
...***...
Brak...
Brak..
Beberapa berkas terbanting di atas meha kerja milik Gary. Xian yang tengah bekerja di sofa kantor Gary pun seketika berdiri. Penampilan Gary dan juga Xian sudah sangat kusut karena mereka masih mencari dalang di balik konspirasi itu.
Ya, pelaku utama yang membuat keributan adalah ayah dari Gary. Houngli Zhao adalah ayah kandung dari Gary, putra pertama dari tuan besar Zhao, otomatis dia adalah kakak dari papa Wei-ayah dari Yuma.
"Apa maksud nya ini, hah?!." Dengan wajah yang sudah memerah karena amarah karena memuncak membuat tenaga yang dihasilkan semakin besar.
Gary beranjak dari duduk nya. "Pa" Ucap nya dengan wajah lelah. Tidak ada bentakan kembali dan serasa Gary tengah mengawalinya dengan kesabaran.
"Baru saja papa tinggalkan ke luar kota tapi masalah yang ditimbulkan berkali-kali lipat ? Papa tidak mau tahu, jangan sampai saham perusahaan anjlok hanya karena keteledoran kalian." Amuk nya menunjuk kasar ke wajah Gary dan juga Xian.
"Pa, bisakah kau diam saja ? Kedatangan mu ke sini itu masalah bukan nya selesai tapi malah semakin rumit ! Papa lebih baik pulang dan istirahat, aku dan Xian akan mengurus ini secepat nya." Nada suara Gary mulai meninggi namun tan sampai membentak.
Tuan Houngli menoleh pada Xian. "Dia ?." Tatap nya aneh dengan nafas menderu panas. Xian hanya merespon dengan gerakan alis nya.
"Tidak berguna." Caci nya berbalik dan ke luar saat itu juga menutup pintu kantor dengan keras. Diluar, tepatnya di depan pintu, tuan Houngli terdiam sesaat sebelum melanjutkan langkah nya. " Sejak kapan mereka begitu akrab." Batin nya heran dan saat itu pula langsung pergi.
Jam menunjukkan jam sembilan malam, kaka-adik sepupu itu belum juga selesai bekerja, siapa lagi jika bukan Gary dan juga Xian. Mereka masih sibuk berkutat dengan berkas dan juga beberapa penunjang bukti di hadapan mereka.
Sementara di kediaman Yuma, keluarga Daniel sudah bersiap pulang, mereka berdiri hendak pamit.
"Yuma, besok mama tunggu di butik ya !." Mama Ella seperti prangko yang terus menempel pada Yuma lebih dari mama Shuwan-ibu kandung dari Yuma.
"Nanti mama kirim alamat nya, jangan lupa juga."
"Uh ? Kan Daniel tahu, kenapa mama harua kirim alamat nya pada mu ?." Tukas mama Ella, mama Shuwan hanya tersenyum menanggapi.
"Iya kan, Niel?!."
"Ma, Daniel banyak kerjaan ! Lagi pula besok aku senggang jadi tidak perlu merepotkan Daniel. Biar dia menyelesaikan pekerjaan nya, kasihan Shen yang terus menghandle semua nya."
Shen yang di bela mengacungkan ibu jari tangan nya, bahkan kedua ibu jari nya dengan kedipan salah satu mata nya.
"Itu sudah pekerjaan nya, biarkan saja !." Daniel tidak terima.
" Kerja itu harus ada buktinya, jika tidak ada maka dia akan memakan gaji buta !."
"Hadeuuhh,, susah ya kompromi sama maniak kerja." Ketus Shen bernada menyindir juga.
"Bulan depan gaji mu di potong."
Ekspresi mereka sudah mau meledak, ingin tertawa dengan ekspresi yang begitu natural dari Shen.
"Mana ada ! Tidak ya jangan macam-macam,"
Shen tidak takut jika di pecat, tapi dia sangat takut jika gaji nya di potong. Padahal jika dilihat-lihat dia sama sekali tidak kekurangan apapun.
Perdebatan kecil itu pun tertinggal menjadi sebuah kenangan dengan hitungan menit. Kelurga Daniel pun pulang dengan Shen sebagai pengemudi nya.
Yuma kembali ke kamar nya, dia duduk di ujung kasur nya seraya menatap potret dirinya dan juga Kirei, teman yang sangat dia sayangi, namun penghianatan membuat nama itu menjadi sebuah belati tajam untuk hati nya.
"Bagaimana kabar mu, Ki? Aku bertemu kembali dengan Axel. Apa kau sekarang sudah bersama nya ? Aku harap itu terjadi." Ucap Yuma membaringkan tubuh nya, menatap langit-langit kamar yang pernah menjadi teman curhat nya.
...**...
"Mau kemana lagi ?." Shen yang kebetulan belum masuk ke kamar nya mendapati Daniel yang sudah mau pergi lagi.
"Aku ada urusan ! Jangan cari aku, atau kau akan tahu akibatnya !." Tekan nya terdengar mengancam.
"Dih siapa juga yang mau nyariin ! Ngga ada kerjaan sekali." Delik Shen melanjutkan langkah nya.
Daniel pun pergi dari area rumah entah menuju kemana.
Beberapa menit berlalu, Daniel sampai di depan pintu apartemen seseorang.
Klek...
pintu terbuka saat Daniel menekan bel apartemen itu. Ekspresi kaget terpancar dari wajah pemilik apartemen itu.
"Daniel" Xena, ya dia adalah pemilik apartemen itu. Matanya membelalak tajam tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Daniel tanpa di persilahkan masuk, langsung ke dalam melewati Xena yang tengah kaget namun dengan senyum terpancar dari wajah nya..
Xena menutup pintu dan berlari kecil mendekati Daniel. Pakaian Xena tak pernah tertutup dan sekarang dua tengah memakai lingerie berwarna merah sampai-sampai mata tertutup pun mungkin akan melihat aurat milik nya.
Daniel duduk dengan tangan terjulur di atas pundak sofa. Dia tidak bicara sepatah kata pun.
Xena mendekat dan sebelum itu meletakan dahulu minum untuk tamu tak diundang nya.
"Kabar nya kau tengah melamar seorang gadis ! Apa gadis itu orang yang sama dengan gadis yang kutemui terakhir kali ?." Xena memancing-mancing dan memanfaatkan keadaan Daniel sekarang.
Daniel juga bodoh, kenapa juga dia menghampiri Xena.
"Kau pasti lelah ! Ini minumlah." Xena memberikan minuman bersoda namun tak memiliki dosis tinggi untuk itu sangat mustahil menjadikan seseorang mabuk.
Daniel merebut air kaleng itu dengan kasar, rahang nya semakin menegas. Jari jemari Xena mulai nakal dan kini mengusap wajah Daniel.
Daniel tanpa aba-aba langsung mengunci Xena du bawa nya. Xena bukan meronta, dia malah senang di perlakukan seperti itu oleh Daniel. Dia menikmati setiap ciuman yang di benamkan oleh bibir hangat milik Daniel.
Daniel semakin tidak terkontrol, Xena terus menggoda nya, namun sayang nya aktifitas Daniel terhenti tanpa berlebihan dan tidak perlu untuk lebih mempertanggung jawab kan yang telah dilakukan nya.