
...*...
Kedatangan Shen seketika menggemparkan perusahaan Zhao, belum juga masalah satu selesai, masalah lain muncul dalam sangka mereka. Secara mendadak dalam perusahaan Zhao, karyawan tengah menduga akan kedatangan Shen.
Shen dengan cepat menuju ke ruang kantor presdir yang di mana di sana ada Xian.
"Maaf, apa tadi Yuma berkunjung ke sini ?." Bukan nya kurang ajar tapi keadaan sudah sangat genting. Shen mendorong tanpa peringatan. Xian yang hendak berdiri pandangan nya teralihkan akan kedatangan Shen.
"Yuma ?." Ucap Xian mengulangi dengan kerutan kening nya dan berdiri sempurna. Baju kemeja navy yang dia pakai sudah terbuka di bagian dada, terlihat kacau dan mengenaskan, mungkin Xian sedang banyak pekerjaan.
Shen segera mendekat, dia berdiri di depan Xian dengan nafas nafas naik turun.
"Itu, maaf saya tidak bermaksud tidak sopan tapi ada hal penting yang ingin saya tanyakan pada anda." Ucap Shen. Xian mempersilahkan duduk walau dengan kebingungan menyelimuti sampai berburuk sangka begitu saja.
"Yuma ? Ada apa dengan adik saya ? Tadi saya jika tidak salah dengar...."
"Iya betul," Tukas Shen sebelum Xian hendak menyelesaikan kalimat nya.
"Apa kakak ipar ada berkunjung ke sini ? Atau tidak menghubungi mu ?!."
Xian langsung mengerti, namun seketika dia menatap selidik.
"Dia tidak ke sini tapi tadi menghubungi dan dia sedang menuju ke toko kue, setelah itu tidak ada kabar lagi ! Ada apa ya ?."..
Xian mulai serius, kaki nya menyilang, mata menatap tajam pada Shen. Pria itu tak bereaksi lagi dan menunggu tujuan kedatangan Shen.
" Kakak ipar tidak bisa dihubungi, di toko pun tak ada, di rumah pun tidak ada,"
"Jadi ?." Mode seorang kakak dari Xian tengah menjadi, aura tekanan di dalam ruangan mulai berat.
Ekhem
Shen pun sampai harus menelan ludah kasar demi menstabilkan kecanggungan nya .
"Kak aku sedang serius ini, jangan melihat ku seperti itu !." Rajuk Shen nyengir dengan mimik wajah canggung.
Xian menaikkan satu alis nya. "Jadi ?."
"Jadi kakak ipar tidak ada kabar, kami sangat khawatir,"
"Mama terus menangis sedangkan Daniel baru pulang mencari nya ke mana-mana tapi masih tidak ditemukan, tidak ada yang tahu juga dia kemana."
Ucap Shen
"Yuma bukan wanita yang suka merajuk, dia juga tidak buka tipe wanita yang sering marah-marah apalagi pergi tanpa kabar,"
"Jadi apa yang terjadi ?." Tekan Xian.
"Kita cari kakak ipar dulu, nanti kami jelaskan ! Daniel akan menjelaskan nya jika kalian ingin tahu, tapi bisakah jangan beritahu keluarga nya dulu ?."
"Kita cari masing-masing." Xian beranjak berdiri meninggalkan Shen yang masih duduk karena pergerakan Xian benar-benar cepat dan kini tidak berada lagi di sekitar nya.
"Astaga Daniel ini semua gara-gara kau ! Pokok nya aku tidak mau terlibat, titik !." Shen mengutuk Daniel di setiap langkah nya, dia pun kembali mengemudikan mobil nya dan hal itu tidak luput dari perhatian karyawan di perusahaan itu.
...**...
Gary, dia masih sibuk bekerja bersama dengan rekan-rekan nya dan berencana akan mengunjungi Erina setelah pekerjaan nya selesai.
"Tinggal tahap akhir, untuk itu saya serahkan kepada kalian ! Jika ada yang perlu di diskusikan ataupun bantuan, langsung hubungi saya,"
"Saya harap akan selesai tanpa cacat dan untuk kalian tolong jaga kesehatan,"
"Saya tinggal jika tidak ada yang perlu di tanyakan."
Gary pun pergi, para rekan nya kembali duduk setelah selesai dengan meeting mendadak dari yang di rencanakan. Untung saja kinerja mereka bukan abal-abal, langsung terbentuk saat itu juga.
Di lain sisi, Erina masih di sibukkan dengan tugas nya sampai-sampai makan dan minum pun bisa sambil berjalan atau pun sambil memeriksa tugas nya.
Beda dengan Yuma, wanita itu baru saja sampai di bandara internasional Singapura.
Taksi di depan sudah menunggu dan Yuma pun masuk tanpa membuang waktu.
"Pak ke jalan xxxx." Ucap Yuma, sopir itu mengangguk paham dan langsung melaju ke tempat tujuan.
Telapak tangan Yuma basah, dia merogoh tisu kecil dari dalam tas nya dan mengelap dengan begitu menekan.
Nafas nya berat, kepala nya pusing, tubuh nya lelah dan sedikit bergetar.
Kedua bola mata berwarna sedikit biru itu menyapu bersih pemandangan kota namun pikiran nya tak berada di tempat. Pikiran nya terlalu rumit sehingga dengan tanpa terasa menjerat setiap urat kecil dalam kepala.
Wanita itu nampak lelah namun tidak bisa untuk di perlihatkan, dia bertekad untuk menyelesaikan masalah nya dan itu perlu keberadaan orang nya agar tidak hanya nama nya saja yang terlibat, namun raga nya pun jelas, tak terbayang lagi.
jari telunjuk menjadi korban gigitan nya, walau tidak keras namun cukup mengilukan.
"Bukan cinta, aku paham sekarang ! Ternyata aku masih bodoh dalam hal cinta." Gumam nya getir. Sopir itu sesekali melirik Yuma tanpa berani bertanya.
Mata nya mulai panas, ingin sekali dia menangis dengan keras namun sepertinya alam pun sedang tak berpihak pada nya. Bukan hanya saja alam namun bumi pun sama.
"Maafkan aku." Ucap nya pelan. Air bening pun menetes dari sudut mata Yuma. namun segera dia seka kembali, tersisa ingus yang masih terdengar.
"Sudah sampai, non." Ucap pak sopir. Yuma terganggu dan setelah melihat sekeliling baru sadar.
"Terimakasih ya pak." Wanita itu pun melihat ke segala arah mengamati sekitar hotel.
Tanpa ragu, Yuma masuk ke dalam menuju kamar hotel milik Gary , namun sebelum itu dia menuju resepsionis.
"Yuma ?."