Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 122


Kediaman Zhao tepat nya di depan pintu, ternyata Wusan sudah berdiri, anak yang beranjak remaja itu sesekali mondar-mandir dengan kaki beralaskan sandal tipis.Mata nya mengedar ke sana ke mari menanti kedatangan keluarga nya yang tak kunjung pulang.


Jari telunjuk pun ikut resah terlihat sesekali di gigit, badan tinggi dan semampai, hidung mancung dan juga bibir terlihat membelah tipis dengan bibir bagian bawah lebih tebal dibanding bibir atas.


Masih polos dan enak di pandang, semuanya, dari atas sampai bawah. Anak yang beranjak remaja itu seakan terlihat bibit-bibit seorang artis, model dan juga yang berkaitan dengan fashion.


Celana kain pendek di padukan dengan baju oversize berwarna hijau mentol membalut tubuh nya. Tidak ada pelayan yang menemani di sana, sepertinya bibi pelayan sedang menyiapkan susu hangat yang biasa Wusan minta di malam hari.


Tin !!


Tin !!


Tin !!


Klakson mobil pun akhirnya terdengar, tidak hanya satu melainkan dua mobil berada di depan gerbang.


Satpam pun berlari ke arah gerbang, karena kebetulan pak satpam tengah habis ambil kopi dari dapur. Bersamaan dengan itu, Wusan pun ikut berlari dengan raut wajah lega dan senang.


Dia pun membantu membuka gerbang satu nya lagi.


Xian dan Papa Wei yang melihat ikut tersenyum dan geli dengan tingkah Wusan.


"Pa"


Teriak Wusan segera mendekati mobil yang di kemudikan oleh Xian.


"Heh anak kecil, kau belum tidur heum ?!."


Xian membuka kaca mobil sebelum melintasi gerbang.


"Kalian lama, kemana saja jam segini baru pulang !? Aku di tinggal sendirian, lagi ! Dasar menyebalkan!"


Gerutu nya memegang pintu mobil sambil kedua mata menilik orang di dalam nya.


"Sudah sudah ayo masuk dulu ! Sampai kapan kau akan menahan kami di gerbang seperti ini?!"


Timpal Mama Shuwan dari belakang.


"Ma" Rengut nya


"Awas awas, menghalangi saja"


Xian menepis tangan Wusan agar lepas dari pegangan nya pada pintu mobil.


"Wusan"


Baru saja kaki melangkah mundur menjauhi mobil yang kembali melaju, Wusan menoleh ke belakang dan dia baru sadar kalau kedua matanya hanya terfokus pada mobil papa nya saja.


Pandangan nya menoleh dan kaki pun reflek ikut melangkah menghampiri. Telinga nya samar-samar mendengar suara kakak tercinta yang sudah lama dia rindukan.


"Hai boy"


Yuma ke luar begitu saja dari pintu samping kemudi dan Liam hanya membuka kaca pintu saja saat ini tanpa melepas tangan nya dari stir mobil.


Mata Wusan membulat tajam, jantung nya terhenyak kaget dan kaki pun reflek terdiam.


"Kaka ?" Gumam nya gagap. Wusan terbengong, menilik dalam bayangan seseorang yang melangkah cepat ke hadapan nya.


Tangan nya sesekali menggosok mata agar cepat normal namun semakin lama semakin pula bayangan itu jelas masuk ke dalam mata nya.


"Kakaa"


Teriak nya, mungkin dia sudah tersadar. Wusan melangkah cepat mendekati kakak nya dengan senyum mengembang penuh.


Tiiin !!


Liam menekan klakson dan menginjak pedal rem mendadak karena Wusan melintas di depan mobil tanpa di duga.


"Yaak apa yang kau lakukan bocah ?!" Teriak Liam kaget, benar-benar kaget sehingga kepalanya ke luar dari kaca pintu mobil yang masih terbuka.


"Astaga Wusan"


Yuma pun kaget, dia segera menarik adik nya itu ke dalam pelukan nya.


Liam dan Yuma kaget, tapi tidak dengan Wusan yang nyatanya sekarang tengah tersenyum bodoh sambil memeluk kakak nya yang kini tingginya hampir setara.


"Ayo masuk dulu" Ajak Yuma geleng kepala dengan reaksi adik nya itu.


Mobil Liam pun mengikuti pelan dari belakang.


"Yum" Panggil Mama Shuwan.


Yuma dan Wusan menoleh saat mereka sudah masuk ke dalam.


"Iya, Ma?" Sahut Yuma sesekali mengedarkan pandangan nya.


"Cari apa kak?." Heran Wusan. Mama Shuwan jalan mendekat.


"Mana Lin-Lin ?" Tanya Yuma kembali.


"Lin-Lin ? Siapa Lin-Lin?." Bingung Wusan, garuk kepala saking bingung nya.


"Ekheemm, itu nak, keponakan mu. Sana lihat ke kamar kakak mu, tadi papa mu dan juga Xian membawa nya ke sana. Dia tidur sangat pulas sekali"


"Keponakan ku ? Benarkah ? Putra kak Yuma apa si Nian. Ma ?! Kan dia yang suka nginep di sini"


Wusan masih bingung, soalnya tadi pun dia merasa tidak melihat anak kecil masuk ke rumah nya.


