
...***...
Malam hari, Daniel masih belum menampakkan batang hidung nya, dari luar pun terlihat kamar Daniel gelap gulita.
"Kak"
Erina mengetuk pintu berulang tapi tak mendapat sahutan dari dalam.
"Biarkan saja dulu, dia butuh sendiri" Tahan Gary. Tatapan Erina teduh tapi resah.
"Tuan, Nona, ada kedua orang tua nona Yuma di bawah" Ucap bibi Shu sopan.
Gary dan Erina saling tatap dan kemudian tak menunggu lagi mereka berdua turun ke bawah.
"Gary"
Xian pun ternyata ada bersama kedua orang tua Yuma. Gary menuntun Erina dan membantu duduk di sofa.
"Gary sebenarnya kemana Yuma ? Bukan kah dia sudah baik-baik saja setelah kepulangan nya ? Tapi kenapa kembali pergi? Daniel tidak membuat masalah lagi kan ? Tidak mungkin jika tidak, Yuma tidak akan pergi jika tidak ada tekanan dari dalam, kau pun tahu itu"
Xian terus berbicara, sampai mengabaikan rasa dari orang-orang di sana. Mungkin dia terkejut saat mendengar kabar yang sama seperti beberapa minggu lalu.
"Xian, tenang !." Tegur Papa Wei.
"Tapi pama—"
"Xian" Timpal Gary.
"Bibi" Erina mendekati mama Shuwan dan memeluk nya.
"Hiks hiks hiks hiks hiks ada apa lagi ini ?" Mama Shuwan hanya bisa menangis, dia tidak bisa berpikir untuk saat ini.
Handphone milik Yuma kembali tidak dapat di hubungi dan itu membuat keluarga khawatir.
"Gar, coba telpon teman mu yang di Singapore ! Ada kemungkinan dia tahu keberadaan Yuma dan bisa jadi dia ada di sana sekarang" Tutur Xian, dia baru ingat ke sana.
"Kau benar, Xi!."
Gary pun segera menghubungi Liam, pengeras suara pun di aktifkan agar mereka yang ada di sana mendengar.
Tut..
Tut..
Sambungan masih belum terhubung.
Tut..
tut..
"Astaga Gary kau bisa tidak jangan ganggu ! Tumben bener nelpon jam segini, !"
Bukan sapaan sopan yang di terima. Liam malah marah-marah dengan suara serak.
"Tumben ? Liam ini baru jam tujuh malam dan biasanya kau masih sibuk kerja ! Tidak lagi tidur kan ?"
Tukas Gary.
"Sakit?."
Lanjut Gary.
"Eum" Jawab Liam singkat. "Ada apa ? Cepat katakan atau aku tutup telpon nya" Lanjut nya dengan kejam.
"Yuma balik ke sana ngga ? Kau sama siapa di situ ?." Gary tanpa basa-basi.
"Yuma ? Ini di rumah bersama ibu ratu, memang nya kenapa ?." Suara Liam mulai tertelan oleh nafas nya.
"Yuma pergi, kali aja dia kembali ke Singapore dan mencari mu ! Begini saja, jika kau bertemu dengan Yuma, beritahu aku, ok !" Seru Gary.
"Eum"
"Baiklah, tidur lagi saja sana ! Tapi ingat untuk kabari aku jika Yuma datang ke sana, mengerti ?!." Tekan Gary mengingatkan.
"Iya iya"
Dari suara dan juga deru nafas Liam memang seperti orang sakit dan bodoh nya Gary dan orang yang mendengar nya percaya, padahal sekarang Yuma memang sedang ada di hadapan nya dan tengah menatap horor.
"Sudah" Cengir Liam.
"Dengar Liam, aku sudah menceritakan semua nya pada mu tanpa ada yang kurang ! Aku percaya pada mu dan aku mohon untuk tidak mengatakan apapun sebelum aku yang menyuruh mu. Mengerti !."
Ucap Yuma dengan menekan tegas pada Liam, padahal sekarang posisi nya dia meminta bantuan tapi entahlah Liam pun terlihat biasa saja, malahan dia senang.
"Kau akan tinggal di mana ?." Obrolan nya berlanjut.
"Tidak tidak, ayo aku antar !" Gary ribut berdiri dan menahan Yuma.
"Okey, maaf merepotkan mu !." Seru Yuma dengan tidak segan lagi.
