Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 95


...***...


Tinggal Shen yang berada di rumah sakit, dia menunggu Daniel nya duduk di sofa sembari memperhatikan wajah kakak nya.


"Kakak ipar, dimana kamu ?." Gumam Shen dengan helaan nafas lelah nya. Kekuasaan sang pebisnis itu seakan terbatas.


Sedangkan Gary dia mengantar dahulu Erina dan juga kedua orang tuanya, diikuti oleh Xian dari belakang.


Tiba mereka di pekarangan rumah, Gary ikut masuk membantu menuntun Erina masuk ke kamar nya. Xian, dia tidak ikut, memilih untuk berdiri di samping mobil nya.


"Pernikahan kalian apa sebaiknya di tunda dulu ? Kita tunggu Daniel membaik dahulu, setelah itu baru laksanakan pernikahan kalian"


Papa Chen yang biasanya penuh ketegasan dan kewibawaan bak di telan bumi, sikap itu tidak tergambar saat ini pada diri papa Chen di gantikan dengan kening mengkerut namun ulasan lelah dan bersalah.


Sedangkan mama Ella, wanita itu sudah lebih dahulu pergi ke kamar nya dengan mata masih sembab.


Gary dan Erina saling lempar pandang, mereka mengerti akan ekspresi dan ucapan itu.


"Saya tidak masalah ! Bagaimana baik nya saja, lagi pula ada waktu satu minggu untuk Erina kembali Singapore. Bukan begitu sayang ?!." Seru Gary. Erina menaikkan satu alis reflek karena sekarang Gary semakin berani pada nya.


"Iya pa benar, aku izin satu minggu ke dosen jadi tinggal kirim tugas online saja" Timpal Erina, sepertinya emosi nya sudah membaik.


Tapi hati Papa Chen masih saja janggal, dia merasa ada yang aneh dengan sikap besan nya itu. Papa Chen pun pergi dari kamar Erina sampai di mana punggung nya tidak lagi terlihat.


"Aku harus bicara dengan kakak ipar !." Seru Erina, duduk di ujung kasur king size nya. Gary berlutut, menggenggam kedua tangan Erina sesekali mengusap lembut perut Erina.


Erina tidak melarang dan kecanggungan di antara kedua pasang yang tidak di sengaja itu semakin menipis, padahal kedekatan mereka bisa di hitung hari.


"Biar aku saja ! Kau istirahat lah, aku akan pulang. Xian pasti terlalu lama menunggu di bawah !." Tutur Gary beranjak berdiri. Erina menengadah, memandangi setiap lekuk wajah Gary.


"Hati-hati" Ucap nya dengan senyuman tipis menyertai.


Di teras rumah, Xian berulang kali mengecek jam di tangan nya dan tidak sedikit pula mengumpat.


"Ayo" Seru Gary. Xian pun berbalik.


"Nginep saja sekalian, ngga usah pulang !." Rajuk nya. Xian menghentakkan kaki nya dan langsung masuk ke dalam mobil kemudi.


Gary hanya merespon dengan gelengan kepala sesekali dia pun mengecek jam di tangan nya. Mobil pun melaju, berlalu pergi meninggalkan area kediaman Chen.


...**...


Singapore, Liam masih menemani Yuma yang tengah terbaring lemas di atas kasur.


Liam inisiatif membeli bubur dan juga beberapa obat untuk demam serta beberapa makanan sehat untuk Yuma konsumsi. Naru dekat tapi sudah perhatian, ok lah ya ! Liam pasti paham akan sikap nya itu.


Drtt..


Liam merogoh handphone nya yang bergetar di dalam saku celana. Mengamati sejenak siapa yang menelpon dan ternyata Gary.


"Halo bro!." Seru Liam menyapa, beranjak berdiri berjalan ke luar kamar.


"Keadaan Yuma bagaimana ? Dia baik-baik saja kan ?!."


Tidak basa-basi, bahkan Gary tidak sama sekali menanyakan kabar dirinya walaupun memang kalau bertanya akan sangat aneh. Liam duduk di sofa ruang tamu yang ukuran nya lumayan luas.


"Dia sedang istirahat, biasa lah ya adik mu itu sangat aktif sampai-sampai kelelahan ! Bahkan hari ini dia baru melakukan pembelian toko kue,"


"Kau tahu Gar, beli nya cash ! Wah mantap sekali adik mu ini, aku benar-benar terpesona hahaha !!" Lanjut nya. Liam seperti biasa, dia pasti akan nampak konyol dan pecicilan jika sudah bicara dengan Gary.


"Sebentar sebentar" Tahan Gary yang kurang mengerti dengan perkataan Liam yang di tambah dengan cekikan dan itu menambah tidak jelas.


Gary mengaktifkan pengeras suara agar Xian mendengar. Dia meletakan handphone nya di atas meja apartemen Xian, setelah sampai, Gary menghubungi Liam karena jika menghubungi Yuma langsung tidak akan bisa.


"Toko kue ? Dia membeli toko kue ? Dengan uang Cash ? Liam apa maksud nya ? Mana bisa sesingkat itu, tidak mungkin Yuma melakukan hal lebih jauh seperti itu. Ini baru beberapa hari dia tinggal, jadi dia tidak mungkin sibuk mendadak"


Sangkal Gary diiringi tawa geli dan meledek nya begitupun dengan Xian yang bahkan langsung merubah posisi nya, tiduran di atas sofa dengan memainkan rubik kesayangan nya.


"Dih ketawa ! Aku tidak asal-aslan, Gar! Ini kita baru pulang merenovasi toko tapi karena Yuma demam makanya kita pulang cepat" Seru Liam sesekali melirik pintu kamar Yuma.


"Ngawur ! Aku tidak percaya,"


"Berikan handphone nya, aku ada pembicaraan serius dengan nya" Gary tetap tidak percaya, dia terus mengkilah dan menyangkal.


Liam sedikit kesal, dia pun merubah panggilan ke video agar Gsry percaya. Video call pun tersambung. "Kau masih kenal dengan kamar mu ? Ini aku sedang di sini menemani adik mu yang sakit!." Sedikit kesal, Liam pun menyoroti setiap sudut kamar hotel yang di sewa atas nama Gary untuk beberapa hari ke depan.


Xian seketika bangun kembali dan ikut melihat. Saudara sepupu itu pun langsung panik.


"Jangan bercanda, Liam!." Tekan Gary.


"Dih siap yang sedang bercanda Gary ku yang tampan ?! Ini lihat, apa wajah ku terlihat sedang bercanda ? No!."


Layar bening itu penuh dengan wajah Liam, Xian melirik Gary. "Mana Yuma ?." Tanya Gary.


Liam pun berjalan ke arah pintu kamar dan perlahan membuka.


"Tu itu !." Ucap nya sehingga Yuma masuk ke dalam kamera.


"Bagaimana keadaan nya sekarang ?."


Mereka pun terus berbincang sesekali adu mulut sampai sambungan pun berakhir. Liam dia kembali mengecek suhu tubuh Yuma, panas nya belum turun signifikan namun tidak sepanas tadi.


"Istirahat lah !." Ucap Liam sembari membenarkan selimut yang menutupi sebagian tubuh Yuma, kemudian berlalu pergi.