Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 109


Pagi hari, kedua orang tua Yuma dan juga Xian sudah pamit pulang, mereka tidak mengikuti sarapan karena Wusan terus meminta pulang untuk itu pagi hari sudah heboh dengan tangisan anak kecil di pangkuan papa Zhao yang tidak dapat berhenti.


"Ma, Pa, besok aku akan kembali ke Singapore karena pembimbing menelpon tadi malam untuk segera menyerahkan tugas akhir ku"


"Kenapa begitu mendadak, nak? Bukankah kemarin pembimbing mu tidak mempermasalahkan nya ? Tapi sekarang tidak, kenapa?!." Ucap Mama Ella dengan nada kurang setuju sesekali melirik Gary yang sepertinya dia sudah tahu dan menyetujui.


"Ma"


Mulut Erina baru mau menganga membalas ucapan mama nya tapi suara lain yang sangat mereka kenal menimpali ucapan.


"Daniel"


Atensi keluarga itu sangat kaget dengan keberadaan Daniel yang tengah berdiri dekat sofa, jas kantor nya pun sudah rapih membalut tubuh nya, wajah fresh dan juga rambut begitu segar seperti tidak pernah menghadapi masalah sebelum nya.


"Pagi, nak"


Sapa mama Ella beranjak berdiri dan menghampiri putra nya senang namun juga tercampur sedih.


"Kak" Panggilan Erina pun tak kalah riang, wanita itu sedikit berlari kecil ke arah Daniel.


"Erina jangan lari-lari" Tegur Daniel dan hal itu kembali membuat mereka melongo. Erina sontak mengerem lari nya begitu lucu seperti bocah.


Shen pun mengentikan langkah nya sembari melipat lengan kemeja nya tanpa memperhatikan ke depan. Pandangan nya langsung tegap lurus.


"Daniel?." Tanya nya dengan gumaman kecil, tatapan dan juga kening nya terkejut.


"Jangan lari-lari, kasihan bayi mu kalau kau terlalu aktif ! Kemari lah dengan pelan" Lambai Daniel dan dia pun ikut melangkah kecil.


Semua nya tidak ada yang tidak heran, sikap Daniel begitu hangat pagi ini padahal cuaca begitu dingin.


Tatapan keanehan mulai terdeteksi oleh Daniel sehingga dirinya melepas pelukan sang adik seketika.


"Tidak perlu terkejut seperti itu,"


"Jangan khawatir, aku akan menganggap tidak ada masalah ! Istri ku pergi dan meninggalkan secarik kertas dan map berisi dokumen gugatan cerai yang sudah dia tandatangani, tapi sampai kapan pun aku tidak akan menandatangani dan akan menunggu dia kembali,"


"Aku akan hidup dengan baik sesuai permintaan nya ! Aku rasa kata itu seperti memberi harapan, harapan akan kembalinya Yuma ke sisi ku. Aku yakin itu."


Mulut terdiam, netra mata mereka mendalam kala kalimat itu terucap dari mulut yang biasa nya kejam dan tajam.


"Sampai kapan kau akan menunggu nya, nak? Bagaimana jika dia memiliki kebahagiaan baru ? Papa yakin kamu akan menggila di saat itu tiba !".


Tidak ada sahutan, memilih untuk diam menguatkan keyakinan akan wanita yang mungkin di kemudian hari kembali pada nya, dia hanya perlu menunggu dan menunggu dengan sabar.


Cinta dan kasih nya telah tumpah untuk nya, sudah habis tanpa sisa. Tidak ada yang dapat menggantikan nya oleh wanita lain, tidak bisa, dia tidak mau melakukan kesalahan lagi, dia tidak ingin nanti jika istri nya kembali dia telah bersama orang lain.


...**...


"Ayo" Liam memapah Yuma dengan lembut seperti suami yang begitu perhatian. Yuma tidak menolak, dia sekarang memang butuh bantuan dari Liam, karena kaki nya sulit untuk menapaki dengan penuh.


Yuma menghubungi Liam di pagi hari, meminta di temani ke Rumah Sakit dan tentu Liam segera bergegas karena tidak biasa nya Yuma meminta itu.


Sekarang mereka telah berada di ruang pemeriksaan. Yuma tengah di periksa oleh dokter.


"Usia kandungan sudah dua minggu, di usia itu sangat rawan terkena guncangan dan di sarankan periksa lebih lanjut ke Dokter Kandungan, "


"Nyonya harus menjaga nya dengan penuh—"


"Dok" Tukas Yuma.


Dokter itu terus menginformasikan, kenyataan nya sekarang Yuma dan Liam hanya menganga mendengar nya seakan tidak percaya jika Yuma memang benar tengah mengandung.


"Iya bagaimana, Nyonya ?" Sahut Dokter itu.


"Saya benar-benar tengah mengandung ? Dokter sedang tidak bercanda dengan saya bukan ?."


"Tidak Nyonya. Sebentar lagi anda akan menjadi Ibu dan tuan akan menjadi Ayah, selamat untuk kalian dan semoga aman sampai persalinan nanti"


Dokter itu sangat senang dan ramah menyampaikan informasi kehamilan, dia sama sekali tidak tahu hati pasien nya saat ini.


Yuma tertawa palsu dan Liam pun hanya menatap nya dengan penuh kasihan tapi juga tersirat kebahagiaan.


