
...***...
Jam tiga sore, waktu di mana jika penerbangan ke China sudah terjadwal dan akan lepas landas dalam beberapa menit lagi.
Satu koper di tarik Liam dengan Xiao Lin berada di antara Yuma dan juga dirinya membuat semua mata akan tertipu dengan pemandangan di depan.
"Gara-gara kamu kan kita hampir terlambat" Kesal Yuma.
Liam mendelik. "Kenapa jadi aku ? Kau yang macam-macam mau mampir ke toko kue dulu segala, jadi kan telat ! Belum juga di jalan macet, itu juga karena kamu terus marah-marah sepanjang perjalanan" Bela nya. Enak saja dia di salahkan saat ini.
Yuma menarik nafas kasar. "Apa hubungan nya macet dengan aku yang sedang marah-marah ? Tidak ada ya, enak saja !"
"Astaga Mama, Paman. Stop !" Jengah Xiao Lin dengan pertengkaran mereka. Pasti saja seperti ini, tidak dimana-mana pasti harus berantem. Itu pasti, tidak akan luput.
"Paman mu"
"Kenapa jadi aku ? Kau penyebab nya"
"Lah jadi aku ? Nyatanya kau yang lelet harus pilih-pilih baju segala. Cewe bukan!"
Lagi dan lagi di sela jalan, mereka kembali adu mulut.
"Astaga" Xiao Lin tepuk jidat.
"Mama ayo" Teriak Xiao Lin yang sudah berjarak dengan Ibu dan juga Paman nya.
Mereka pun serentak menoleh dan Xiao Lin menunjuk jam di tangan nya.
"Ayo"
Suara Liam melembut, merangkul pinggang Yuma dan tangan kiri menarik koper. Ternyata beberapa pasang mata menyaksikan pertengkaran mereka dan di akhiri dengan senyum menggelikan.
Mereka tidak tahu saja, jika objek yang di tatap bukan lah suami istri, jika tahu entahlah, entah apa yang akan mereka pikirkan.
"Sini dekat paman" Ucap Liam mengangkat Lin duduk di samping nya sedangkan Yuma duduk di dekat jendela pesawat.
Pesawat pun lepas landas di jam tiga lebih sepuluh menit. Penumpang pun duduk nyaman dan sibuk dengan pikiran masing-masing sampai tidak ada suara.
"Kenapa ?." Tanya Liam saat menangkap Yuma yang tengah menekan-nekan pinggang nya dan duduk tidak nyaman.
"Tidak! Hanya sedikit nyeri di pinggang. Tadi terlalu cepat melangkah jadi sakit pinggang nya!" Ucap nya dengan senyum menandakan jika dirinya baik-baik saja.
"Sini"
Liam menggapai pinggang Yuma melewati Xiao Lin karena Xiao Lin duduk di antara Liam juga Yuma.
"Aku baik-baik saja. Tidak apa !." Bohong nya.
"Mau Lin-Lin pijit, Ma?!." Xiao Lin menengadah menggapai mata Mama Nya.
"Tidak sayang, tidak perlu" Tolak Yuma.
"Diam lah ! Tidur saja dengan tenang," Liam mengusap sesekali memijit pinggang Yuma dan Xiao Lin tidur menyandar di dada Liam saat ini.
Sshh sangat-sangat harmonis terlihat, tapi nyata nya mereka bukan keluarga kecil yang di anggap keluarga bahagia. Bisa di katakan aneh, kenapa juga mereka tidak menikah, padahal sangat cocok.
Penerbangan dari Singapore ke China sekitar 2-3 jam, paling sampai di bandara internasional China pukul enam lebih an lah ya!.
...**...
"Bagaimana persiapan nya ?"
"Sudah matang. Paman Arya pun sudah memberikan hasil tes DNA tadi siang ! Jadi sudah di pastikan kebenaran akan menang bukan ?!." Tutur Shen dengan semangat. Daniel membenarkan baju nya dan duduk bersama mereka lebih dulu sebelum berangkat ke acara.
"Bisa bisa nya itu si Yuwen. Tch tch tch wanita ular, dasar!" Sarkas Erina.
"Ssst ah jangan kejam" Tegur Daniel namun di akhiri dengan smirk.
Persiapan aula untuk pers sudah selesai dan para reporter juga wartawan serta rekan yang lain siap dengan berita yang akan di dengar dari mulut seorang Daniel Chen.
Tidak pernah ada konflik apapun, sekalinya berkonflik pasti menggemparkan seisi penjuru negeri. Bukan nya apa, Presdir Chen Group itu masih berusia muda, wajah tampan dan berkarisma, terkenal juga dinginnya untuk itu siapa yang tidak mengenal nya.
Selama kurun waktu dia menjabat sebagai presdir memang benar jika semua media tidak mengetahui masalah percintaan Daniel. Mungkin sekarang karena Yuwen semua media memburu nya. Tidak ada yang tahu pula jika Daniel sudah menikah sebelum nya.
Yuwen pun sudah siap dengan riasan nya tinggal berangkat ke tempat konferensi. Gaun merah tua dan rambut di kepang satu semakin memperlihatkan leher jenjang nya.
"Mari nona Yuwen" Ucap asisten itu melebih-lebihkan . Yuwen melempar sunggingan nya seolah dia menang akan permainannya.
...**...
Tepat jam enam petang, Yuma dan Liam terlihat berjalan ke luar dari terminal satu bandara internasional China dengan Xiao Lin berada di pangkuan Liam.
"Kak Yuma" Teriak ribut Luna dan juga Anran dari pintu ke luar bandara. Mereka melambaikan tangan nya bersamaan dengan senyum lebar nampak bodoh.
"Lun, An!" Seru Yuma menyapa mereka berdua.
"Aaa kakak kau semakin cantik saja" Serempak mereka memeluk Yuma dengan erat tanda rindu itu akhirnya pecah.
"Bagaimana kabar kalian, eum ?" Yuma mengelus kepala mereka seperti yang biasa dia lakukan dulu.
"Baik kak, kami semua baik-baik saja dan keluarga kami juga baik-baik saja" Serobot Luma begitu semangat.
"Syukur lah kalau begitu. Kakak senang dengar nya!." Balas Yuma seraya bermimik lembut.
Liam tidak menimpali, dia hanya sibuk menepuk-nepuk punggung Xiao Lin dan koper di biarkan di samping nya.
"Kak dia Lin kecil kami itu, kan?!." Tunjuk Anran antusias.
"Iya"
"Ekheemm"
Dehem Liam, mereka bersamaan menoleh. "Berbincang nya mending di rumah saja, kasihan Lin kalau tidur seperti ini" Ucap Liam.
"Eughh"
Xiao Lin terganggu, dia sedikit mengangkat kepala nya dari pundak Liam.
"Kita sudah sampai ?" Tanya nya serak.
"Sudah sayang, ayo kita pulang ke rumah" Timpal Yuma.
"Rumah papa ?." Tanya nya polos. Atensi orang dewasa di sana seketika saling lempar pandang.
"Eum tidak sayang, kita pulang ke rumah dulu setelah kita mandi mama akan membawa mu bertemu papa ! Mau kan ? Kau juga masih ingat yang mama katakan di pesawat radi ?"
Tutur Yuma. Liam hanya menghembuskan nafas nya pasrah. Memang anak dan ibu dua-dua nya nakal.
Mereka pun berlalu pergi meninggalkan area bandara menuju apartemen Yuma yang dulu. Anran dan Luna sudah membersihkan nya atas perintah Yuma dan mereka pun sudah tahu tentang Xiao Lin.