Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 40


Jam kerja telah usai dan para karyawan pun silih berganti ke luar dari kantor mereka masing-masing. Daniel memperhatikan kantor Yuma dan dia tidak sama sekali melihat dia ke luar.


"Ke mana dia ?." Daniel memperhatikan pintu kantor itu dan tidak ada lagi orang yang ke luar dari sana.


Jam menunjukkan jam lima sore, Daniel bergegas mendatangi kantor itu karena dia menduga jika Yuma belum selesai bekerja seperti biasa nya. Saat sampai dia membuka pintu dan seketika kening nya mengkerut sampai kedua alia nya menaut tajam, di dalam tidak ada siapapun kecuali barang-barang kantor.


Sedangkan di kedai tempat makan Levon dkk sudah sampai di sana tinggal menunggu Yuma. Hujan rintik mulai turun membasahi kota, teman sekawan itu mulai khawatir karena Yuma belum juga terlihat batang hidung nya. Makanan sudah siap seperti Jioazi ( mirip dimsum ), bebek peking bakar saus manis, chow mein, won ton, fu yung hai dan lail-lain masih banyak sampai memenuhi meja yang mereka kelilingi.


"Wey." Teriak Yuma dari bawah payung nya. Xian terlihat ikut bersama dengan nya, kebetulan tadi dirinya dan juga Xian bertemu di toko kue milik nya, begitupun dengan papa nya yang ternyata ada di sana juga.


Yuma sesaat berpikir bukan kah mereka akan survei hari weekend ? Untuk itu Yuma merasa aneh akan keberadaan Ayah dan kakak sepupunya di sana. Tidak luput Yuma pun mendapat teguran dari mereka berdua, karena bukan nya istirahat tapi malah berani berkeliaran.


" Astaga." Jingyi menghampiri dan membantu merapihkan payung nya.


" Kak, teh hangat dua." Teriak Wufan pada pelayan di sana.


" Maaf telat, tadi mampir dulu ke kantor kakak ku sebentar." Yuma dan juga Xian pun duduk.


" Ini minum lah !." Wufan menyodorkan air hangat untuk mereka.


Setelah dingin nya mereda, Jingyi tidak sabar bertanya akan surat pengunduran dirinya tadi siang. Dia penasaran karena begitu tiba-tiba.


Yuma pun melahap sepotong Jiaozi ke dalam mulut nya, bersamaan dengan itu diapun memberitahu teman sekantor nya dengan masuk akal dan penuturan yang jelas


" Tapi kita masih berteman kan ?." Laoda bertanya pelan.


" Hahaha tentu saja dan awas jangan lupa berkunjunglah ke toko kue ku. Nanti aku kasih diskon untuk kalian hahahaha." Tawa Yuma namun dengan di tutupi sebagian jemari nya karena masih mengunyah.


Jam delapan malam mereka pun pulang ke rumah masing-masing dengan sebagian kesadaran mereka karena mengkonsumsi minuman beralkohol. Sedangkan Yuma tidak begitupun Sean karena mereka tidak terlalu suka dengan minuman seperti itu.


...**...


Di rumah besar Chen, Daniel memangku dagu nya melamun dengan pikiran yang semakin rumit. Sesekali dia menyandarkan kepala nya pada punggung kursi dan nafas lelah pun menghembus kasar.


"Xena." Dia tidak habis pikir dengan mantan kekasih nya itu, Daniel semakin berpikir apa yang sebenarnya terjadi.


Derap langkah kasar menerjang pintu kamar begitu saja namun Daniel mengabaikan karena dia tahu siapa pelaku nya.


"Yuma mengundurkan diri ! Ini surat pengunduran dirinya siang tadi dan sudah di setujui." Shen meletakan surat itu dan beberapa berkas persetujuan pengunduran diri nya.


"Apa ?." Daniel tidak berteriak, dia menyahuti dengan nada rendah nya sembari kepala nya sedikit miring menanggapi. Dia meraih surat itu.


"Dan untuk perekrutan sekretaris memang sudah di lakukan satu minggu yang lalu itupun atas persetujuan dari mu ! Ini surat pembukaan nya dan di sana ada tanda tangan mu."


"Sial." Umpat Daniel dengan membuang semua berkas yang ada ke sembarang arah.


" Satu lagi."


" Apa lagi Shen ?." Kesal Daniel sembari memijit pangkal hidung nya.


" Kabari Erina, sepertinya ada yang tidak beres dengan nya." Shen menumpu kedua telapak tangan nya di ujung meja kerja Daniel sembari menatap lurus mata tajam itu. Sedetik kemudian Shen pun tidak berada lagi di depan nya.


Daniel tanpa basa-basi, dia menghubungi Erina-adik nya yang masih berada di Singapura setelah Shen berbicara tanpa di duga.


"Halo kak ?." Nampak suara Erina baik-baik saja tidak ada yang aneh di pendengaran, namun nafas nya seperti tidak sedang normal.


" Video call."