Liam, pria itu bergegas ke bandara saat Yuma menghubungi, dia di posisi sedang rapat di kantor namun tanpa menghiraukan pekerjaan langsung pergi begitu saja.
Hujan masih belum reda, langit China dan Singapore seakan berkompromi. Suara guntur dan petir saling bersahutan seolah menggambarkan hati yang tengah hancur saat ini, Daniel terduduk diam dengan menumpu kedua kaki nya, tatapan nya kosong ke arah luar. Angin semilir berhembus menusuk kulit semakin saja membuat kulit membeku.
"Kau milik ku Yuma ! Aku akan menemukan mu" Bisik hatinya masih tetap mengklaim kepemilikan nya.
...**...
Dini hari, suara mobil berhenti kasar di depan pintu. Gary bergegas ke luar meninggalkan sejenak istri nya yang tengah tertidur pulas. Xian pun terlihat berjalan dari dapur masih dengan kemeja dan juga celana yang sama, sedangkan kedua orang tua Yuma tidur di kamar tamu.
Bibi Shu dan belum bangun karena jam masih dini hari. Shen nampak keluar dari mobil di ikuti oleh Papa Chen dan juga Mama Ella di gandeng. Syal di leher mereka melilit masing-masing karena kepulan hujan masih terasa ke kulit, tidak sederas malam tadi.
"Ma" Sapa Gary langsung meletakan tangan nya di punggung mama Ella yang tengah melangkah bersama dengan papa Chen.
Xian membalikkan badan nya kembali sehingga melangkah bersama dengan Shen.
"Bagaimana keadaan saat ini?." Tanya Mama Ella khawatir. Gary hanya menggeleng penuh memberitahu keadaan dengan kode itu.
"Masih tidak ke luar ? Tapi Daniel baik-baik saja, kan ?!" Timpal Papa Chen, dia bergegas menaiki anak tangga tanpa lelah padahal mereka tidak istirahat setelah selesai dengan pekerjaan nya.
"Daniel"
Panggil Shen dengan ketukan nya. Xian menyilang kan kedua tangan nya sambil menyandar punggung nya di dinding.
"Bagaimana Shen ?." Tanya Papa Chen diikuti oleh Mama Ella dan juga Gary.
Respon Shen dengan gelengan pintu nya. "Apa kita dobrak saja pa ?."
"Jangan, tidak perlu Shen!." Cegah Papa Chen.
...**...
Oueekk, ukhu...
Ukhu...
Tiba-tiba, Yuma terbangun dan secepat nya beranjak turun dari ranjang ke kamar mandi karena perut nya tiba-tiba merasakan mual.
Ukhu..
ukhu...
"Ssshh"
Yuma jongkok dengan kedua tangan menggapai wastafel, kepala nya pun sedikit pusing saat ini.
Ukhu..
ukhu..
Mulut nya kembali ingin mengeluarkan sesuatu dan dia kembali berdiri di depan wastafel.
Berusaha terus berusaha tapi tidak ada yang ke luar sama sekali.
Yuma mencuci wajah nya dan menyeka bibir nya sesekali menatap bayangan nya di cermin.
Wajah pucat begitupun dengan bibir yang perlahan seperti membeku. Dalam mata nya masih bertanya-tanya akan kesehatan nya akhir-akhir ini, tapi aneh nya saat bersama Daniel dia tidak ada merasakan mual di pagi hari ataupun sebal mencium aroma dapur dan wewangian.
"Ada apa ini?" Gumam nya bingung.
Terdiam sebentar, saling tatap dengan sepasang mata di dalam cermin.
"Astaga" Tajam mata dan ucapan kaget bersamaan. Yuma lari ke luar kamar mandi dan melihat tanggal di kalender.
"Ini tidak benar"
"Ini tidak benar!"
"Aku tidak hamil, kan? Ya Tuhan beritahu pada ku jika di dalam perut ku tidak ada seorang bayi, aku mohon Tuhan!!"
Tubuh nya melorot, dia terduduk di atas lantai yang dingin dengan kedua tangan memegang kalender kecil.
"Tidak mungkin, ini tidak mungkin"
"Hiks—hiks—hiks—hiks— ini tidak benar, ini tidak benar !."
Isak tangis setelah raungan itu begitu pilu, wanita itu meringkuk di atas kasur dengan memegang perut nya. Air mata tak dapat di hentikan, pikiran nya bercabang ke mana-mana.
...**...