Cinta Yuma

Cinta Yuma
EPS 8


Yuma, berlian yang telah mereka sia-siakan, keteguhan hati dan kesabaran seakan tidak ada orang yang memilikinya untuk seumuran gadis remaja yang beranjak dewasa itu.


Yuma merebahkan tubuh nya seusai dirinya membersihkan tubuh yang penuh dengan keringat, angin malam terasa menembus kulit karena membiarkan jendela kamar terbuka begitu saja.


Yuma mendudukkan tubuh nya di samping tempat tidur dengan kimono yang masih membalut badan ramping nya, matanya menatap jauh ke arah jendela yang terbuka dan menampakkan langit malam yang terlihat terhiasi dengan bintang yang kemerlip.


Beranjak Yuma mendekati jendela dan menyandarkan sebelah bahu nya pada tiang pondasi jendela dengan tangan melipat di depan perut.


" Kenapa langit begitu indah malam ini, apa hal yang aku lakukan benar adanya ?! Ya Tuhan, apa pantas aku mengeluh kepadamu dengan segala yang terjadi kepadaku ?!". Ucap Yuma menengadahkan kepalanya pada langit yang seakan memberikan kenyamanan terhadap diri Yuma


Kesendirian tidak membuat Yuma bergantung kepada orang lain, dia berjalan menyusuri kehidupan nya dengan penuh ikhlas dan juga keteguhan hati, namun apapun yang menurut nya itu salah dan tidak benar maka jangan harap Yuma akan berdiam diri saja.


Hari nya tidak dia sia-sia kan hanya untuk hal yang tidak berguna, walaupun sesungguhnya dia masih memiliki keluarga tapi tetap saja, hati nya selalu kosong hampa seolah mereka telah tiada di bumi ini.


Seusai bosan menatap langit, Yuma pun menjauh dari sana dan merebahkan tubuh nya di atas tempat tidur. Matanya enggan terpejam, Yuma hanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.


" Boleh kah aku meminta sesuatu yang jika di pikirkan pun tidak masuk akal Tuhan ? Boleh kah aku meminta di kehidupanku yang lain aku di berikan keluarga yang menyayangiku, ayah dan ibu serta kakak yang sangat-sangat mencintai dan juga menyayangiku layaknya darah daging mereka ?!". Batin Yuma mengadu kepada sang pencipta.


" Hanya itu yang aku minta saat ini tidak ada yang lain, aku tak membutuhkan teman jika keluarga ku saja dapat mengerti dan berbagi rasa dengan ku ". Ucap Yuma kembali dalam hatinya.


" Apa permintaan ku terlalu banyak dan terlalu mengkhayal Tuhan ? Jika pun tak bisa maka tak apa, di kehidupan ku yang ini pun aku sangat mensyukurinya karena engkau telah memberiku nikmat ketabahan, keikhlasan dan juga kesabaran yang luar biasa dan aku sangat berterimakasih atas hal itu, sekali lagi terimakasih Tuhan karena engkau selalu menyayangiku di setiap langkah hidup yang aku jalani ".


Hati Yuma terus bergumam dan tidak terasa air mata pun keluar dari wadah nya begitu saja tanpa permisi.


Wanita lemah ? bukan, sebenarnya Yuma tidak lemah akan hal apapun, tapi dia selalu berusaha menyaring setiap kata dan setiap langkah agar ke depan nya tak menimbulkan penyesalan dalam dirinya.


Keheningan di dalam kamar nya membuat telinga Yuma hanya mendengar detak Jam dinding yang terus berputar tanpa di bantu.


Matanya kini terlelap seiring menggelap nya malam, tubuh lelah nya kini beristirahat di atas peraduan yang memberikan kenyamanan setiap detik nya.


...**...


Keseharian Yuma masih sama seperti sebelum nya, bekerja dan bekerja seolah hal itu mengurangi kesedihan dan kesepiannha dan mungkin beban yang Yuma tanggung terasa terlupakan dengan adanya kesibukan.


Jika hari libur tiba maka Yuma memilih untuk menyibukkan diri di dojo tempat nya mengasah kemampuan fisik, juga berbagai hal yang menyangkut seni bela diri. Selama itu pun Yuma tak melihat keberadaan Kirei, seakan takdir tak mengizinkan jika mata Yuma melihat seorang Kirei.


