Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 45


Di trotoar jalan, tepatnya di area perberlanjaan, Yuma tengah berjalan seorang diri dengan menenteng paper bag berwarna pink entah apa isi nya.


" Yuma !." Dari dalam restauran pinggir jalan, teriakan seorang pria terdengar kencang. Yuma reflek mencari sumber suara dan di detik kemudian senyum nya mengembang sempurna.


" Kak kau sedang apa di sini ?." Selidik nya dengan bola mata memutar melihat-lihat tempat yang berada di sana.


Dari dalam terlihat juga Xian melambaikan tangan nya. Gary pun mengajak Yuma ke dalam agar bergabung dengan mereka.


" Mari duduk tuan putri." Xian begitu antusias. Yuma menyapa rekan kerja kedua kakak sepupunya begitu canggung dengan ulasan senyum tipis di kedua bibir nya.


Sekitar sepuluh orang yang tengah makan bersama dengan kedua kakak sepupunya. Tentu saja ada yang suka ada juga yang tidak terutama rekan kerja wanita dari Xian dan juga Gary.


" Pelayan." Panggil Gary.


" Kau mau pesan apa ? Kau pasti belum makan, 'kan ?." Lanjut nya sesekali melirik.


" Apa saja, jangan banyak-banyak perutku akan sakit jika makan terlalu banyak." Ucap Yuma lembut. Gary reflek menepuk lembut pucuk kepala Yuma dan itu sampai membuat rekan kerja nya melongo, mereka kaget dengan sikap Gary yang tidak biasa.


Xian, dia beranjak berdiri melangkah mendekat ke depan kulkas yang di dalam nya berisi aneka salad.


Kretekk....


Xian membuka penutup dari wadah salad itu dan di sodorkan pada Yuma. " Tumben sudah kelayapan di jam segini ? Biasanya juga masih berada di toko dan sibuk sampai lupa jika kau masih punya keluarga di rumah." Omel Xian.


Ukhuuu..


Ukhuu..


Untuk yang kesekian kali nya, rekan kerja dari Xian dan juga Gary tersedak akibat perlakuan atasan yang irit bicara dan acuh pada semua orang kini tengah melayani seorang gadis cantik yang sama sekali tidak mereka kenali.


Yuma reflek melirik mereka satu persatu. " Mereka kenapa ?." Gumam Yuma namun masih terdengar oleh Gary.


" Biarkan saja."


Bahkan para wanita yang juga masih rekan kerja dari Gary dan Xian sangat kesal sampai-sampai mereka menggenggam erat garpu dan juga pisau.


" Biasakan gunakan mantel jika ke luar di sore hari ! Tapi lebih baik lagi jika kau mengenakan pakaian yang biasa kau kenakan !."


Ucap Gary mengenakan mantel nya pada tubuh Yuma dan begitu berkata sinis saat pakaian Yuma tidak biasa nya sedikit terbuka.


" Kak." Rengek Yuma.


" Apa ?." Seru Gary dan juga Xian bersamaan sampai rekan kerja nya pun ikut terdiam seakan makan mereka di balut dengan drama langka.


" Kapan aku akan makan jika kalian terus menceramahi ku ? Soal baju ini aku tidak sengaja, tadi aku tidak memakai rok dan potongan seperti ini ! Baju ku kotor setelah membuat kue dan kebetulan di loker ada baju ini, jadi aku pakai saja." Yuma begitu kesal sampai dengan cepat menghabiskan salad dan ice krim yang kebetulan tersedia juga di restauran itu.


" Sudah habis, aku mending pergi saja." Yuma pun berdiri dengan kasar membuat kedua pria itu terdiam begitu pun rekan yang lain.


" Pakai mantel mu." Tajam Gary.


" Iya iya, bye !."


Yuma pun ke luar dari restauran itu dengan menggunakan mantel Gary yang cukup besar sehingga menelan tubuh nya yang kecil, namun tetap terlihat cocok untuk tubuh Yuma.


Ekhemmm


Lamunan Gary dan juga Xian terganggu dengan deheman dari rekan nya.


" Pak, bagaimana rencana nya ? Apa kontruksi di gedung baru akan menambah anggaran ?." Perempuan itu yang biasa di panggil Lily pun melanjutkan percakapan yang sebelum nya terputus akibat keberadaan gadis asing.


Pembicaraan pun berlanjut di sertai dengan dentingan sendok.


...**...


Yuma kembali termenung di setiap malam nya, langit luas dengan suara bising dari kendaraan bermotor dan juga suara dari angin yang terus berhembus membuat nya terbiasa dan menjadikan hal ternyaman.


" Tuhan apa sekarang hidup ku sudah mulai baik-baik saja ? Terimakasih karena tak pernah enggan mendengar curahan hati ku." Yuma menghirup udara dalam-dalam, mata nya mulai basah namun tak sampai menangis.


