
Di China, keluarga besar Chen tengah di selimuti rasa takut dan juga resah. Tidak hanya di gurun pasir saja yang gersang saat ini, namun suasana dalam keluarga itu sepertinya lebih gersang dari padang pasir sendiri.
Mama Ella masih belum bisa mengehentikan tangis nya, tatapan nanar itu nampak kosong namun juga tersirat kemarahan dan juga penyesalan.
Papa Chen pun tidak dapat berbuat apa-apa, ingin mencari namun itu tidak mungkin karena kepergian menantunya akan menjadi pertanyaan publik dan juga para rekan nya yang lain.
Bukan karena egois memikirkan reputasi nya, namun papa Chen memikirkan apa yang akan terjadi pada Yuma, dia tidak ingin berita yang berseliweran di luar mempengaruhi psikis nya.
Suami istri itu, sama sekali tidak memikirkan putra nya yang juga tengah terguncang, mereka seakan tidak peduli karena alasan nya apa yang terjadi sepenuh nya salah dari Daniel-putra mereka.
"Kalian menemukan jejak nya ?." Ucap Daniel tidak sabar mendekati dua orang asing di depan rumah.
"Tidak tuan ! Jejak nona Yuma sama sekali tidak dapat di deteksi dan kami sudah mencari ke setiap sudut kota namun hasil nya pun sama"
"Terakhir nona Yuma mengunjungi toko dan saat kami mengecek panggilan terakhirnya adalah dengan Xian-kakak sepupunya !,"
"Kami pun menemui teman-teman nona Yuma satu pekerjaan nya dulu dan mereka sama sekali tidak tahu ! Terakhir chat tadi siang dan setelah itu tidak ada pesan apapun yang mereka tunjukkan pada kami."
Pria itu menjelaskan hasil kerja nya seperti biasa, jika tidak pada Daniel maka akan melapor kepada Shen.
Daniel nampak mondar mandir seraya berpikir dan mengingat-ngingat tempat yang biasa Yuma kunjungi, namun seberapa keras dia mengingat semakin kecil pula rasa tahu dia terhadap istri nya itu.
Baru saja bawahan nya itu menutup gerbang, Shen pun telah kembali dengan mobil nya.
Daniel segera mendekat tidak sabar, wajah dan sorot mata nya penuh harap akan kabar yang dia tunggu.
Tin..
Tin..
"Kak kau gila apa ! Bagaimana jika ketabrak ?!." Shen membuka pintu mobil kasar karena Daniel menghadang badan mobil nya dan jika terlihat jelas hal itu sungguh berbahaya.
"Shen bagaimana ?." Cengkram nya pada bshu Shen, Shen memperhatikan cengkraman nya sejenak dan langsung menatap mata Daniel.
"Nihil." Tepis nya pada lengan Daniel dan berlalu pergi masuk ke dalam dengan nafas lelah nya.
Pergerakan tubuh Daniel semakin tidak karuan, dia kecak pinggang dengan mimik wajah sudah lesu dan nampak gila.
"Aku mohon Yuma, aku minta maaf !." Suara nya menggeram namun pelan, menengadah menatap langit-langit teras.
Langit malam begitu indah saat ini, bintang menghiasi dengan kerlipan nya, rembulan pun ikut hadir seakan tersenyum pada penghuni bumi.
Angin sepoi terasa dingin menusuk tulang namun sangat nyaman membelai dedaunan yang ikut menari seolah ikut hadir akan ciptaan Tuhan.
Suasana itu sangat berbanding terbalik dengan keadaan dalam rumah Chen itu.
"Ada apa ma ?."
Langkah Daniel terhenti kala dirinya memutuskan untuk masuk ke dalam, namun ekspresi dari sang mama membuat nya penasaran, bukan hanya Daniel namun Shen juga Papa Chen nampak bertanya-tanya juga.
"Ma ada apa ?." Papa Chen menimpali.
"Erina akan pulang besok,"
"Apa ?." Teriak mereka bersamaan sehingga memekikkan telinga. Mungkin tidak hanya telinga, namun barang-barang di sana pun hampir hancur karena suara mereka.
"Tadinya mama hendak memberi tahu dia jika sepertinya mama tidak bisa ke sana dulu, tapi jawaban nya membuat mama shock!" Mama Ella mengelus dadanya.
Daniel tidak banyak kata, dia langsung menghubungi Erina.
Tuut...
Panggilan tersambung
"Erina benar besok kau akan pulang ?!." Tanya Daniel.
" Benar,"
"Kak sudah dulu ya, aku ada tugas yang belum selesai."
Belum ada persetujuan dari Daniel, Erina pun lebih dulu menutup sambungan nya. Tidak seperti biasa nya sang adik mengangkat telpon sesingkat itu membuat nya semakin curiga.
Saat Daniel menghubungi ulang, kontak Erina sudah tidak aktif dan itu semakin membuat nya curiga. Daniel menatap layar handphone nya dengan pandangan kosong, terlalu banyak yang dipikirkan sehingga otak nya sulit untuk bekerja.
"Pa" Mama Ella kembali memeluk papa Chen .
"Tidak apa ! Perlahan akan selesai, papa yakin itu" Papa Chen menenangkan.
...**...
"Tidak perlu melihat ku seperti itu !,"
"Kakak ipar mu ini tidak butuh perhatian mereka dan kakak pun tidak ingin kau menatap kasihan kepada ku seperti itu!"
Ujar Yuma sembari mengocek susu untuk di minum Erina, tepatnya susu untuk ibu hamil dan itu dia lakukan dengan senang hati.
"Kak". Seru Erina.
" Minum lah ! Setelah ini istirahat dan jangan terlalu lelah,"
"Tugas akhir mu akan kakak bantu jika memang butuh bantuan"
Padahal baru saja bertemu namun Erina sudah merasa nyaman dengan keberadaan Yuma entah kenapa.
"Siap kak" Ujar nya semangat dan langsung meneguk susu itu sampai habis.