, papa tidak berguna menjadi ayah mu ! Bahkan papa begitu sangat menyakiti hati mu, maafkan papa !". Zhao Wei semakin memeluk putri nya begitu erta bahkan lebih erat dari sebelum nya.
" Hiks,, hiks,, hiks,, papa ". Yuma menangis terisak sampai bicara pun tersendat-sendat karena air mata nya membiasi ucapan dari tenggorokan nya.
" Maafkan papa Yuma, maaf ! ". Zhao Wei terus meminta maaf secara tulus layak nya orang tua yang memang pernah memberi luka di dalam hati putri nya.
" Aku yang salah pa, papa tidak perlu meminta maaf kepada ku. Mungkin itu sudah jadi takdir ku sejak awal ! Maaf karena aku kau kehilangan ayah yang sangat papa banggakan ". Dalam tangis nya, Yuma berusaha untuk berbicara walaupun bibir nya bergetar hebat.
" Tidak tidak, itu tidak benar. Jangan bicara hal itu lagi eum ". Pungkas sang ayah.
" Kau anugerah dari tuhan untuk kami, papa salah Yuma, maafkan papa !!". Mata sipit Zhao Wei sampai memerah, terasa panas dan perih. Sudah dari sejak lama dia ingin memeluk putri nya seperti ini dan akhirnya tercapai.
" Aku sangat menyayangi kalian ". Kalimat itu akhirnya lolos dari bibir Yuma. Selama ini hanya untuk tegur sapa pun tidak bisa apalagi mengatakan kalimat seperti itu membuat nya harus bertambah tegar dan juga tabah.
" Papa, aku masuk ke ruangan itu ! Maaf ". Ucap Yuma melepas pelukan nya dan menyeka air mata yang masih jatuh dari pelupuk mata.
" Ruangan mana ?". Selidik Zhao Wei.
" Maaf aku lancang masuk ke sana ". Ucap Yuma kembali. Zhao Wei yang tersadar segera membulatkan kelopak mata nya.
" Maaf ". Ucap Yuma kembali.
" Tidak masalah sayang, papa senang jika kau tahu ". Tutur Zhao .
" Jadi hari ini kau sibuk apa sayang ? Kerja juga tidak masuk, lalu kau juga tidak di rumah, apa kau mau menemani papa bekerja saja sayang ? ". Tukas Zhao Wei.
" Tidak papa aku akan pulang saja. Aku takut mama akan mencari ku ! Apa papa tidak takut mama akan memarahi mu sepulang kerja eum ?! ". Seru Yuma di selingi ledekan nya.
" Tidak apa, papa akan menerima jika mama memarahi papa yang penting papa seharian di temani putri papa yang cantik ini! ". Goda Zhao Wei. Selama ini Zhao Wei tidak pernah tersenyum, paling hanya seulas saja tidak lebih. Untuk itu saat pagi tadi dia datang, para karyawan bahkan Klien nya merasa bingung dengan mood dari Zhao Wei yang tidak biasa.
" Aku pulang ya pa ". Yuma mengecup pipi papa nya dengan senang seakan dia seperti anak kecil. " Papa bisakah kau menghubungi kak Xian agar datang ke rumah ? Aku akan membuat makan malam untuk kita nanti ". Ucap Yuma.
" Bisa sekali sayang, nanti papa coba hubungi dia, ok ! ". Sahut Zhao Wei masih belum teringat dengan undangan dari tuan Chen.