" Uuh ? Tidak tidak, aku sedang ada kelas kak." Tolak Erina dengan cepat. Daniel curiga karena walau dia sedang kuliah atau sibuk apapun jika menelpon pasti ingin video call, tapi sekarang kenapa menolak ?


"Kak sudah dulu ya." Tanpa menunggu jawaban dari Daniel, sambungan pun terputus.


Daniel segera beranjak dari tempat duduk nya mencari Shen. " Shen." Dengan kasar Daniel membuka pintu kamar Shen.


" Yaak mengagetkan saja." Shen reflek berdiri di atas tempat tidur nya dengan mata yang mulai seperti panda.


" Urus penerbangan ku ke Singapura."


" Cepat, aku tidak ingin tahu !." Daniel pun kembali ke kamar nya tanpa menjelaskan ada apanya.


...**...


Yuma sudah berada di toko kue nya pagi hari sekitar jam sembilan. " Selamat menjemput hari bahagia mu, Yuma." Yuma memakai celemek nya dan siap membuat kue dengan semangat.


" Kak Yuma selamat pagi." Sapa pegawai nya. Sekitar dua pegawai di toko kue Yuma.


" Pagi juga untuk kalian ! Sudah sarapan ? Jika belum sarapan dulu, 'gih !." Dengan tangan sibuk mengelola bahan kue, Yuma sampai tidak sempat menoleh sejenak.


"Sudah kak." Sahut mereka serempak.


" Bagus jika begitu ! Oh iya, banyak pesanan masuk, catatan nya ada di atas meja."


" Oh iya, kalian jadi bikin SIM nya ? Kemarin kakak sudah kirim ke rekening kalian buat bikin SIM !."


"Ok siap kak hahahaha ! Itu kak Luna kemarin di tilang jadi stnk nya di tahan jadi sekalian buat SIM sekalian ambil stnk."


Yuma mengkalis adonan itu. " Suruh siapa juga."


" Nanti siapa yang bagian antar ke pelanggan ?."


" Luna. " Luna dengan senyum bodoh nya mengacungkan tangan. Yuma menggeleng kan kepala nya pelan.


" Kalian cari lah kurir buat antar-antar kue, nanti kakak interview dia kalau kalian dapat."


"Yes." Luna dan juga Anran senang kala Yuma akan mempekerjakan kurir, jadi mereka berdua bisa stay di toko tanpa bergantian mengantar ke pelanggan.


Toko kue milik Yuma setiap hari semakin bertambah konsumen maupun pelanggan nya, kecil tapi kualitas dari rasa dan juga ukiran tidak kalah enak dengan toko-toko kue besar di kota itu.


Rambut di ikat asal sampai helaian yang tak terikat menggantung cantik menutupi wajah saat angin masuk menerpa. Yuma terlihat tengah melayani pengunjung setelah selesai membuat kue di dapur.


Kedua pasang mata memperhatikan sedari tadi dari luar lewat dinding kaca. Senyum nya terluas seakan wajah Yuma sangat menenangkan mata.


" Yuma." Shen menghentikan langkah nya saat di telah berdiri di belakang Yuma. Yuma sontak menoleh.


"Shen ?."


"Ini toko kue nya ? Ramai sekali, pasti kue nya sangat enak."


" Tentu, kue buatan Yuma sangat enak sekali hahaha." Sombong nya diiringi tawa gelak. " Ayo duduk."


Shen hendak berbicara namun dia terlihat menahan dan juga bingung harus mulai dari mana karena sekali lagi itu di luar urusan nya dan lagi Yuma memiliki hak untuk tetap tinggal atau lanjut bekerja di kantor nya


" Shen ?." Yuma mengibaskan tangan di depan wajah Shen.


Shen melamun tidak seperti biasa nya, Yuma mengenal Shen begitu cerewet tapi sekarang dia tidak sedang seperti itu.


" Yuma kenapa kau mengundurkan diri ? Apa ada masalah ? Jika iya mungkin aku bisa membantu mu !."


" Uuh ? Oh tidak ada Shen, aku sudah merencanakan nya jauh-jauh hari ! Kenapa ?." Yuma menangkap keanehan dari Shen, dia terus menyelidik


" Jika ingin bertemu datang saja ke toko atau ke rumah, aku tidak akan kemana-mana."


" Benarkah ? Astaga apa kau bisa membaca pikiran, Yum ?." Celetuk Shen dengan cepat nya, ternyata sedari tadi itu yang dia pikirkan.


" Hahaha kau ini kenapa ?." Yuma merasa aneh.


" Di mana pak Daniel ? Biasanya kau selalu bersama nya, Shen ?."


" Dia pergi ke Singapura, menjenguk Erina."


" Oh."


" Aku juga ada kakak sepupu di sana, dia sedang mengerjakan urusan bisnis nya dan sepertinya beberapa minggu lagi dia akan pulang." Lanjut Yuma dengan sikap lembut nya, perangai nya seakan tidak memiliki beban, namun apa yang di terka dan di lihat sangat sangat tidak benar, karena Yuma, dia terlalu mahir menyembunyikan rasa nya