Dengan senyum tegar, Yuma memeluk erat mantel milik Gary saat asap sudah mulai ke luar dari mulut nya dan itu menunjukkan jika suhu dingin telah melanda kota.


" Yuma."


Yuma menoleh ke belakang begitu tepat, senyum nya kembali terulas saat sosok Daniel berdiri tegap di hadapan nya.


" Daniel ?." Seru Yuma kembali bingung akan keberadaan Daniel.


" Uh kebetulan aku melintas bersama dengan Shen." Daniel menunjuk Shen yang tengah bersandar di badan mobil dan melambai ke arah nya.


" Ada apa ? Kau sendirian lagi di tengah malam seperti ini ? Bukankah sudah aku bilang jika beritahu aku jika kau membutuhkan teman bicara."


Daniel mengusap lembut pipi Yuma dan Yuma merasa hangat saat ini. " Tidak di rencanakan, aku hanya duduk sebentar di sini dan saat berniat pulang kau sudah lebih awal menemukan ku." Tutur Yuma.


Gadis itu begitu tulus, baik dan juga tegar, manik mata nya mengatakan itu bahkan dari sorot mata nya begitu bangga jika dia beruntung menjadi bagian dari tubuh Yuma saat ini.


" Kemari lah." Daniel menarik Yuma ke dalam pelukan nya dengan sangat lembut, sedangkan yang di peluk tengah keheranan saat ini.


" Hahaha aku baik-baik saja ! Kau ini kenapa ?." Geli Yuma melepas paksa pelukan itu dengan mimik wajah yang berseri.


...**...


Perlakuan Daniel setiap hari nya begitu lembut pada Yuma dan dia bahkan akan membela sosok Yuma di hadapan siapapun, sampai-sampai Mama Ella dan juga papa Chen begitu lega karena mereka berdua berpikir jika amarah Daniel sudah mereda dan tidak ada niatan untuk membalaskan dendam nya pada Gary melalui Yuma.


Namun tidak dengan Shen, dia semakin curiga dengan sikap Daniel, dia pun tak mendapati pergerakan dari Daniel terhadap Gary sampai dirinya lelah memperhatikan Daniel.


Shen pun kadang mendapati Daniel yang selalu berduaan dengan Xena, dengan sebotol wine menemani mereka. Sayang nya, Shen pun tak di beri celah akan apa yang tengah di rencanakan oleh Daniel.


Usia kandungan Erina sudah berusia tiga bulan dan mama Ella masih setia menemani Erina di Singapura tanpa berita negatif tersebar terutama di China.


...**...


Senyum Yuma mengembang sempurna, dia bermain air di pantai dengan sangat senang nya. Daniel, dia memeluk Yuma dengan lekat dari belakang tanpa ingin melepas gadis itu.


"Kau menyukainya?." Bisik Daniel.


" Eum ! Ini sangat menyenangkan Daniel." Sahut nya dengan tawa kecil di setiap ucapan nya.


Hati Yuma mulai terbuka kembali untuk seorang pria, Daniel begitu sabar dan lembut menghadapi nya, walau sebelum nya pernah melakukan kesalahan fatal namun hal itu seperti debu yang telah sirna dari permukaan dan Yuma pun seolah telah lupa dengan kejadian malam itu.


"Daniel coba kejar aku." Ronta Yuma karena melihat pasangan lain saling tangkap di sela lari pasangan nya.


" Tidak mau." Tolak Daniel.


" Daniel." Manja nya. " Ayo tangkap aku." Yuma perlahan berjalan mundur. Daniel kecak pinggang namun dengan wajah yang berseri. Topeng itu sangat baik di kenakan sampai-sampai orang di sekitar tertipu dengan baik nya.


Pasangan itu pun saling kejar di bibir pantai dengan pasir berwarna putih.


" Hahaha ini sangat menyenangkan." Senyum Yuma sangat indah, beban nya seakan hilang seketika. Mata elang milik Daniel menatap intens dengan rasa bercampur aduk di dalam hati nya.


" Eum ?." Yuma berusaha bertanya akan tatapan Daniel.


Cup..


Daneil mencium bibir ranum milik Yuma lalu melepas kembali dengan cepat.


Yuma tersenyum dan berjinjit untuk meraih bibir milik Daniel.


" Terimakasih." Ucap Yuma dengan tulus nya. Kehidupan nya mulai berwarna karena kehadiran Daniel dan dia bersyukur, Yuma harap ini akan menjadi kado terindah dari kehidupan kelam nya di masa lalu.


" Aku mencintai mu, Yuma." Daniel menarik Yuma ke dalam pelukan nya. Hatinya sakit mengatakan itu, dia sakit karena teringat akan menderita nya Erina saat ini.


" Aku rasa aku juga mencintai mu, Daniel." Sahut Yuma dengan senang nya.


" Ayo kita menikah."