"Heh ! Sana lihat saja, kamu dapat ponakan baru. Sana-sana!"


Dorong Yuma sambil mengulurkan tangan nya seperti mempersilahkan Wusan agar segera menuju ke kamar yang di katakan oleh mama nya.


"Benarkah ?." Antara bingung dan penasaran, Wusan berjalan cepat sambil mundur, menatap aneh mama dan juga kakak nya.


"Sana"


Ucap Yuma dengan kode dari kedua tangan nya dan anggukan dari mama nya. Tubuh Wusan pun tak lagi terlihat di telan oleh belokan tangga.


"Babe"


Panggil Liam. Yuma dan mama Shuwan menoleh bersamaan.


"Apa ?" Sahut Yuma, mengangkat dagu dengan sedikit galak dari nada suaranya.


"Dih !"


"Eh, jangan mentang-mentang udah pulang ke rumah mama ya, kau jadi galak seperti ini ! Memang nya aku takut begitu ? No nona Yuma yang cantik !."


Liam mendelik, decak pinggang sambil berjalan mendekati Yuma dan mama Shuwan sesekali telunjuk kanan nya menunjuk wajah Yuma dengan pasti.


"Dih siapa juga yang kaya begitu, mana ada ?! Biasa aja ini dari tadi juga"


Timpal Yuma kembali melipat kedua tangan nya. Mama Shuwan sedikit menjauh, kedua mata nya memperhatikan kedua insan yang sepertinya mulai beradu mulut.


"Mana ada ? Mana ada kata mu ?"


"Heh, terus barusan apa ? Gaya-gayaan angkat dagu segala, dasar wanita sombong ya kamu tu. Aneh tau ngga ?! Gila gila"


"Untung sayang"


Cerocos Liam, seperti biasa mereka ada saja pertengkaran kecil sampai akhirnya telunjuk Liam mendarat di kening Yuma, tapi kadang pula menyentil nya.


"Aisshh Yaak, apa-apaan lagi ini ?!." Rengut Yuma dengan nada tinggi. Sesekali mengusap kening nya


"Hahahaha iya iya maaf"


"Mana, sakit tidak ?!"


Tawa Liam menggelegar namun bernada meledek.


"Tau ah ! Diam diam" Tepis Yuma pada tangan Liam yang terus menggapai kening nya.


Sontak mama Shuwan menutup mulut nya dan tersenyum bahagia di balik telapak tangannya itu.


"Ma, aku mau istirahat dulu ya ! Badan Yuma serasa remuk " Izin Yuma.


"Terus aku gimana ?" Timpal Liam.


"Tidur saja di kamar mandi dapur sana!!" Ujar Yuma mendorong pelan pundak Liam.


"Dih ngga mau, ya! Di pites juga leher mu!"


"Sudah sudah. Ayo, mama antar ke kamar tamu ! Kamu istirahat saja di sana" Ucap Mama Shuwan menarik Liam agar tak lagi melayani kenakalan Yuma.


Sedangkan di kamar Yuma sangat-sangat menggelikan dan terasa bodoh, pasalnya pasang mata tiga pria beda zaman tengah menatap Xiao Lin yang terlelap dalam tidur nya.


"Kalian sedang apa ?." Yuma pun yang sudah berada du ambang pintu terkaget sampai kedua alis menaut begitu saja akan tingkah orang-orang yang ada di dalam.


"Ssssttt"


Bersamaan, mereka meletakan telunjuk mereka di depan bibir.


Yuma melohok, dia langsung menggelengkan kepala dan memilih masuk ke kamar mandi.


Namun berbeda di atap rumah yang lain, tepat nya di rumah besar Chen. Mereka masih berkumpul di ruang keluarga, tidak ada yang bicara saat ini, hening tanpa suara.


Erina memijit kening nya. "Kakak ipar kembali, aku rasa sekarang semuanya akan jauh lebih baik-baik saja. Ma, Pa, Ka !" Ujar Erina dalam satu tarikan nafas.


Gary menoleh pada istrinya itu. "Dia nampak berbeda dari lima tahun yang lalu. Cantik dan matang, tidak terlihat jika dia ada rekam menderita dalam hidup nya" Tarikan nafas Gary seakan penuh dengan teka-teki.


"Menantu mama kembali, Pa!" Timpal Mama Ella. Dari nada suaranya terasa sangat yakin jika sekarang jiwa seorang ibu sekaligus mertua kembali utuh.


"Benar ma" Timpal papa Chen.


Suara langkah kembali terdengar, terlihat Shen, Daniel dan Dokter Arya kembali bergabung.


"Paman sudah menyerahkan sempel itu ke bagian pemeriksaan, paling cepat tiga hari dan paling lambat satu minggu. Kita tunggu saja hasil nya"


"Dan bukan kah jika benar, semua itu akan menjadi senjata ampuh untuk menjauh dari si wanita itu ?"


"Paman rasa memang Tuhan masih menyertai mu, Daniel!"


Celoteh Dokter Arya sekaligus Paman kandung dari Daniel, nada suara nya khas namun sekarang ini semua orang yang mendengar pun tahu jika Dokter Arya tengah meledek Daniel.


"Paman memang top" Shen mengacungkan jempol dengan menaik turunkan kedua alis nya, sedangkan Daniel si pelaku utama hanya acuh, berjalan mendekati mama nya begitu saja.