
"Sekarang bagaimana ?"
Daniel menemani adik nya itu di kamar, dia memegang tangan adik nya yang tengah terbaring hendak istirahat.
Daniel berdiri, menyelimuti tubuh adik nya. "Istirahat lah!"
Tidak merespon, Erina menatap kakak nya yang tidak luput dari kerutan di kening nya.
"Eum ! Selamat malam" Ucap Erina, dia tahu, dia tahu perasaan kakak nya saat ini tapi dia juga mengerti perasaan kakak ipar nya, untuk itu Erina memilih untuk tidak mengatakan apa-apa, biarlah Daniel merasakan kehilangan dulu agar dia sadar betapa berharga nya sebuah kejujuran dan kepercayaan.
Daniel pun berlalu pergi, memadamkan lampu dan menutup pintu dengan pelan.
"Kak, maaf!." Ucap Erina lalu memejamkan mata nya.
...**...
"Kau ?."
Pintu apartemen itu terbuka, Xian berada di ambang pintu setelah sesaat membuka nya karena bel berbunyi.
Gary pun masuk tanpa di silahkan,
Xian mengajak nya ke bar kecil dan kini mereka tengah menikmati sedikit demi sedikit minuman itu.
"Yuma masih belum di temukan, entah kemana dia !." Jari jemari Xian memutar-mutar gelas di atas meja, pandangan seakan menerawang.
Gary pun menyesap kembali minuman itu sesekali menikmati rasa nya.
"Dia ada di Singapore"
Jari jemari Xian seketika berhenti akan ucapan dari Gary, telinga dan juga mata nya terpekik kaget dan juga jantung nya terhenyak dari dentuman kecil nya.
Xian menatap tidak percaya. "Bagaimana bisa ? Bahkan dia tidak ada jejak niat meninggalkan negara nya !,"
"Keberanian nya sedikit melunak, dia menangis, anggota tubuh nya bergetar, mata nya tidak menunjukkan ketajaman lagi sekarang. Bukan tidak ada, tapi tersisa sedikit lagi ketajaman nya dan itu menunjukkan jika dia sudah kelelahan menopang dan menahan cobaan yang tidak ada hentinya itu !,"
Nafas Gary terasa berat, dia kembali menyesap wine itu. Xian masih mendengarkan, dia ingin tahu apa masalah nya sampai-sampai adik sepupunya itu pergi jauh begitu saja.
Gary menceritakan masalahnya, menceritakan dari awak sampai akhir. Tidak ada yang di sembunyikan karena Xian pun berhak tahu atas masalah ini, siapa biang nya dan apa penyebab nya.
"Daniel, dia pantas mendapatkan ganjaran dari perbuatan nya dan apa kau tidak merasa bersalah pada adik mu. Gary ?!," Seru Xian sedikit menekan sehingga terdengar seperti ejekan.
Gary menaikkan satu alis nya dan kembali menuang wine itu lebih sedikit.
"Menurut mu ?."
Ujar Gary penuh makna, dia memberitahu jika dia bukan lagi merasa menyesal tapi lebih dari itu, untuk itu Gary berusaha menutup mulut akan keberadaan Yuma dan membantu nya sebisa mungkin.
"Paman dan bibi harus tahu dan setelah dia tahu kita buat mereka bungkam akan keberadaan Yuma agar Daniel terus mencari" Ucap Gary. Xian mengangguk menyetujui.
...**...
Pagi di langit China, Erina baru saja mengerejap, matanya menyelaraskan cahaya di dalam kamar. Bukan cahaya lampu melainkan cahaya mentari yang terasa hangat menyentuh kulit.
Sreeeekkkk
"Pagi sayang" Suara mama Ella menyapa di pagi hari.
"Pagi, 'ma!." Erina pun memeluk kilas mamanya yang kini telah duduk di samping.
"Dokter Arya dan dokter kandungan ada di bawah untuk mengecek keadaan mu ! Malam setelah Gary pulang dia menghubungi Shen jika kemarin perut mu keram,"
"Sekarang bagaimana ? Apa masih terasa ?." Mama Ella membantu Erina berdiri karena putrinya itu hendak ke kamar mandi.
"Hanya keram sedikit, ma ! Sudah tak masalah !" Ucap nya di sela berjalan.
"Tch mulai" Protes sang mama kembali.
"Sudah sudah, mama ke bawah lah lebih dulu nanti aku nyusul !." Erina membalikkan badan mama nya karena kini dia tengah berdiri di ambang pintu kamar mandi.