"Tentu Dok, terimakasih ! Jika begitu kami permisi" Ucap Liam.


Liam dan Yuma melempar senyum sopan untuk dokter itu kemudian berlalu pergi. Senyum dokter itu masih mengembang dan kembali bekerja untuk pasien selanjutnya.


...***...


Yuma melangkah panjang, dia masih tidak percaya dengan berita kehamilan nya. Jiwa nya terguncang, dia sama sekali tidak percaya jika dirinya akan mengandung, di ingat-ingat dia hanya melakukan badan satu kali, apakah itu berefek. Pastinya iya dan buktinya sekarang, dia mengandung, mengandung putra Daniel.


"Bagaimana ini, Liam ?!." Yuma terduduk lesu di kursi tunggu pasien, dia menatap nanar mata Liam.


Liam berjongkok di hadapan Yuma dan ikut menatap mata lembut itu.


"Jangan takut, ada aku di sini ! Kita akan membesarkan anak itu bersama, aku akan ikut membantumu merawat anak ini. Sekarang fokuslah, jangan sedih dan jangan lelah, buktikan jika kau bisa membesarkan anak mu tanpa campur tangan Ayah nya,"


"Aku yakin kamu bisa, Yuma ! Aku percaya pada mu"


Tutur Liam menenangkan, ucapan nya terdengar tulus dan Yuma yakin jika Liam buka pria yang hanya tumbuh dengan ucapan nya saja.


"Eum" Angguk Yuma melebarkan senyum nya. Liam pun terlihat ikut lega dengan anggukan Yuma.


"Tapi Liam, aku memberitahu mu dari saat ini ! Aku dan anak ku bukan tanggung jawab mu, kau harus memiliki kebahagiaan mu sendiri, jangan jadikan ini pikulan untuk mu, aku tidak mau jika kau terlalu repot mengurus kami,"


"Tid—"


"Dengarkan aku dulu,"


Liam pun kembali mendengarkan.


"Jangan jatuh cinta pada ku ! Aku tidak ingin hubungan baik kita rusak hanya karena rasa suka, baik itu aku maupun kamu, cukup kita berteman saja. Kau mengerti maksud nya, kan ?!"


Liam tertegun, bagaimana bisa mulut wanita di hadapan nya ini sampai berucap kalimat itu di mana dia tidak sampai mengarah ke sana.


"Yuma, aku tidak memiliki adik perempuan,"


"Dari dulu aku menginginkan itu, tapi Tuhan tidak mempercayakan jika aku bisa menyayangi nya dengan sepenuh hati,"


"Jadi bagaimana jika kau menjadi adik saja, jadi di sini kau memiliki Kakak dan tempat pulang dan memiliki ibu yang tengah menunggu di rumah"


"Nyonya Lee pasti akan senang"


Ujar Liam sampai begitu semangat nya.


Hahahahaha


Yuma tertawa, dia merasa Liam memang seperti bocah. Bagaimana bisa dia menjadi adik darinya, itu keputusan yang bodoh, bagaimana jika keluarga nya tahu kalau dia sedang mengandung ?, pasti saja akan di usir dengan mudah dan singkat nya.


Benar-benar konyol permintaan Liam ini.


"Lah kenapa tertawa ? Aku sedang serius ini !." Seru Liam jengkel.


"Heh bodoh, bagaimana bisa kau memiliki permintaan seperti itu ! Sudah jangan terlalu berpikir aneh-aneh" Yuma berdiri masih dengan tawa kecil nya dan Liam masih berjongkok menengadah menatap Yuma.


"Aku serius dengan perkataan ku ! Nyonya Lee pun sudah tahu jadi ayo sekarang kita pulang ke rumah ku !"


"Tidak Liam ! Kau pikir saja apa yang akan orang lain katakan, kau membawa wanita hamil tiba-tiba ke rumah mu ? Sudah lah, hanya memikirkan nya saja sudah mengerikan apalagi kenyataan nya !."


Yuma menolak mentah-mentah permintaan Liam, tapi Liam tidak kalah ngotot nya.


"Tapi nyonya Lee sudah setuju, Yuma! Ayo kita pulang saja ke rumah"


Yuma kembali menghentikan langkah nya dan membalikkan badan. "Tidak Liam" Tolak Yuma dan kembali melanjutkan langkah nya. Yuma takut kalau suatu hari nanti pria itu pasti akan memiliki perasaan pada nya, dia lelah biarlah dia fokus untuk mengurus anak nya di banding memperumit hubungan.


Pertengkaran kecil mereka tidak sedikit orang yang melihat, benar-benar drama singkat yang menyenangkan bagi mata yang melihat.


"Haisshh !! Nyonya, kau harus berusaha sendiri ! Ternyata Yuma benar-benar keras kepala,"


"Hihihi pasti dia akan senang akan mendapat cucu, aku harus mengatakan nya pada Mama, jika adik Gary tengah mengandung sekarang dan pasti dia akan bergegas datang ke apartemen Yuma"


Otak Gary tidak pernah surut akan akal bulus, dia jika mau mendapatkan sesuatu pasti akan mengakali segala cara agar berhasil.


"Yuma tunggu" Liam sedikit berteriak, dia pun berlari sampai sejajar dengan Yuma.