
Malam yang amat panjang untuk keluarga Chen sekarang, tidak hanya Daniel yang tidak bisa tidur, tapi juga mama Ella, papa Chen dan juga Shen juga tidak dapat tidur.
Daniel beranjak berdiri mengamati pintu kamar yang tak kunjung terbuka. Dia menunggu Yuma selesai bersih-bersih tapi ini sudah lewat tengah malam, entah berapa jam waktu yang harus di habiskan.
Kerutan pada kening nya menunjukkan jika dia tengah resah, dia merasa keputusan nya benar-benar salah, ditambah respon Yuma yang seakan tidak tertekan sama sekali.
Daniel tak lagi bisa hanya mondar-mandir di depan kasur, dia memutuskan untuk mengecek Yuma di kamar sebelah. Hatinya nya gundah dan jantung nya terus berdetak kencang, tak normal sama sekali.
Sampai di depan pintu kamar sebelah, dia canggung untuk membuka. Sepi dan udara semakin dingin, dari sela pintu yang terbuka sedikit berhembus terasa pada kulit.
Di dalam sepertinya tidak ada cahaya lampu, seakan sengaja di padamkan oleh sang penghuni.
Kreeaaaat.
Daniel mendorong pelan kenop pintu sehingga hanya satu kali menghasilkan suara.
Yuma yang berada di dalam pun merasa jika ada yang masuk, dia seketika tidur menyamping sesekali menyeka air mata nya dengan cepat.
"Dia tidur di sini ?." Gumam Daniel menangkap keberadaan Yuma yang tengah meringkuk di atas kasur tanpa selimut.
Daniel duduk di ujung kasur menatap punggung Yuma. Tatapan nya sendu namun kepalan tangan mengerat semakin kuat.
"Yuma." Guncang nya pada lengan Yuma. Tidak ada suara sedikit pun sekarang, yang ada hanya suara detak jarum jam.
Yuma tak menyahuti, dia terus berpura-pura tidur.
"Yuma maafkan aku" Daniel benar-benar di buat kalah oleh sifat juga sikap Yuma.
Keras kepala nya, sikap bijak nya, sifat marah nya juga sifat dingin nya langsung di kick oleh Yuma sampai-sampat pria itu tak dapat mengerti akan dirinya sendiri.
Pertanyaan nya, apakah kebencian juga amarah nya mulai luntur ? Daniel terlihat seperti pria linglung saat ini. Hendak melanjutkan sikap kasar nya pada Yuma, entahlah sepertinya tidak mempan untuk istri nya itu, sampai jiwa dan raga nya merasa terjatuh kan, Daniel merasa dirinya bukan apa-apa di hadapan Yuma.
"Kau tahu Yuma, aku melihat Erina-adik ku begitu hancur !,"
"Dia hampir seperti wanita gila saat pertama aku temui di apartemen nya,"
"Tentu saja aku kaget, dia berhamburan memeluk ku dengan air mata yang mulai mengering."
Daniel terus bercerita sembari menatap punggung Yuma, dia menaikkan satu kaki nya dan kaki lain menatap ke lantai.
Mata Yuma terpejam namun tidak dengan telinga nya. Nada suara Daniel naik turun, kadang lembut kadang juga menekan karena amarah.
Air mata Yuma pun terus menetes hampir memasuki telinga karena tidur menyamping, tangan menyanggah kepala dan pipi. Yuma menggigit bibir bawah nya agar tak menangis terisak.
**
Waktu menunjukkan pukul enam pagi, Yuma terbangun dalam dekapan Daniel yang semalam tiba-tiba saja memeluk tubuh nya dan membawa ke dalam hangat nya pelukan.
Perlahan kaki jenjang pucat itu menuruni ranjang sesekali melirik Daniel yang masih terpejam. Yuma berjinjit menuju ke luar kamar tanpa suara sedikit pun.
Seakan tidak terjadi apapun semalam, gadis itu turun ke dapur dan seperti biasa menyibukkan diri di sana.
"Non" Bibi Qin menepuk pundak Yuma pelan.
"Bi ? Aku kira siapa !." Yuma mengelus dadanya seraya mengatur nafas dan terselip senyum ramah dari bibir nya.
Bibi Qin pun ikut tersenyum, namun terlukis kecanggungan pula dari sirat wajah nya.