Di sela istirahatnya, Yuma terdiam di bawah pohon yang lengkap dengan ayunan. Tempat itu masih berada di lingkungan perguruan nya, tepat nya di halaman belakang perguruan. Di sana penuh pemandangan yang indah dan dari sana pun gunung yang menjulang tinggi dapat terlihat.


" Yuma ". Suara lembut memanggil namanya, suara yang begitu sangat Yuma kenal, siapa lagi jika bukan gurunya.


"Eum ?!". Yuma menolehkan kepalanya ke samping karena gurunya tengah duduk di sebelah kirinya.


"Pantas saja kau menyukai tempat ini, ternyata lumayan menenangkan ! Hufffhh, kenapa aku tidak tahu jika duduk di bawah pohon besar ini sangat nyaman ?!". Ucap sang guru menghirup udara segar perlahan.


"Kau bisa saja Yum ! ". Geli nya akan wajah Yuma yang masih terlihat datar.


Pada hari libur, Yuma sengaja tidak mengendarai mobil nya untuk berjalan-jalan termasuk pergi ke dojo. Dia memilih untuk menggunakan transfortasi umum pada hari itu.


...**...


Hari-hari telah berlalu, Yuma menjalani hidupnya dengan penuh semangat dan juga keikhlasan.


" Nona, kita sudah sampai ". Ucap sopir taksi. Yuma pulang mengendarai taksi karena lututnya mulai lelah untuk berjalan.


" Terimakasih ! maaf saya ketiduran ". Yuma merasa tidak enak dan beberapa kali minta maaf, saat dia turun pun dia masih meminta maaf karena menyita waktu berharga sang sopir.


" Tidak apa nona !". Ucap Sopir itu dan langsung melajukan kendaraan nya.


Yuma berjalan ke arah apartemen , saat lift terbuka, di depan pintu kamarnya terlihat seseorang tengah berdiri.


Pria bertubuh atletis dengan tinggi yang begitu pas tengah menyandarkan bahunya pada dinding samping pintu. Yuma berjalan sembari memperhatikan pria tersebut dengan langkah panjang.


" Maaf ada yang dapat saya bantu ?". Ucap Yuma membuat pria itu menolehkan kepala, saat pria itu menoleh, Yuma terkejut sampai memundurkan kaki nya.


" Yuma ". Ucap pria itu dengan wajah yang kusam.


"Kenapa kau ada di sini, dari mana kau tahu jika aku tinggal di sini ?". Ada sedikit ketegangan dalam diri Yuma karena sama sekali tidak ada yang tahu tempat tinggal baru nya, kecuali Axel dam juga Kirei.


"Kenapa kau bicara seperti itu, bukan kah kau harusnya menyuruhku masuk terlebih dahulu ? Berdiri lama di sini membuat kaki ku pegal !". Seru nya seolah sedang merajuk.


Yuma tak bicara, dia langsung membuka pintu dan langsung masuk tanpa mempersilahkan pria itu masuk, tapi tak perlu di suruh pun pria mengikuti langkah Yuma.


Saat masuk, Yuma tidak langsung duduk tapi langsung membawakan air minum untuk nya. Pria itu terus menyapu bersih tiap sudut apartemen milik Yuma.


" Minumlah dulu dan setelah itu katakan ada apa kau datang kesini !". Ucap Yuma tidak nyaman dengan kedatangan pria itu.


" Kenapa kau jadi galak seperti ini adik ku ?! ". Ujar nya langsung duduk dan meminum air yang telah Yuma siapkan.


Ya, pria itu adalah kaka sepupu Yuma. Xian adalah namanya.


" Katakan lah !". Tanpa ekspresi Yuma pun terus bertanya-tanya dengan kedatangan kaka sepupunya yang menurutnya sangat menyebalkan.


" Kakek sakit, sudah satu minggu dia di rawat ! Kakek menyuruhku untuk mencari mu dan membawamu ke sana ". Yuma tiba-tiba sakit di telinganya saat mendengar Xian membicarakan sang kakek, begitupun hatinya yang masih belum berdamai. Pria itu sangat tahu kenapa Yuma bereaksi seperti tegang.