"Jangan menatap ku seperti itu bi." Seru Yuma menuangkan teh hangat yang telah bercampur dengan gula di dalam nya.
"Uh ? Oh tidak non." Sahut nya dengan menundukkan kepala.
Mama Ella mengamati Yuma sampai kepala nya dimiringkan, mata nya membulat seketika saat di dapur benar-benar menantunya.
"Yuma" Mama Ella melangkah panjang dan langsung memeluk nya.
Yuma mengerti perlakuan mertua nya itu dan membalas pelukan nya. "Selamat pagi, ma!." Ucap Yuma hangat.
Pelukan pun terlepas, mama Ella menatap sayup wajah cantik Yuma walau sedikit pucat.
"Maaf kan mama, mama benar-benar tidak tahu rencana Daniel ! Mama dan papa pun kecewa dengan Daniel,"
"Yuma, kamu jangan membenci mama. Mama tidak sanggup jika itu terjadi, mama menyayangi mu seperti putri mama sendiri,"
"Ma.. mama sungguh merasa gagal menjadi seorang ibu. Maaf kan mama hiks,,, hiks,, hiks."
Mama Ella terus menelusur pandang pada Yuma, rasa bersalah itu semakin menebal pada jiwa nya. Tidak sekedar rasa sesal saja dalam benak namun seorang ibu itu ternyata takut juga kehilangan mutiara nya.
"Ma, jangan menangis ! Lihatlah aku tidak apa, aku baik-baik saja. Memangnya siapa yang bisa membenci mama, 'eum ?!."
Yuma pun kembali memeluk mama Ella sejenak dan melepas kembali, menyeka air mata mertua terbaik nya itu dengan tanpa rasa dendam membara.
"Minum teh hangat ini,"
"Duduk dan temani aku. Boleh kan ?." Yuma menarik kursi dan kembali menyajikan teh manis untuk mama Ella.
Lagi dan lagi sikap Yuma itu bukan nya membuat mama Ella tenang, namun sebalik nya. Sikap Yuma yang tenang itu ternyata menakutkan di mata keluarga Chen.
Baru kali ini mereka di hadapkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak tertebak.
"Yuma berjanjilah."
"Berjanji untuk apa ma ? Untuk tidak membencimu kah ?." Tukas Yuma dengan sesekali menyesap teh manis itu.
"Tidak hanya itu, tapi kau juga harus berjanji tidak akan meninggalkan kami terutama Daniel."
Terdengar egois, namun harus bagaimana lagi ? Mama Ella seperti. sangat ketakutan saat ini, hatinya gundah, jantung nya pun masih belum berdetak dengan normal dari semalam.
Yuma meletakan gelas cangkir itu dan menatap lurus mama Ella.
Dia tak merespon namun hanya mengulas senyum.
**
Daniel, dia seperti orang gila. Saat dirinya bangun dari tidur nya tak mendapati Yuma di samping, dia ingat benar jika malam tadi memeluk Yuma tapi sekarang kemana dia. Daniel terus berpikir yang tidak-tidak.
"Ma"
Teriak Daniel, menuruni anak tangga dengan telanjang kaki.
Teriakan Daniel membuat seisi rumah ke luar berhamburan
" Ada apa, Kak ?!." Shen yang biasa nya sudah rapi, kini penampilan nya serupa dengan Daniel yang acak-acakan.
"Shen, Yuma tidak ada di kamar nya." Nafas nya sesak, nada bicara nya terbata-bata.
Shen menyipitkan mata sehingga kedua alis nya itu menaut begitu saja. " Jangan bercanda." Shen tidak terima.
Keributan itu mengundang pelayan dan beberapa pekerja di rumah ikut melihat.
Mama Ella juga Papa Chen pun berjalan cepat.
"Ada apa ini, kenapa teriak-teriak hah ?!." Seru papa Chen langsung menjatuhkan bokong nya di atas sofa.
"Yuma tidak ada." Jawab Daniel mengacak-acak rambut nya.
Penampilan bangun tidur itu benar-benar terlihat.
Mama Ella menatap malas putra nya.
"Dia ke pasar bersama bibi Qin." Mama Ella benar-benar ketus dan malas menatap putranya.
"Ma" Cegah Daniel.
" Jangan halangi jalan mama."